Rabu, 20 Maret 2013

Tahap-Tahap Kesombongan

Ajaran Rohani St. Bernardus dari Clairvaux
(Ditulis kembali dari kaset pengajaran Rm Yohanes Indrakusuma, O.Carm oleh Fr Serafim Maria, CSE) 
Edit oleh yesaya.indocell.net 
 


 


Pengantar

Ajaran rohani ini diberikan oleh St Bernardus dari Clairvaux, seorang abbas Biara Cistersian yang termasyhur. St Bernardus terkenal karena kefasihannya berbicara mengenai perkara-perkara rohani. Ia memiliki hati yang lemah lembut dan penuh kasih. Pada suatu hari, ia menyampaikan khotbah yang begitu memukau kepada para rahibnya; sementara ia berkhotbah sekonyong-konyong terjadilah banjir. Yang mencengangkan, para rahib begitu terpukau oleh khotbahnya hingga mereka tak menyadari bahwa banjir telah masuk ke dalam kapel!

St Bernardus memiliki karisma untuk menghancurkan jerat-jerat iblis yang berusaha menjerat setiap orang yang ingin bertumbuh dalam kerendahan hati, supaya orang tidak jatuh dalam dosa kesombongan. Atas permintaan seorang rahib, St Bernardus mulai menguraikan keutamaan kerendahan hati dan dosa kesombongan. Ia menguraikan tahap-tahap kesombongan, di mana orang mulai turun dari kerendahan hati dan mulai naik pada tingkat-tingkat kesombongan, dan perlahan-lahan orang sampai pada dasar jurang kesombongan. St Bernardus membagi tingkat-tingkat ini menjadi duabelas tingkat atau tangga kesombongan yang menghantar manusia menuju kehancuran jiwanya.

Dua Belas Tangga Kesombongan menurut St Bernardus :

 Tangga Pertama: Rasa Ingin Tahu

St Bernardus memberikan tanda-tanda yang terjadi pada seorang rahib. Karena ia hidup di tengah para rahib, maka contoh yang diberikan adalah para rahibnya sendiri. Akan tetapi, hal ini juga bisa terjadi pada semua orang dewasa ini. Coba perhatikanlah seorang rahib yang baik, lalu rahib ini mulai membiarkan matanya berkeliaran ke mana-mana dan tidak mengekang matanya; apapun yang dilakukannya, entah dia berdiri atau berjalan, bahkan sementara ia duduk matanya berkeliaran ke mana-mana. Ia membiarkan pancainderanya melihat dan mendengar apa saja. Begitu besar rasa ingin tahunya hingga telinganya seolah bagai telinga seekor anjing. Sikap fisik sang rahib dikatakan oleh St Bernardus mengalami perubahan akibat perubahan yang terjadi di dalam batinnya. Ia seringkali mengedipkan matanya, seperti dikatakan dalam Amsal 6:13, yang mengedipkan matanya, yang bermain kaki dan menunjuk-nunjuk dengan jari. Sikap badan seperti ini telah mempengaruhi jiwanya, dan menjalar ke dalam jiwanya. Orang seperti ini tak lagi mengintrospeksi diri atau mengadakan pemeriksaan batin terhadap dirinya sendiri, tetapi sebaliknya mulai memeriksa orang lain. Karena tak mengenal diri sendiri, maka ia cenderung mengamati orang lain. Dalam hal ini Kidung Agung mengatakan: “Orang disuruh memelihara kambing-kambing” (bdk Kidung Agung 1:8). Kambing-kambing ini dimaksudkan sebagai dosa. Secara khusus, yang dimaksudkan menjaga kambing adalah mata dan telinga. Mata dan telinganya diarahkan kepada segala sesuatu yang menghantar kepada dosa. Karena kematian masuk ke dalam dunia melalui dosa, demikianlah dosa masuk melalui mata dan telinga. Dikatakan dalam suatu adagium atau amsal bahwa impian masuk ke dalam jendela manusia adalah melalui mata dan telinganya.

“Jika engkau memperhatikan dirimu dengan sungguh-sungguh, maka engkau tidak akan mempunyai waktu lagi untuk memperhatikan hal-hal lain yang sia-sia; terlebih-lebih jagalah hatimu” seperti dikatakan Amsal 4:23, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. Dengan kata lain, jagalah pancainderamu demi menjaga sumber kehidupan.

