Selasa, 07 Juli 2015


St Mariam dari Yesus Tersalib

St Mariam Baouardy (1846-1878)

si Arab Kecil, si Bunga Lily dari Palestina





MASA KANAK-KANAK


Mariam Baouardy (juga dieja Mariam Bawardy) dilahirkan pada tanggal 5 Januari 1846 di Ibillin, yang terletak di wilayah perbukitan Galilea atas, Palestina. Keluarganya berasal dari Damaskus, Syria. Mereka adalah orang-orang Katolik dari Ritus Katolik-Yunani Melkite, keturunan Archeparchy dari Antiokhia, tempat di mana para pengikut Yesus pertama kali disebut Kristen. Ayahnya, Giries (George) Baouardy, berasal dari Horfesch, Palestina; ibunya, Mariam Chahine, berasal dari Tarsis, Palestina.
Kelahiran Mariam pada tahun 1846 merupakan jawab atas banyak cucuran airmata dan doa kedua orangtuanya, Giries dan Mariam Baouardy. Sebelum kelahiran Mariam mereka sudah dikaruniai duabelas anak laki-laki, tetapi sayangnya mereka semua meninggal dunia semasa masih kecil benar. Duka mereka begitu mendalam atas kepergian anak-anak mereka. Dengan patah hati, namun penuh harap, sang ibu mendapat inspirasi yang ia percayakan kepada suaminya. "Marilah kita pergi ke Betlehem dengan berjalan kaki, dan memohon kepada Santa Perawan seorang anak perempuan. Marilah berjanji kepadanya bahwa jika doa kita dikabulkan, kita akan menamainya Mariam [= Maria] dan akan menyumbangkan demi pelayanan kepada Allah lilin seberat anak itu ketika usianya tiga tahun."

Dengan penuh keyakinan pasangan suami istri itu berangkat ke Bethlehem, yang pada waktu itu merupakan perjalanan yang sangat panjang sejauh 170 kilometer, yang mereka tempuh dengan berjalan kaki. Dapat kita bayangkan bagaimana pengharapan dan kesungguhan hati mereka sementara mereka berdoa di Grotto Kelahiran Yesus. Bunda Allah memberkati mereka dengan mendengarkan permohonan mereka. Sukacita pasangan suami istri itu meluap saat doa mereka dikabulkan dan Mariam dilahirkan pada malam Epifani [= Hari Raya Penampakan Tuhan], 5 Januari 1846. Seperti yang telah mereka janjikan, mereka menamainya seturut nama Perawan Maria, kepada siapa mereka memiliki devosi yang mendalam.

Sepuluh hari kemudian, pada tanggal 15 Januari 1846, di Gereja Katolik Melkite di kota kelahirannya, Ibillin, ia menerima Sakramen Pembaptisan dan Sakramen Krisma. Dua tahun kemudian, Mariam mendapatkan seorang adik laki-laki, Boulos (Paulus). Akan tetapi kebahagiaan ini berlangsung teramat singkat sebab kematian kedua orangtua si kecil Mariam.

Mariam baru berumur dua tahun ketika kedua orangtuanya meninggal dunia selang hanya beberapa hari akibat suatu penyakit yang tak dikenal. Menjelang wafat, ayahnya, sembari memandangi gambar St Yosef, bergumam: "Santo yang agung, ini anakku; Santa Perawan adalah Bundanya, berkenanlah untuk memeliharanya juga; jadilah Bapanya."

Seorang bibi dari pihak ibu yang tinggal di Tarsis, membawa pulang adiknya, Boulos; sementara Mariam diambil anak oleh seorang paman dari pihak ayah yang tinggal di Ibillin. Sejak saat itu, kedua kakak beradik ini tidak pernah bertemu lagi.

Mariam mendapatkan segala bentuk perhatian di rumah pamannya. Tetapi bagaimanakah ia dapat lupa bahwa ia seorang anak yatim piatu? Kehilangan kedua orangtua meninggalkan luka kepedihan dalam hatinya.

Mariam tinggal di rumah nyaman milik pamannya yang merawatnya seperti anak sendiri. Di kebun buah-buahan, di tengah pohon-pohon aprikot, persik dan kemiri, Mariam menempatkan sebuah kurungan kecil dengan burung-burung kecil di dalamnya. Suatu hari ia berpendapat bahwa burung-burung kecil kesayangannya itu perlu dimandikan. Akan tetapi, tanpa sengaja ia malahan menenggelamkannya ke dalam air. Patah hati, akhirnya ia memutuskan untuk menguburkan burung-burung itu, ketika dari dalam hati ia mendengar suatu suara yang jelas, "Beginilah semuanya akan berlalu. Jika kau memberikan hatimu kepada-Ku, Aku akan selalu tinggal bersamamu." Kata-kata ini tertanam kuat dalam hatinya.