Seseorang yang dikuasai oleh rasa ingin tahu yang sia-sia, tidak bisa lari dari dirinya sendiri. Oleh karena itu, ia juga tidak bisa mengarahkan matanya ke langit untuk memohon bantuan Tuhan. Kita harus sadar bahwa manusia itu adalah debu dan abu, seperti dikatakan dalam Kejadian 3:19, dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” Melalui kesadaran yang demikian dimaksudkan agar kita tidak jatuh dalam kesombongan. Bila sadar akan hal tersebut, kita dapat mengarahkan mata ke surga dan kepada Tuhan. Karena manusia dewasa ini hanya memandang ke bawah dan tidak pernah mengarahkan mata ke surga, seperti seekor ayam yang terus-menerus mencari cacing makanannya.

Jika sungguh menyadari bahwa kita ini hanyalah debu, maka kita akan mengangkat hati kepada Tuhan untuk meminta pertolongan dari-Nya. St Bernardus memberikan contoh yang menarik, yakni tentang Hawa yang jatuh ke dalam godaan yang besar, mula-mula hanya karena “kuriositas” atau rasa ingin tahu yang pada akhirnya membuatnya jatuh ke dalam jerat si iblis. Mengenai Hawa dikatakan, “Bagaimana engkau, hai Hawa, engkau telah ditempatkan di taman Eden supaya engkau bekerja bersama dengan suamimu dan memelihara dia. Seandainya engkau melakukan tugasmu dengan baik pastilah engkau akan pergi ke tempat yang lebih baik. Engkau diberi ijin untuk makan dari segala buah, hanya saja tentang pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, tidak boleh engkau makan. Pohon-pohon lain sudah cukup baik bagimu, mengapakah engkau masih makan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat? Janganlah berpikir tentang dirimu lebih daripada kenyataannya.” St Bernardus mengutip Roma 12:3, Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.”

Seringkali kita berpikir bahwa diri kita lebih baik daripada kenyataannya, tetapi sesungguhnya “Bijaksana dalam kejahatan adalah kebodohan. Peganglah apa yang telah dipercayakan kepadamu dan tunggulah apa yang dijanjikan kepadamu. Jauhkan dirimu dari apa yang dilarang dan engkau tidak akan kehilangan apa yang engkau telah miliki.” St Bernardus mengatakan bahwa dengan menjauhkan diri dari apa yang dilarang, kita tidak akan kehilangan apa yang sudah kita miliki. Mengapalah engkau mencari kematian? Mengapalah matamu tidak kau kekang dengan baik? Kalau tidak boleh makan buah itu, kenapa melihatnya? Gambaran St Bernardus sungguh nyata seperti Hawa yang tergoda dan makan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Seolah Hawa mengatakan, “Hanya melihat-lihat, tetapi tidak menyentuhnya.” Semula hanya melihat-lihat dan tidak menyentuhnya, namun dari rasa ingin tahu perlahan-lahan pada akhirnya tergoda dan makan buah itu. Mulailah manusia jatuh ke dalam dosa akibat rasa ingin tahu yang berlebihan.

Timbul suatu pembelaan diri yang lain: “Mengapakah tidak boleh melihat, bukankah Tuhan telah memberikan mata untuk melihat?” Akan tetapi, yang benar ialah mata harus digunakan untuk melihat yang baik dan bukan untuk melihat yang buruk dan jahat. St Bernardus mengutip yang dikatakan St Paulus, Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun” (1 Korintus 6:12). Semuanya boleh, tetapi tidak semuanya berguna. Pandangan itu bukanlah dosa, tetapi dosa mengintip di belakangnya. Oleh karena itu, jika kita memperhatikan diri kita sendiri dengan baik, yaitu dengan mengarahkan hati kepada Allah untuk memperbaiki diri, maka kita tidak akan punya waktu untuk keingintahuan yang sia-sia. Pandangan itu seperti pandangan Hawa yang memandang itu sebagai bukan dosa, tetapi dapat membawa kepada dosa dan de facto membawa kepada dosa.

Karena Hawa mulai memandang buah itu, setan mulai menggoda dengan licik dan berkata, Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan? (Kejadian 3:1). Seolah setan menjatuhkan Allah dengan mengatakan apa yang disebut sebagai “separuh kebenaran”; jadi yang dikatakan sebagian ada benarnya, tetapi yang lainnya adalah kebohongan. Setan menyatakan bahwa Allah itu jahat dan semua buah-buah yang baik itu tidak boleh dimakan manusia, tetapi Hawa menjawab: Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati (Kejadian 3:2-3).