Dalam suatu "mimpi" yang selalu ia ingat, ia melihat seorang pedagang masuk ke dalam rumah pamannya dan menawarkan sebuah ikan besar yang sungguh baik kualitasnya. Mariam tahu bahwa ikan itu beracun, maka terbangunlah ia. "Hanya mimpi!" katanya. Tapi keesokan paginya seorang pedagang sungguh muncul untuk menjual ikan seperti dalam mimpinya. Ia memperingatkan pamannya, yang meski begitu, bersikukuh untuk membeli dan menyantap ikan itu. Sebab tak dipedulikan, Mariam mendesak agar diperbolehkan memakannya terlebih dahulu, rela mengorbankan diri demi keselamatan yang lain. Melihat kegigihannya, akhirnya sang paman membelah ikan, dan betapa mereka terperanjat mendapati bahwa ikan itu beracun, sebab telah menelan seekor ular kecil beracun!

Pada kesempatan lain entah bagaimana seekor ular berhasil masuk ke dalam rumah saat ia sedang makan sendirian. Tanpa takut, Mariam mengambilnya tepat saat pelayan membuka pintu. Pelayan menjerit dan sebab terkejut, Mariam melepaskan ular itu yang segera melarikan diri. Sepanjang hidupnya, Mariam kerap mendapat penglihatan akan ular, dan kelak sebagai seorang Karmelit dan seorang mistikus ia sering menghadapi pertarungan sengit melawan "si Ular tua", yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia (Why 12: 9).


DEVOSINYA KEPADA SANTA PERAWAN MARIA

Santa Perawan melingkupi gadis kecil ini dengan kasih sayangnya; ia yang dimohon dengan sangat oleh orangtuanya di grotto Betlehem. Ia adalah anak kesayangan Bunda kita. Dan sebaliknya, demi menghormati Bunda Maria, sejak usianya lima tahun, Mariam berpuasa setiap hari Sabtu dengan hanya menyantap makan malam. Paman dan bibinya kerap dibuat tercengang dan kagum melihat devosi kanak-kanak yang masih belia ini. Pada musim semi, Mariam akan mengumpulkan bunga-bunga, memilih yang paling indah dan paling harum dari kebun atau dari bukit-bukit Ibillin untuk ditempatkan di depan patung Santa Perawan. Dan betapa terkejutnya ia ketika suatu hari mendapati bahwa batang-batang bunga yang telah dipotongnya itu berakar dalam vas? Ia memperlihatkannya kepada pamannya yang memberitahukannya kepada pastor setempat. Demi membuatnya tetap rendah hati, sang pastor mencelanya seolah dosa-dosanyalah yang menyebabkan fenomena ini. Mariam jatuh berlutut, merendahkan diri di hadapan Allah dan memohon ampun atas dosa-dosanya.

"Akan menjadi apakah anak ini kelak?" pastor, kerabat dan tetangga bertanya-tanya melihat kesalehan rohani dan devosi begitu rupa dari seorang anak berusia lima tahun.

Ketika Mariam berusia delapan tahun, keluarganya pindah ke Alexandria, Mesir, dan sekali lagi Mariam bersedih hati sebab meninggalkan kampung halaman yang dicintainya. Ia tidak pernah melihat Ibillin lagi hingga menjelang akhir hidupnya pada tahun 1878. 


KEMARTIRAN DAN MUKJIZAT SANTA PERAWAN

Seturut adat kebiasaan setempat, Mariam yang berusia tigabelas tahun akan dinikahkan dengan saudara bibinya yang tinggal di Kairo. Mariam shock dan sangat sedih, sebab kerinduan satu-satunya adalah mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah saja. Dalam duka mendalam ia tak dapat tidur malam menjelang pernikahan; dengan bersungguh-sungguh ia berdoa kepada Tuhan memohon campur tangan-Nya, atau berkenan menunjukkan kehendak-Nya yang kudus. Dari kedalaman batinnya ia mendengar lagi suatu suara yang dikenalnya, "Semuanya akan berlalu. Jika kau memberikan hatimu kepada-Ku, Aku akan selalu tinggal bersamamu."

Di hadapan patung Perawan Maria, ia sujud memohon ketika sekonyong-konyong ia mendengar suara yang mengatakan, "Mariam, aku bersamamu; ikuti inspirasi yang akan kuberikan. Aku akan menolongmu."

Keesokan paginya Mariam memberitahu pamannya bahwa ia tidak mau menikah dan ingin tetap perawan. Pamannya yang meledak dalam murka mendaratkan pukulan-pukulan atas pembangkangan dan ketidakpatuhannya. Kendati pukulan-pukulan dan makian yang dilontarkan kepadanya, Mariam tak hendak berubah pikiran. Ia sangat sedih telah melukai hati pamannya, tapi ia tetap teguh dalam keputusannya, sebab cintanya kepada Tuhan lebih dari segalanya.

Sebagai hukuman, ia diperlakukan sebagai pelayan yang paling hina dengan tugas-tugas dapur yang paling sulit. Dalam penderitaan Mariam menulis surat kepada adiknya, Boulos, untuk datang mengunjunginya di Alexandria.

Dikucilkan dari keluarga pamannya, Mariam beroleh penghiburan dari seorang pelayan Muslim yang mendorongnya mengungkapkan masalah pribadinya. Sang pemuda menganjurkan agama Islam sebagai jalan untuk mengatasi masalahnya. Mariam menolak anjurannya dan dengan lantang memaklumkan imannya. "Muslim, tidak, tidak pernah! Aku adalah puteri Gereja Katolik, dan aku berharap, dengan rahmat Allah, untuk setia hingga akhir hayat dalam agamaku, yang adalah satu-satunya yang benar."