Hawa mulai berdialog dengan si penggoda, disinilah kesalahannya; Hawa mulai mengikuti godaan dengan melihat, lalu memandang buah itu, dan mulai melupakan perintah Allah untuk tidak memakannya. Lagipula keindahan dan kelezatan buah itu mengundang seleranya hingga akhirnya Hawa jatuh ke dalam dosa dengan mengambil dan memakan buah itu. Maka jika ada godaan-godaan, kita harus menghentikannya segera dan tidak berdialog dengan godaan tersebut. Kita tahu kelihaian setan yang tahu kelemahan manusia; ia tidak menggoda secara langsung tetapi perlahan-lahan, sedikit demi sedikit hingga manusia jatuh ke dalam dosa. Maka setan telah memberikan buah terlarang kepada Hawa dan mengambil kehidupan dalam diri Hawa, semacam pertukaran seperti yang dikatakan oleh St Bernardus, “Lihatlah Hawa, ia memberikan apel tetapi setan telah mencuri kehidupan di taman Firdaus itu.” Hawa telah makan racun dan mati, oleh karena itu Hawa menjadi ibu orang yang binasa, artinya ia jatuh ke dalam dosa.

 Tangga Kedua: Pikiran dan Sikap yang Sembrono

Rahib yang tidak memperhatikan dirinya sendiri, melainkan ingin tahu tentang orang-orang lain, perhatiannya tidak terarah kepada Allah yang hadir dalam dirinya, tetapi perhatiannya tercerai-berai keluar. Ia lebih senang memperhatikan orang lain. Rahib ini mudah iri hati jika melihat orang lain lebih baik daripadanya, dan meremehkan orang lain yang dianggapnya lebih rendah darinya. Pikirannya kosong karena tidak ada hal baik yang dipikirkannya, ia sering menghakimi orang lain, bahkan pikirannya melayang-layang tinggi karena kesombongannya, dan di saat lain ia tenggelam dalam kedengkian dan iri hati. Terkadang ia menunjukkan kesedihan atas kesalahan-kesalahannya, tetapi di lain waktu ia berbangga-bangga akan kehebatannya seperti anak kecil. Dengan kata lain, ia menyatakan kelemahan di dalam kebajikan dan ini merupakan kesombongan di dalam kebajikan-kebajikannya.

Semua itu menunjukkan tanda-tanda kesombongan karena ia mencintai kebaikannya secara berlebihan sehingga ia menghargai kehebatan dirinya. Maka ia bersedih hati jika melihat orang lain lebih baik daripada dia. Sebaliknya, ia akan bergembira yang sifatnya dangkal jika ia bisa mengungguli orang lain. Suatu saat rahib ini akan diam dengan sedih, namun di lain waktu akan berbicara terus dengan omong-kosong yang tiada habis-habisnya, dan ini menunjukkan kepribadiannya yang tidak seimbang.

 Tangga Ketiga: Suka Bersenang-senang

Tangga ketiga ialah suka bersenang-senang. Orang ini selalu mencari kesenangannya dan menghindari kesusahan. Seperti itulah rahib yang telah turun ke tangga ketiga. Setiap kali melihat kebaikan pada orang lain, ia tidak senang, karena kebaikan yang dijumpai pada orang lain itu merendahkannya. Orang seperti itu tak segan-segan meremukkan dan menghancurkan orang lain yang mulai tumbuh; hal ini seringkali terjadi, bahkan terjadi di mana-mana, kerap pula terjadi dalam biara. Perhatiannya hanya terarah pada bagaimana ia bisa tampak lebih baik dari orang lain. Ia tak mau merasa gagal atau direndahkan, karena itu ia melarikan diri dalam hiburan-hiburan palsu. Ia tidak memperhatikan keadaannya sendiri, juga tidak memperhatikan kehebatan orang lain. Seluruh perhatian hanya diarahkan kepada hal-hal dimana ia tampaknya lebih baik dari yang lain. Ia tidak lagi bersedih hati, yang ia tahu hanya bergembira. Pada akhirnya, kegembiraan yang dangkal dan bodoh ini menguasainya.

Orang ini tak lagi mengeluh atau bersedih, tetapi sudah melupakan kesalahan-kesalahannya. St Bernardus mengatakan orang ini bertindak seperti seorang badut. Ia seperti pelawak yang memperhatikan penampilannya. Ia selalu siap untuk membuat lelucon dan tidak pernah melewatkan kesempatan tanpa tertawa; selalu menarik perhatian untuk tertawa dan membuat lelucon-lelucon. Ia tak pernah mengingat-ingat sesuatu yang merendahkan dia dan karena itu tak pernah memikirkan kegagalan atau apapun. Sebaliknya, orang seperti ini hanya mengarahkan pandangannya kepada jasa-jasanya sendiri dan senang sekali membicarakan dirinya sendiri. Dia hanya berpikir mengenai hal-hal yang menyenangkan dan tidak menahan tawanya atau menyembunyikan kegembiraannya yang bodoh itu. St Bernardus melambangkan orang pada tahap ini seperti balon yang besar, namun bila ditusuk cepat mengempis. Inilah gambaran orang yang mengisi pikirannya dengan sesuatu yang kosong dan murahan.