Ditolak mentah-mentah oleh gadis Kristen ini menjadikan sang pemuda kalap. Dangan sorot mata penuh kebencian ia menendang Mariam hingga jatuh terjengkang ke lantai. Ia lalu menghunus pedang dan menggorok leher si gadis. Berpikir bahwa ia telah mati, ia membuang tubuh yang bermandikan darah itu di sebuah lorong gelap dekat sana. Hari itu adalah Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria, 8 September 1858. Yang terjadi selanjutnya seperti dikisahkan Mariam sendiri kepada Pembimbing Novis di Marseilles, Perancis:

"Seorang biarawati berpakaian biru menghampiriku dan menjahit luka tenggorokanku. Ini terjadi di sebuah grotto di suatu tempat. Aku lalu mendapati diriku di surga bersama Santa Perawan, para malaikat dan para kudus. Mereka memperlakukanku dengan sangat ramah. Bersama mereka ada kedua orangtuaku. Aku melihat mahkota kemilau Tritunggal Mahakudus dan Yesus Kristus dalam kemanusiaan-Nya. Tidak ada matahari, tidak ada lampu, tapi semuanya terang dengan cahaya. Seseorang berbicara kepadaku. Mereka mengatakan bahwa aku adalah seorang perawan, tapi bukuku belumlah selesai."

Mariam kemudian mendapati dirinya sekali lagi dalam grotto dengan "biarawati berpakaian biru". Berapa lama Mariam berada di tempat pengungsian tersembunyi ini? Ia mengatakan satu bulan, tapi ia tidak yakin. Suatu hari, perawat tak dikenal itu menyediakan sop untuknya yang rasanya teramat lezat hingga Mariam dengan rakus meminta lagi, dan sepanjang hidupnya ia ingat akan rasa sop surgawi ini. Di atas ranjang kematian, ia terdengar menggumam lembut, "Ia membuatkan aku sop! Oh, sop yang begitu lezat! Di sanalah aku lama berada, mencari, dan tiada pernah makan sop yang seperti itu. Aku mengenang rasanya dalam mulutku. Ia berjanji padaku bahwa di saat ajalku, ia akan memberiku sesendok kecil sop itu."

Di akhir masa tinggalnya dalam gua, sang perawat berpakaian biru secara singkat menggambarkan jalan hidup Mariam. "Kau tidak akan pernah bertemu dengan keluargamu lagi, kau akan pergi ke Perancis, di mana kau akan menjadi seorang religius. Engkau akan menjadi anak St Yosef sebelum menjadi puteri St. Teresa. Engkau akan menerima jubah Karmel dalam satu rumah, kau akan mengucapkan kaulmu di rumah yang kedua, dan kau akan meninggal di rumah yang ketiga, di Betlehem".

Bekas luka di leher tetap membekas hingga akhir hidupnya. Hal ini dikonfirmasikan oleh para dokter dan perawat di Marseille, juga di Pau, Mangalore, dan akhirnya di Betlehem. Luka ini panjangnya 10 cm dan lebarnya 1 cm, menorehkan tanda di seluruh leher bagian depan, yang kulitnya lebih halus dan lebih putih. Beberapa cincin tulang rawan pembuluh nadi batang tenggorok hilang, seperti dikemukakan para dokter di Pau pada tanggal 24 Juni 1875. Pembimbing Novis menulis: "Seorang dokter terkenal di Marseille yang merawat Mariam mengakui bahwa, meskipun ia seorang atheis, pastilah Allah itu ada, sebab dari sudut pandang normal, ia tidak mungkin hidup." Sebagai akibat dari gorokan yang dalam ini suara Mariam selalu serak. Kemartiran si Arab kecil ini tertera nyata dalam dagingnya.

Mariam sendiri di kemudian hari menulis: "Setelah lukaku sembuh aku lalu harus meninggalkan grotto dan Bunda membawaku ke Gereja St. Katarina yang dilayani oleh para biarawan Fransiskan. Aku pergi ke pengakuan dosa. Ketika aku pergi, Perempuan Bergaun Biru telah menghilang"

Bertahun-tahun kemudian sementara dalam ekstasi, 8 September 1874, ulang tahun kemartiran dan pesta kelahiran Bunda Maria, Sr. Mariam mengatakan, "Pada hari yang sama pada tahun 1858, aku bersama Bunda-ku dan aku mempersembahkan hidupku kepadanya. Seorang telah menggorok leherku dan keesokan harinya Bunda Maria merawatku."

Sr. Mariam menceritakan kepada pembimbing rohaninya, Pater Estrate, "Aku tahu sekarang bahwa religius yang merawatku setelah kemartiranku adalah Santa Perawan."


MALAIKAT BERNAMA YOHANES GEORGE


Usianya baru tigabelas tahun dan sekarang ia harus menopang hidupnya sendiri. Ia menghidupi dirinya dengan bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga pada sebuah keluarga Kristen Arab bernama Najjar. Mariam hidup sebagai seorang miskin, dengan hanya selembar pakaian, dan gaji kecil yang diterima semuanya dibagikan kepada mereka yang miskin, kecuali beberapa keping piastre guna membeli minyak untuk lampu kecil yang dinyalakannya terus-menerus di depan patung Santa Perawan. Waktu luangnya ia peruntukkan bagi mereka yang kurang beruntung.

Berharap dapat bertemu dengan Boulos, dan terutama sangat ingin menapaki jejak kaki Kristus serta mengunjungi tempat-tempat suci-Nya, sekitar setahun kemudian ia pergi menggabungkan diri dengan sebuah caravan yang menuju Yerusalem.

Suatu hari di jalanan Yerusalem, seorang pemuda, yang sangat tampan dan tulus hati, menghampirinya dan mengajaknya bercakap-cakap. Usia Mariam limabelas tahun. Percakapan berlangsung dengan sangat santun, si pemuda memuji kemurniannya yang sempurna. Beberapa hari kemudian ia menemui Mariam kembali dan memperkenalkan diri sebagai Yohanes George; ia menawarkan diri untuk menunjukkan kepada Mariam jalan ke Makam Suci.

Di tempat suci, si pemuda menjanjikan bimbingan misterius yang mempersyaratkan kaul keperawanan selamanya. Dan begitulah, di tempat tepat terletak makam mulia Tuhan Yesus yang bangkit, kedua pemuda dan pemudi ini menjadi "putera dan puteri Kebangkitan" dengan memaklumkan kaul kemurnian.

Sebelum undur diri dari Mariam, Yohanes George mengingatkannya akan tahap-tahap utama hidupnya seperti telah dirancangkan Santa Perawan baginya di grotto Alexandria. Sepuluh tahun kemudian di Mangalore, India, Mariam bertemu dengan "saudara rohani"-nya kembali; ini terjadi menjelang kaul kekalnya di Karmel. Religius muda ini lalu mengerti bahwa Yohanes George adalah seorang malaikat yang diutus Tuhan untuk menolongnya, seperti yang Ia lakukan pada masa lalu terhadap pemuda Tobia.


PERGI KE SURGA, NERAKA DAN API PENYUCIAN


Dari Yeruselem, Mariam kembali ke Jaffa untuk dari sana pergi ke Santa Jeanne d'Arc, akan tetapi kapal yang ia tumpangi, karena cuaca buruk, terpaksa mengubah halauan dan berlabuh di Beirut. Merasa bahwa itu mungkin kehendak Allah, ia sekali lagi mengambil pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga.

Dua peristiwa luar biasa terjadi selama di Beirut. Mariam bekerja selama hampir enam bulan ketika sekonyong-konyong ia menjadi buta total. Kebutaan ini berlangsung selama 40 hari. Sekali lagi Mariam berpaling kepada Santa Perawan, "Lihatlah, Bunda-ku," katanya, "segala problem yang aku akibatkan di rumah ini. Aku bahkan tidak lebih baik dirawat oleh orangtuaku. Oh, jika berkenan bagimu dan bagi Putra Ilahimu, kembalikanlah penglihatanku!" Serta-merta sesuatu seolah jatuh dari matanya dan ia pun dapat melihat kembali!

Beberapa bulan sesudahnya ia terjatuh dahsyat saat menjemur pakaian di serambi atas. Awalnya keluarga tempat ia bekerja, yang menganggapnya sebagai anak mereka sendiri, menyangka bahwa ia sudah mati; tulang-tulangnya kelihatan patah hebat dan remuk; dokter pun tidak berani memberi harapan kesembuhan. Sebulan kemudian, di depan lampu kecil yang dinyalakannya terus-menerus di depan patung Santa Perawan Maria, Mariam melihat - seperti yang dialami juga oleh Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus di kemudian hari - Santa Perawan tersenyum kepadanya, dan menganjurkan tiga hal kepadanya: ketaatan, cinta kasih dan keyakinan. Bau harum dan terang memenuhi kamarnya. Mariam disembuhkan, dan ia segera menjadi lapar. Keluarga dan tetangga datang berduyun-duyun, dan di hadapan mukjizat itu, semua orang, Kristen maupun Muslim, sujud berlutut, mengucap syukur dan memaklumkan mukjizat Allah melalui Santa Perawan Maria.

Pada awal bulan Mei 1863, pada usia delapanbelas tahun, Mariam meninggalkan Lebanon dan pergi ke Marseille, Perancis. Di sana ia menjadi tukang masak seorang perempuan Arab bernama Nyonya Naggiar. Setiap pagi Mariam biasa pergi ke Gereja St Charles atau ke Gereja St Nicholas. Ia memilih Pater Philip Abdou, rektor gereja, seorang Lebanon, sebagai pembimbing rohaninya.

Dalam salah satu komuni di Gereja St Nicholas, Mariam masuk dalam ekstasi yang mengagumkan. Kejadian itu berlangsung selama empat hari; para dokter tak dapat menjelaskan apa yang terjadi. Mariam mengatakan bahwa ia pergi mengunjungi surga, neraka dan api penyucian. Sementara dalam ekstasi, ia menerima perintah untuk berpuasa selama satu tahun dengan hanya makan roti dan minum air demi menyilih dosa-dosa kerakusan di dunia, dan untuk mengenakan pakaian miskin demi menyilih dosa-dosa ketidaksopanan dan kemewahan.