 Tangga Keempat: Suka Membual

Orang ini tidak tahu bahwa ia memancarkan kebodohan, namun hanya tertawa saja. Ia seperti anggur yang dimasukkan ke dalam kerbat kulit yang siap meledak. Orang ini harus berbicara, jika tidak ia akan stress. Ia mencari orang-orang untuk mendengarkan obrolannya supaya ia dapat menyalurkan sesuatu dalam dirinya. Seperti anggur dalam kerbat yang mengalami proses fermentasi harus dikeluarkan, demikian juga orang ini harus berbicara, jika tidak ia akan stress. Dengan berbicara, ia dapat mencurahkan perasaan-perasaannya dan supaya orang tahu betapa hebatnya dia. Jika orang ini mempunyai kesempatan untuk berbicara, ia akan mengungkapkan ide-ide dan gagasan-gagasannya supaya pada akhirnya orang tahu bahwa ia hebat. Ia melakukannya demi mendapatkan pujian.

Pada umumnya ia tidak pernah bisa mendengarkan orang lain; jika orang mulai berbicara sudah dipotongnya untuk mendengarkannya. Ia senang memberikan nasehat-nasehat. Orang seperti ini suka melontarkan pertanyaan-pertanyaan dan dijawabnya sendiri. Orang seperti ini tidak peduli dan tidak berminat untuk menambah pengetahuan orang lain, tetapi lebih-lebih hanya untuk membual tentang dirinya sendiri demi bahwa dia itu hebat.

Dalam biara, dijumpai seorang rahib yang senang sekali berbicara mengenai puasa dan matiraga. Akan tetapi, hidup doanya dilakukan hanya untuk dilihat orang saja. Ia suka bercerita mengenai pengalaman rohani, visiun-visiun dan sebagainya. Rahib ini suka mengatakan betapa pentingnya berjaga-jaga dalam doa dan berbicara tentang macam-macam kebajikan, tetapi semuanya itu bukan dari hati yang tulus, melainkan untuk mendapatkan pujian. Orang seperti ini hanya ingin dipuji supaya sesuai dengan Kitab Suci, yakni `ia berbicara dari kelimpahan hatinya'. Ia selalu pandai berbicara supaya dikagumi orang lain, seringkali percakapan-percakapannya dilebih-lebihkan.

 Tangga Kelima: Suka Berbuat Aneh

Orang ini membanggakan diri seolah ia lebih baik dari orang lain dan ingin melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan orang lain, agar lebih lagi tampak bahwa ia lebih “superior”. Peraturan yang biasa dari biara dan teladan dari yang berpengalaman tidaklah cukup baginya. Orang ini tak ingin menghayati hidup yang lebih baik, tetapi ia ingin tampak lebih baik dari yang lain-lain. Semua dilakukannya dengan tujuan agar tampak lebih baik, agar “aku tidak seperti orang-orang lain.” St Bernardus mengutip perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai. Orang Farisi berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu ya Tuhan, aku tidak seperti orang-orang lain, seperti pencuri, perampok dan sebagainya. Aku berpuasa dua kali seminggu; aku memberi persepuluhan,” dan mulai memuji dirinya sendiri. Orang ini seperti orang Farisi di atas, selalu memandang diri hebat. Misalnya, jika dalam biara orang makan tiga kali sehari, ia hanya makan satu kali saja, tetapi di lain kesempatan, ia makan lagi tanpa sepengetahuan orang lain. Atau jika ada orang yang berpuasa, ia tidak mau kalah dengan terus berpuasa mengalahkan yang lain. Motivasinya berpuasa `sudah lain arahnya'; berpuasa bukan untuk menguasai diri, tetapi supaya dikagumi orang. Orang ini lebih takut kehilangan penghargaan daripada lapar; `lebih baik lapar daripada tidak dihargai'.