PENAMPAKAN ST YOSEF


Di Marseille, suatu pagi ketika sedang menuju Notre Dame de la Garde untuk merayakan Misa, Mariam merasa diikuti oleh seorang lelaki yang menggandeng seorang kanak-kanak. Hal ini terjadi beberapa kali. Merasa terganggu, Mariam menghampiri orang asing itu dan memintanya untuk berhenti mengikutinya. Sungguh mengherankan, orang asing itu menjawab dengan seulas senyum menawan dan berkata: "Aku tahu bahwa kau ingin masuk biara dan aku akan mengikutimu hingga kau ada dalam biara."

Siapakah orang asing ini? Gadis muda itu tak ragu bahwa tiada lain ia adalah St Yosef. Pemudi Palestina ini pertama-tama pergi ke Puteri-puteri Kasih dan mohon diijinkan menggabungkan diri. Sebab campur tangan Nyonya Naggiar, yang tak mau kehilangan tukang masak, mereka menolaknya dengan dalih bahwa ia adalah seorang pelayan. Mariam kemudian pergi kepada Suster-suster Claris, tetapi karena kesehatannya, yang turun drastis akibat puasa hingga kepadanya diterimakan Sakramen Pengurapan Orang Sakit, ia tak dapat masuk biara. Namun sekali lagi, dengan cepat, hingga mengejutkan semua orang, kesehatannya berangsur-angur pulih dan ia pun sehat kembali.

Mariam mencoba lagi di tempat Suster-suster St Yosef dari Penampakan yang didirikan oleh Santa Emilia de Vialar. Rumah induk dan novisiat biara bertempat di "Capelette" di pinggiran kota Marseille. Si gadis Palestina tidak bisa membaca ataupun menulis, dan ia hanya bisa berbicara bahasa Arab. Mariam diterima, sebab hanya ada sedikit orang Palestina di novisiat sementara Kongregasi memiliki beberapa komunitas di Timur, khususnya di Tanah Suci. Di biara ia biasa disapa "Mariam si Arab", atau "si Arab kecil" [= La Petite Arabe].

Mei 1865 hingga Juni 1867, Mariam menjadi seorang postulan di Suster-suster St Yosef dari Penampakan di Marseille. Para rekan suster selalu merasa geli oleh bahasa Perancis Mariam yang patah-patah, tetapi mereka lebih terkesan oleh keutamaan dan kesalehannya yang luar biasa. Mariam beruntung, dua perempuan dengan kebajikan keutamaan memimpin Capelette pada waktu itu, Superior Jenderal, Moeder Emily Julien, dan Pembimbing Novis, Moeder Honorine Piques. Mereka adalah pembimbing rohani yang luar biasa bagi Mariam, sebaliknya mereka terperanjat mendapati fenomena aneh yang segera terjadi dalam diri si Arab kecil. Ekstasi seperti di Gereja St Nicholas lebih sering terjadi.



STIGMATA

Pada bulan Januari 1866 - Mariam berusia duapuluh tahun - Moeder Honorine mendapati Mariam di asrama, prostratio, dengan wajahnya mencium lantai dan tangan kirinya berlumuran darah. Dari Rabu sore hingga Jumat pagi setiap minggu, pada ekstasi yang dialaminya ditambahkan fenomena lain yang luar biasa, yakni stigmata.

Pekan Suci sangat mengerikan. Setiap bagian tubuhnya mencucurkan darah: kepala, lambung, kedua tangan dan kaki. Ia memperlihatkan dan menghidupkan kembali peristiwa sengsara. Ia menjadi pasangan tersalib dari Tuhan yang tersalib. Ia dapat diidentifikasikan dengan Mempelai-nya hingga ke rincian yang sangat detail dari Jumat Agung! "Ketika berada dalam keadaan ini, ia dapat disebut sebagai 'ecce homo,'" tegas Moeder Honorine.

Pada bulan Agustus 1866 di Marseille, ia sedang berdoa di kapel suatu sore ketika di tabernakel ia melihat Yesus, yang menampakkan diri kepadanya dengan kelima luka-luka-Nya dan mahkota duri. Kelihatannya Mariam melihat bara murka di tangan-tangan-Nya. Ia mendengar Yesus berkata kepada BundaNya yang prostratio di kaki-Nya: "Oh, betapa BapaKu telah dihinakan!" Postulan ini segera melompat ke arah Yesus; Mariam menempatkan tangannya pada luka Hati-Nya, sembari berseru: "Allah-ku, berikanlah padaku, aku mohon, segala penderitaan ini, tetapi berbelas-kasihanlah terhadap orang-orang berdosa." Keluar dari ekstasi, Mariam melihat tangannya berlumuran darah, dan ia mengalami sakit hebat di lambung kirinya: yang di kemudian hari akan mengucurkan darah setiap hari Jumat.

Moeder Honorine melihat bahwa ia berhadapan dengan seorang luar biasa yang sepenuhnya dikuasai Roh Kudus, meminta Mariam untuk menceritakan riwayat hidupnya. Satu salinan kelak dikirimkan ke Karmel di Pau dengan catatan ini, "Aku mengirimkan kepadamu salinan dari apa yang aku sendiri kumpulkan dari yang ia ceritakan kepadaku, bukannya tanpa banyak penolakan, melainkan semata-mata demi ketaatan. Ia memintaku dengan sangat untuk menyimpannya sebagai rahasia yang telah aku simpan hingga hari ini… Aku menghapus semua yang tidak sepenuhnya aku mengerti, sebab kesulitan yang dialami puteri terkasih ini dlam mengungkapkan dirinya dalam bahasa Perancis."