St Bernardus mengatakan, orang pada tahap ini “tidak bisa melihat muka yang dilihat orang lain, melainkan memeriksa tangannya yang dapat dilihatnya” yang hanya melihat kelebihan-kelebihannya saja. Orang seperti ini senang melakukan devosi-devosi pribadi agar kelihatan saleh, tetapi ia malas dalam ibadat bersama. Ia akan berjaga-jaga di kamarnya, tetapi tidur di dalam kapel. Apabila yang lain mendaraskan mazmur, ia tidur. Akan tetapi, apabila ada rahib yang lewat, ia akan berdoa sendiri, sedangkan yang lain sudah mulai tidur. Sementara berdoa, ia akan seringkali berdehem-dehem atau terbatuk-batuk atau juga mendesah, hingga mereka yang lewat tahu ia sedang berdoa. Agar sesuai dengan yang dikatakan Injil, “Jika dalam perjamuan, janganlah mencari tempat yang terdepan, melainkan yang terbelakang,” maka ia akan mencari tempat yang pojok atau belakang supaya orang melihat bahwa ia rendah hati. Itu semua dilakukannya demi mendapatkan reputasi yang baik, dikagumi oleh orang lain. Tetapi orang yang bijaksana tidak akan mudah tertipu, karena yang utama adalah tumbuh dalam kerendahan hati dalam iman, pengharapan dan kasih.

 Tangga Keenam: Suka Menerima Sanjungan

Ia suka sekali dipuji dan disanjung; jika dipuji orang, semuanya ditelan bulat-bulat. Orang ini pun memuji pekerjaannya sendiri tanpa memperhatikan apa motivasinya. Semua sanjungan diterimanya dengan lahap. Ia lebih percaya pada pandangannya sendiri daripada pandangan orang lain. Jika orang mempunyai pandangan lain terhadap dirinya, meski suara hatinya mendakwanya, ia akan mengabaikan suara hatinya. Jika pembimbing rohani mengatakan ia sombong, ia tidak akan menerimanya. Jika dipuji dan disanjung, ia mulai besar kepala atau `berbinar-binar matanya'. Apabila suara hatinya menuduh, ia tak akan mempercayainya dan menganggap pujian orang banyak itu benar, dan ia mengabaikan suara hatinya.

Ia menganggap dirinya superior karena penghayatan religiusnya yang baik, yang dihayati bukan karena ibadat yang sejati melainkan untuk “show atau pamer”. Orang ini tidak hanya berbicara tentang dirinya sendiri, tetapi di dalam hati ia percaya dirinya sendiri lebih dari orang lain. Ada juga kelompok tertentu yang membuat pujian atau sanjungan kosong. Kelompok yang melakukan ini jahat, karena dapat menjatuhkan orang yang dipujinya. Untuk itu jangan mudah menyanjung orang, karena sebenarnya memberikan racun, bukan melakukan yang baik. Bagi orang yang rendah hati sanjungan itu tidak ada artinya, tetapi yang mulai menyanjung itu mulai menjatuhkan orang. Dan orang yang pada tahap ini, dengan sombongnya menyatakan “saya patut dipuji”, orang ini akan jatuh ke tangga keenam dan semakin turun lagi ke tangga ketujuh.

 Tangga Ketujuh: Kecandangan atau Presumsi

Bila seseorang mengira bahwa ia lebih baik dari orang lain, maka ia akan berusaha tampil ke depan umum agar selalu menjadi yang nomor satu dalam pertemuan ataupun diskusi. Seringkali tanpa diundang datang ke suatu pertemuan, dan kalau ada persoalan atau diskusi yang sudah selesai, ia akan mengungkit-ungkit lagi dan membahas hal-hal yang sudah selesai. Karena ia menganggap tidak ada sesuatu yang baik, semuanya dicela bahkan ia berani mengkritik orang-orang yang tidak melakukan apa yang tidak ia lakukan. Orang ini berani juga mengkritik orang-orang yang duduk sebagai pengambil keputusan atau bahkan hal apapun selalu dikritiknya. Pada jaman kita, orang seperti ini begitu sombongnya bahkan menyatakan dirinya lebih hebat dari Paus, hingga kalau Paus berbicara selalu dikritik habis-habisan untuk menunjukkan `saya tahu atau saya hebat'. Bukan hanya Paus, semua orang dikritik habis-habisan; ia juga mengkritik apa yang dikerjakan orang lain dan sebagainya.

Jika diberi tugas yang tak begitu penting, ia akan marah dan memberontak. Ia mengambil tugas-tugas yang melampaui kekuatannya hingga akhirnya ia melakukan kesalahan-kesalahan. Dengan demikian, pimpinanlah yang bertugas untuk menegur dia, tetapi umumnya orang seperti itu tak akan mau mengakui kesalahannya. Jika ditegur, ia tak akan terima teguran tersebut. Apabila kepadanya ditunjukkan kesalahannya, maka ia semakin menjadi-jadi. Jikalau seseorang berusaha mencari-cari dalih, maka ia sudah di tangga ke delapan.

 Tangga Kedelapan: Pembelaan atau Pembenaran Diri

Pembenaran diri sebenarnya membela kesalahan; orang membela diri artinya membela kesalahan. Tidak mau mengakui kesalahan melainkan membela diri, inilah tangga yang kedelapan. Banyak sekali cara untuk melakukan pembelaan diri yang sebenarnya merupakan pembelaan terhadap dosa. Orang ini bisa mengatakan `saya tidak melakukannya' terhadap suatu kesalahan atau kelalaian yang ia perbuat dan menyalahkan orang lain. Jika ia berbuat salah dan dipersalahkan, ia tidak terima; ia berputar-putar untuk membenarkan diri. Jika ia melakukan kesalahan besar, orang ini akan memberikan alasan bahwa ia tidak bermaksud melakukan kesalahan itu. Ini merupakan pembelaan terhadap kesalahan, dan bukannya membela kebenaran. Jika ia tidak bisa lolos, seperti Adam dan Hawa yang “tertangkap basah” melakukan dosa, maka orang-orang ini akan saling menyalahkan dan tidak berani bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuatnya.

Orang ini selalu mengatakan bahwa ia digoda oleh orang-orang lain dan tidak merasa malu melakukan kejahatan tertentu, bahkan kalau `ketahuan' ia berusaha membela atau menutupinya. Jika terjadi dalam biara, ia tidak terbuka kepada pemimpin atau pembimbing rohaninya, sehingga orang ini sulit ditolong apabila jatuh dalam kelemahannya. Kalaupun ia mengaku dosa, ia mengakukan dosa pada orang yang tak dikenal, itupun seringkali ditutupinya. Bila mengalami godaan-godaan ia tidak akan membicarakan pada pembimbingnya karena takut nilainya akan turun.

 Tangga Kesembilan: Pengakuan yang Tidak Jujur

Yang dimaksud di sini ialah orang melakukan pengakuan pura-pura supaya dilihat rendah hati, tetapi sebenarnya menunjukkan kesombongan yang lebih besar. Pengakuan ini lebih berbahaya daripada membela kesalahan dengan keras kepala. Ada orang-orang tertentu yang ditegur karena perbuatan-perbuatan salah dan tidak bisa menghindar sebab faktanya sangat jelas. Orang ini memberikan dalih-dalih yang tidak bisa diterima lalu mencoba mencari jalan keluar dengan pembelaan diri yang cerdik, yaitu menjawab dengan pengakuan yang sombong. St Bernardus mengatakan, “Wajahnya akan menjadi sedih dan kemudian membungkuk sampai mencium tanah”; bahkan ia sampai mencucurkan air mata, supaya dilihat orang ia sedang bertobat dengan penuh kesungguhan.

Mereka memberikan penjelasan, diselingi dengan seruan mengaduh seolah-olah ia sungguh menyesal. Orang seperti ini tidak berusaha membela kesalahan, tetapi justru melebih-lebihkan kesalahannya. Kemudian ia mengakukan kejahatan seolah-olah kesalahan yang dilakukannya tersebut tidak dapat diampuni, sehingga orang yang menegurnya menjadi bingung karena timbul suatu pertanyaan, “Benarkah ia melakukan kesalahan itu, mungkinkah tuduhan itu keliru?” Orang ini berusaha menutupi kejahatan mereka dengan pengakuan palsu. Pada waktu berbicara, pengakuannya patut dipuji, tetapi sebetulnya ia menutupi hati yang jahat. Selanjutnya, orang yang mendengarkan pengakuannya dapat berpikir apa yang dikatakannya tidak terlalu tepat tetapi mengagumi kerendahan hatinya, sehingga dia teringat akan sabda Kitab Suci, “orang benar menjadi pendakwa bagi dirinya sendiri,” artinya menyadari dosanya dan mendakwa dirinya sendiri di hadapan Allah.