Moeder Honorine jatuh sakit dan digantikan oleh Moeder Veronica. Ia seorang Inggris dan dari Anglikan masuk ke dalam pelukan Gereja Katolik. Ia menjadi 'soul mate' bagi Mariam di jalan kekudusan; mereka berdua bagai dua elang kembar yang membubung tinggi ke langit. Atas kehendak Moeder Veronica juga stigmata lenyap di Marseille, dan seturut nubuat Mariam, stigmata tidak akan muncul kembali sampai Prapaskah berikutnya di Pau.

Mariam menjadi obyek pertentangan. Sementara sebagian besar sesama saudara suka padanya, ada juga sekelompok suster yang menentangnya. Sehubungan dengan fenomena tersebut, adakah ia otentik? Hingga akhirnya, tibalah hari penerimaan masuk novisiat. Dari tujuh biarawaati yang berhak memberikan suara, dua orang abstain, dua setuju dan tiga menolak. Mariam tidak diterima!

Jelas itu merupakan pukulan berat bagi Mariam. Sementara itu Moeder Veronica, setelah tujuhbelas tahun menggabungkan diri dengan Suster-suster St Yosef, menerima otorisasi dari Roma untuk menjadi seorang biarawati Karmelit dan ditempatkan di Karmel di Pau. Moeder Veronica memperkenalkan Mariam kepada Moeder Priorin yang memberikan tanggapan segera dan positif.

 
EKSTASI

Pada tanggal 15 Juni 1867 Veronica dan Mariam diterima dengan tangan terbuka di Karmel oleh Moeder Priorin Elias. Mariam sebelumnya tidak tahu-menahu mengenai Karmel ataupun mengenai St Theresia. Akan tetapi pada hari itu ia memahami perkataan misterius perawat ajaibnya di Alexandria, "Engkau akan menjadi anak St Yosef sebelum menjadi puteri St. Teresa." Dalam Biara Karmel, Sr Mariam adalah "suster berkerudung putih" yaitu biarawati yang melakukan pekerjaan-pekerjaan rendah dan tidak terikat pada Offisi dalam paduan suara.

Pada bulan Agustus 1870 hingga November 1872, Mariam ditempatkan di Mangalore, India, untuk membantu pembangunan biara. Di biara di Mangalore inilah Suster Maria dari Yesus Tersalib mengucapkan kaulnya pada tanggal 21 November 1871 di altar kapel Rubiah Karmel.

Di biara ini pula ekstasi semakin sering dialaminya, nyaris setiap hari; bahkan hingga lima kali dalam sehari. Ekstasi kadang kala terjadi sekonyong-konyong, kadang kala perlahan-lahan. Mariam mengatakan, "Ada saat-saat," katanya, "ketika aku sama sekali tak dapat melakukan apa-apa: tak peduli apapun yang aku lakukan untuk mencegahnya; dan di saat lain aku dapat mengalihkan sedikit perhatian agar tidak tenggelam di dalamnya." Dalam ketidaktahuannya mengenai hal-hal mistik, ia tidak menyadari keistimewaan yang boleh ia nikmati, dan bahkan menyebut ekstasi sebagai "tertidur". Dan bagaimana ia berjuang melawan "tertidur" ini! Ia memohon kepada Pater Manaudas, pembimbing rohani, dan kepada Uskup Lacroix. Ia berjalan keliling, menggoyang-goyangkan tubuh, lari membasuh muka, ia bekerja dengan lebih giat. Bahkan ia menusuk kulitnya dengan peniti, dan di kamar makan ia memasukkan makanan panas-panas ke dalam mulutnya. Tak berhasil.

Selama ekstasi, tubuhnya terkadang tetap lentur, tetapi kerap kali menjadi kaku, tetap dalam posisi yang sama seperti pada awal ekstasi. Selama itu, tidak ada dan tidak seorang pun yang dapat membuatnya bergerak. Mustahil membuatnya duduk atau berbaring, atau mengambil suatu obyek yang dipegangnya, atau menurunkan lengannya yang terangkat. Hanya ketaatan semata yang bisa mengatasi keadaan ini. Ia juga sama sekali mati rasa terhadap rangsangan lahiriah. Suatu ketika lututnya terluka karena paku, yang mengakibatkan rasa sakit luar biasa dan ia hanya bisa berjalan dengan terpincang-pincang. Akan tetapi, sekonyong-konyong ia tenggelam dalam ekstasi dan tinggal berlutut selama dua jam!

Ketika terbangun dari ektasi, Mariam tidak ingat akan apa yang terjadi. Namun, dengan satu pengecualian: ia akan ingat apabila otoritas memintanya untuk menceritakan apa yang ia lihat dan dengar. "Aku ingat akan hal-hal ini dan mengatakan kepada siapa harus aku katakan."

Pada tanggal 23 September 1872 Mariam meninggalkan Mangalore dan tiba kembali di Karmel di Pau pada tanggal 5 November 1872.