St Bernardus mengatakan, “Di hadapan manusia orang itu lebih senang diadili bahwa ia tidak benar daripada dipandang tidak memiliki kerendahan hati, tetapi dalam pandangan Allah ia tidak memiliki kedua-duanya.” Tidak ada kebenaran dan tidak ada kerendahan hati di dalam hatinya; ia sungguh-sungguh bersalah dan tidak dapat menutupi kesalahannya, namun ia mencoba untuk mengambil sikap bertobat, tetapi bukan dengan hati yang sungguh bertobat. Semua pertobatannya hanyalah sandiwara belaka. Orang ini berharap kesalahannya dilupakan orang, supaya dianggap orang ia itu memiliki kerendahan hati mau mengakui kesalahan-kesalahannya, tetapi sebetulnya semua hanya sandiwara. Hal itu tidak datang dari hatinya, selain itu dosanya tetap tinggal dalam dirinya. Di sini kesombongan memakai topeng kerendahan hati supaya tidak diketahui orang lain dan disebut kerendahan hati yang menggelikan. Seorang abbas yang bijaksana akan cepat mengetahui hal ini karena ia tidak mau ditipu dalam permainan kerendahan hati yang palsu. Abbas akan segera mengambil tindakan untuk menjatuhkan hukuman atau penitensi untuk kebaikan umum demi pertobatan orang itu sendiri. Orang itu tidak akan bisa terima, namun dari pihak lain ia akan berusaha untuk menerima dengan tenang; ia akan mencoba menunjukkan bahwa ia seorang yang rendah hati, padahal hanya “suatu kepura-puraan saja”. Orang ini tidak bisa menerima dan merasa diperlakukan tidak adil oleh pimpinan dan ia mulai mengeluh. Dalam hal ini, ia tidak berada dalam kerendahan hati, melainkan ia sudah jatuh ke dalam tangga kesembilan, yakni pengakuan yang tidak benar. Orang seperti ini merasa bahwa orang lain tidak percaya kepadanya dan usaha sandiwaranya diketahui, maka ia akan mulai berontak dan jatuh ke dalam tangga pemberontakan.

 Tangga Kesepuluh: Pemberontakan

Hanya rahmat Tuhan yang besar saja yang dapat memberikan kepada orang ini kemampuan untuk menerima hukumannya dengan tenang. Akan tetapi, bagi orang seperti ini akan sangat sulit sekali. Kadang terjadi, apabila sudah terdesak ia bertobat; dan memang terjadi bahwa dengan teguran yang keras orang bertobat atau sebaliknya ia memberontak sampai pada tahap ini. Jika sebelumnya ia memperlakukan saudara-saudaranya dengan kesopanan yang pura-pura, sekarang ia terang-terangan menyatakan ketidaktaatan dengan meremehkan wibawa pimpinan.

Menurut St Bernardus, tangga-tangga yang dibagi menjadi duabelas tangga sebetulnya dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama ialah keenam tangga pertama di mana dijumpai adanya penghargaan yang kurang terhadap saudara-saudara atau memandang remeh saudara-saudara yang lain. Kelompok kedua ialah empat tangga berikutnya, ia mulai meremehkan kewibawaan, dan kelompok ketiga, yakni dua tangga terakhir, mengandung unsur penghinaan kepada Allah.

St Bernardus mengatakan bahwa seseorang sebelum masuk biara harus memiliki kerendahan hati yang melawan kesombongan ini. Jika seseorang masuk ke dalam biara, ia harus mempunyai kerelaan untuk taat, jika tidak, ia tak dapat masuk biara. Orang yang mencintai Allah harus sungguh taat dan dengan segenap hati patuh kepada pimpinan. Di dalam ketaatan kepada Allah melalui pemimpinnya dan pembimbing rohaninya orang tersebut dibentuk dan bertumbuh dalam kerendahan hati sejati. Akan tetapi, jika seseorang mulai meremehkan pimpinan, ia akan mudah jatuh dalam kelemahannya. Salah satunya ialah membuat skandal dalam biara. Artinya ia melakukan tindakan-tindakan yang menjadi batu sandungan bagi orang lain, dan terus jatuh sampai pada tangga kesombongan yang kesebelas, yaitu bebas berbuat dosa.

 Tangga Kesebelas: Bebas Berbuat Dosa

Sesudah tangga kesepuluh, yaitu pemberontakan, orang akan turun ke tangga kesebelas. Ia akan menempuh jalan yang menarik bagi manusia, tetapi akan berakhir di neraka. Bila Allah dalam kerahiman-Nya yang tak terhingga tidak mencegah orang tersebut, maka ia akan sampai pada suatu keadaan “meremehkan Allah”. Apabila kejahatan itu terus berkembang, ia akan jatuh pada tangga kesebelas, yaitu bebas berbuat dosa: orang meremehkan bahkan melecehkan wibawa sesama dan pimpinan sehingga ia melecehkan wibawa Allah Sendiri. Seringkali orang ini menjadi sangat `mengerikan'. Oleh karena itu ada ungkapan yang mengatakan: “Kejatuhan orang yang baik itu sangat mengerikan” atau dalam bahasa Latinnya “Corruptio Optimi Pessima”.