LEVITASI

Kita tahu dari kehidupan para mistik kudus bahwa sementara dalam ekstasi, seorang dapat terangkat sedikit dari atas tanah melalui rahmat adikodrati yang misterius. Akan tetapi, Suster Maria dari Yesus Tersalib merupakan satu dari antara yang sangat sedikit, di antaranya Yosef dari Cupertino, yang sungguh-sungguh terbang.

Pada tanggal 22 Juni 1873, melihat ketidakhadiran Mariam saat makan malam, pembimbing novis mencarinya dengan tanpa hasil di biara dan di kebun buah-buahan. Ketika itu terdengarlah suatu madah: "Kasih! Kasih!" Ia mendongak ke atas dan mendapati Mariam melayang-layang, tanpa penyangga apapun, di puncak sebuah pohon limau yang sangat besar di kebun Karmel di Pau. Sesudah berdoa, Moeder berkata kepada si Arab kecil: "Suster Maria dari Yesus Tersalib, jika Yesus menghendakinya, turunlah demi ketaatan tanpa jatuh ataupun melukai dirimu sendiri." Pada kata ketaatan, Mariam turun "dengan wajah bercahaya" dan penuh kerendahan hati yang sempurna, dengan berhenti pada beberapa cabang memadahkan Kasih.

Pada tanggal 19 Juli 1873, ketika perintah untuk turun disampaikan kepadanya, Mariam ragu-ragu sejenak. Ia mohon diijinkan tinggal lebih lama dengan sang Anak Domba. "Tidak," desak priorin, "demi ketaatan, turun!" Mariam taat, namun akibat dari keragu-raguan itu fatal. "Anak Domba pergi," desah sang Suster, "Ia membiarkanku turun sendiri." Akibat ragu dalam ketaatan, ia turun dengan susah payah dan mengalami empat hari kesedihan demi menyilihnya.



DEVOSINYA KEPADA ROH KUDUS


Devosi Mariam kepada Roh Kudus merupakan suatu yang tak lazim pada jamannya. Terinspirasi oleh doa khusus kepada Roh Kudus yang diterimanya saat ekstasi, Mariam yakin bahwa devosi kepada Roh Kudus, yang dikenal sebagai Parakletos, diperlukan Gereja semesta. Ia bahkan mengirimkan suatu petisi kepada Paus Pius IX memohonnya untuk menanamkan devosi yang lebih besar kepada Roh Kudus dalam Gereja. Tak seorang pun tahu bagaimana pendapat Paus pada saat itu, akan tetapi 20 tahun kemudian Paus Leo XIII menerbitkan ensiklik mengenai devosi kepada Parakletos. Mengenai devosi kepada Roh Kudus, Mariam menulis:

"Dunia dan komunitas religius mencari yang baru dalam devosi, dan mereka melupakan devosi sejati kepada Parakletos. Itulah sebabnya mengapa ada kesesatan dan perpecahan, dan mengapa tidak ada damai ataupun terang. Mereka tidak memohon kepada Terang seperti seharusnya Ia dimohon, padahal Terang inilah yang memberi pengetahuan akan kebenaran. Ia diabaikan bahkan dalam seminari-seminari."

"Setiap orang di dunia yang berseru kepada Roh Kudus dan berdevosi kepada-Nya tidak akan mati dalam kesesatan."



DOA ST. MARIAM BAOUARDY KEPADA ROH KUDUS

1.
Roh Kudus, ilhami aku.
Kasih Allah, kuasailah aku.
Sepanjang jalan kebenaran, pimpinlah aku.
Maria Bunda-ku, perhatikanlah aku.
Bersama Yesus, berkatilah aku.
Dari segala kejahatan, dari segala ilusi,
dari segala mara bahaya, lindungilah aku.

2.
Sumber damai, Terang,
datang dan terangilah aku.
Aku lapar, datang dan kenyangkanlah aku.
Aku haus, datang dan legakanlah dahagaku.
Aku buta, datang dan berilah aku terang.
Aku miskin, datang dan perkayalah aku.


WAFATNYA


Dalam penglihatan-penglihatan, Yesus berbicara kepada Mariam mengenai pembangunan biara Karmel di Betlehem dan di Nazaret. Meski ia bukan seorang priorin, para suster yang menghormati kekudusan dan kerendahan hati Mariam, mempercayai wahyu-wahyu yang disampaikan kepadanya dan mendukung proyek pembangunan. Demikanlah pada tanggal 20 Agustus 1875 Sr Mariam bersama sekelompok kecil biarawati, termasuk Moeder Veronica, berangkat dan tiba di Betlehem pada bulan September 1875. Tuhan membimbing Mariam dalam memilih lokasi dan desain bangunan.

Di Betlehem inilah Mariam mengalami stigmatisasi yang paling lama dan paling menyakitkan. Melihatnya, para saksi akan berpikir bahwa mereka sedang berada di Kalvari di hadapan peristiwa Penyaliban! Sr Mariam mengatakan, "Tahukah kalian? Lima kuntum mawar sedang mekar, cepat, cepat. Mereka memberikan bunga-bunga mawar kepada yang lain, dan duri-durinya kepadaku." Dengan seulas senyum ia menambahkan: "Dan tidak membiarkanku mencium harumnya sama sekali, tidak selain dari duri-duri! Oh, baiklah - aku pantas untuk itu! Agar Yesus menjadi puas, hanya itulah yang aku kehendaki. Aku menerima semua duri-duri pada tubuhku, tapi katakan kepada Tuan yang empunya kebun mawar agar menutup mawarnya." Sesudah bunga-bunga mawar merah di Marseille, Pau, Mangalore, dan Bethlehem, "kelima mawar" stigamata ditutup untuk selamanya pada tanggal 26 April 1876.

Bulan Agustus 1878, tatkala membawakan air untuk para pekerja dalam pembangunan biara baru, Mariam terjatuh dari tangga dan mengalami patah tulang. Tangannya yang membengkak segera terjangkit gangren, dan infeksi menyebar hingga ke paru-paru dan ruang pernapasan. Ia tahu bahwa ajal sudah mendekat. Dalam penderitaannya, ia memperbaharui kaul sebagai kurban bagi Gereja dan bagi Perancis, negeri keduanya.

Pada tanggal 26 Agustus 1878 ia merasa seolah tercekik dan menghembuskan napas terakhirnya segera sesudah menggumam, 'Yesus-ku, kasihanilah." Saat itu dini hari pukul lima lewat sepuluh menit. Suster Mariam Baouardy wafat dalam usianya yang ketigapuluh tiga tahun dan duabelas tahun masa pengabdian dalam hidup religius.

Hinga kini Mariam Baouardy dikenal sebagai "Al Qiddisa" (orang yang kudus) di Ibillin, Palestina. Ia dibeatifikasi pada tanggal 13 November 1983 oleh Paus Yohanes Paulus II dan dikanonisasi pada tanggal 17 Mei 2015 oleh Paus Fransiskus. Pestanya dirayakan pada tanggal 25 Agustus.


BEBERAPA PERKATAAN ST MARIAM BAOUARDY


"Semua berlalu di sini di dunia. Siapakah kita? Bukan apa-apa selain debu, ketiadaan, sementara Allah begitu agung, begitu indah, begitu patut dikasihi, namun Ia tidak dikasihi."

"Seluruh dunia tidur, dan Allah begitu penuh kebajikan, begitu agung, begitu layak akan segala pujian, dan nyaris tak seorang pun memikirkan-Nya! Lihat, alam raya memuji-Nya, langit, bintang-bintang, pepohonan, rerumputan, semua memuji-Nya, dan manusia, yang mengenal anugerah-Nya, yang seharusnya memuji-Nya, tidur! Mari, marilah kita pergi dan membangunkan jagad raya! Marilah kita pergi dan memuliakan Allah. Semua orang tidur, seluruh dunia tidur, marilah kita pergi dan membangunkan mereka. Yesus tidak dikenal, Yesus tidak dikasihi. Ia, yang begitu penuh kebajikan, Ia yang telah melakukan begitu banyak bagi manusia!"

"Aku dalam Allah, dan Allah dalam aku. Aku merasa bahwa segenap makhluk, pohon-pohon, bunga-bunga adalah milik Allah dan juga milikku. Aku tak lagi memiliki kehendak, kehendak adalah milik Allah. Dan semua yang milik Allah adalah milikku."

"Hanya kasih yang dapat mengisi hati manusia. Orang benar puas dengan kasih dan sepetak tanah, tetapi orang fasik, dengan segala kesenangan, kehormatan, kekayaan (yang dapat diperolehnya), selalu lapar, selalu. Dia tidak pernah puas."

"Perhatikanlah hal-hal kecil. Semuanya besar di hadapan Tuhan. Tuhan tidak menghendaki perampokan dalam pengorbanan. Persembahkan dan berikan kepada-Nya semua."

"Di surga, jiwa-jiwa yang paling indah adalah mereka yang paling banyak berdosa dan bertobat. Mereka menggunakan penderitaan mereka seperti pupuk sekeliling pokok pohon."

"Sangat bermurah-hatilah; apabila salah satu matamu melihat apa yang tidak benar, tutuplah dan lalu buka yang satunya! Ubahlah semuanya menjadi baik."

"Jika engkau mengasihi sesama, dengan inilah engkau akan mengetahui apakah engkau mengasihi Yesus. Setiap kali engkau melihat sesama tanpa melihat Yesus, engkau jatuh terpuruk sangat rendah."

"Allah tersembunyi dalam buah seperti biji dalam apel. Belahlah apel dan kalian akan mendapati lima biji di tengahnya. Begitulah Allah tersembunyi dalam hati manusia. Ia tersembunyi di sana dengan misteri sengsara-Nya yang diwakili oleh kelima biji. Allah telah menderita dan manusia harus menderita, entah itu diingininya atau tidak. Apabila manusia menderita melalui kasih, dalam persekutuan dengan Allah, ia akan lebih ringan menderita dan beroleh ganjaran. Kelima biji yang ada dalam kedalaman hatinya akan tumbuh dan menghasilkan berlimpah buah. Tapi jika ia menolak pencoban, ia akan terlebih menderita, tanpa beroleh ganjaran.

(Sesudah menyambut Komuni Kudus) "Sekarang aku telah memiliki segalanya." 

 Sumber : yesaya.indocell.net