Cukup sering kita jumpai orang-orang yang murtad dan keluar dari Gereja Katolik karena pemberontakan-pemberontakannya, misalnya seorang imam yang murtad akan menjadi jauh lebih jahat dari awam yang jahat. Karena dari keadaannya yang baik dan tinggi turun merosot semakin dalam, kita jumpai musuh-musuh Gereja Katolik yang hebat berasal dari mantan imam atau mantan biarawati. Contohnya seperti yang dijumpai di Amerika, mereka yang banyak menyerang Gereja Katolik adalah mantan imam dan mantan biarawati.

Suatu ketika di televisi ditayangkan perdebatan antara tokoh komunis dan seorang kardinal dari Gereja Katolik. Pihak komunis menampilkan seorang saksi yang adalah mantan imam yang berbicara penuh kepahitan dan kebencian serta mengecam Gereja Katolik dengan keras, sedangkan Kardinal ini menampilkan seorang perempuan muda sebagai saksi. Dari seorang komunis yang bertobat, perempuan muda ini berbicara tentang Cinta kasih Allah dengan wajah yang berseri-seri penuh sukacita. Perempuan ini bersyukur bahwa dalam Gereja Katolik ia mampu mengalami kasih-Nya yang memperbaharui seluruh hidupnya. Jadi, kita lihat kejatuhan orang baik itu sungguh mengerikan, seperti yang kita lihat pada mantan imam ini yang berbicara dengan penuh kepahitan dan mengecam keras Gereja Katolik. Berbeda jauh sekali dengan perempuan muda ini yang berbicara dengan wajah berseri-seri, dipenuhi dengan sukacita dari Tuhan, mengatakan betapa Allah mengasihinya dan menerimanya dalam Gereja-Nya yang kudus.

Orang yang jatuh pada tangga kesebelas tidak bisa dikendalikan. Ia dengan bebas berbuat dosa dan tak takut pada sesama dan pimpinan. Namun ia belum kehilangan takut akan Allah; ia masih memilih akal budi yang baik. Ia terus melakukan pemberontakan dan ragu-ragu. Pada akhirnya, jika tidak bertobat dan terus jatuh pada dosa kesombongan ini, ia akan terus merosot sampai pada tangga yang keduabelas, yakni kebiasaan berbuat dosa.

 Tangga Keduabelas: Kebiasaan Berbuat Dosa

Orang ini sedikit demi sedikit kehilangan rasa “takut akan Allah” karena seringkali berbuat dosa. Mula-mula timbul keraguan dalam dirinya ketika berbuat dosa, namun karena terus jatuh dalam dosa, bahkan dosa yang besar dan terus mengulangi dosa-dosanya, ia mulai kehilangan rasa berdosa dan meremehkan Allah. Suara hatinya perlahan-lahan menjadi mati, dan orang ini mulai dikuasai hawa nafsu dan kejahatan. Ia diperbudak oleh hawa nafsu, dan dalam hatinya mengatakan “tidak ada Allah”; dan ia menyangkal Allah.

Apabila seorang bertumbuh dalam kerendahan hati, dengan mudah ia melakukan kebaikan setiap hari dengan kerinduan yang besar. Sebaliknya, orang yang jahat yang terus merosot dalam tangga kesombongan; ia menyongsong kematian tanpa takut, yang berarti ia tidak takut melakukan kejahatan. Sebab kejahatan itu sudah di luar kendalinya, akal budi dan takut akan Allah, bahkan rasa berdosa tak lagi menguasainya, ia terus berbuat dosa. Orang yang berada di tengah-tengah, entah sedang naik atau sedang turun, biasanya berjuang untuk naik dan tidak turun; hanya orang yang mencapai tingkat kerendahan hati yang tinggi atau yang bertumbuh dalam kebajikan-kebajikan dapat dengan mudah maju, seolah tanpa perjuangan. Demikian pula orang bergerak dari dasar kesombongan dalam kejahatan akan semakin jatuh dalam kejahatan dengan lebih mudah. Orang yang memiliki kerendahan hati sejati akan memiliki cinta kasih yang besar. Cinta kasih itu akan mendorongnya dan menolongnya, sebaliknya hawa nafsu membuat orang tak mampu bekerja hingga ia tidak mempedulikan orang lain.


Sumber: yesaya.indocell.net

3 komentar:

Prisca Anthony mengatakan...

saya suka blog ni..saya follower baru..:)

Inquam mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Inquam mengatakan...

Terima kasih...semoga dapat memberikan manfaat dan berkat bagi kehidupan Mbak Prisca..amin GBU