Selasa, 14 Juni 2016



Iman dan Praktek Iman Gereja Mengatasi Kuasa Kegelapan



1. Kuasa Kegelapan

Setan atau Iblis sang kegelapan yang jahat, si jahat, awalnya ialah malaikat ciptaan Allah. Mereka ialah makhluk rohani yang punya kebebasan dan kemauan. Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memberikan banyak pernyataan mengenai setan dan bagaimana perlawanannya terhadap Kristus dan pemerintahan Kristus. Kitab Yesaya melukiskan kejatuhan malaikat dalam kegelapan (Yes 14:12-15). Bintang Timur, putra Fajar dalam Alkitab berbahasa Indonesia itu diterjemahkan dari bahasa latin “Lucifer”. Alasan kejatuhan itu ialah pemberontakan dan kesombongannya. Dengan itu munculah kuasa kegelapan

Iblis (eks malaikat) menjadi yang terjahat. Para setan tetap berada dalam hirarki yang sama seperti dulu yang diberikan ketika masih malaikat: Pemerintah (Principalities), Singgasana (Thrones), Kerajaan (Dominion), dan seterusnya. Ia disebut pula pangeran dunia, penguasa kegelapan, pendusta, pendengki, si jahat dan semacamnya. Karena mereka pendusta, maka bisa saja ia berdusta, berbohong mengancam, memutarbalikkan fakta dan semacamnya. Tujuannya hanya satu, ialah menghalangi atau menjauhkan manusia dari Kristus. Mereka iri mengapa Sabda Allah menjadi manusia, memberontak, dilemparkan ke bumi (Lihat kitab Wahyu 12). Dalam Perjanjian Baru, Iblis digambarkan sebagai penganggu dan penyesat manusia, batu sandungan bagi rencana Allah. Ia terang-terangan menantang Yesus (Mat 4:1-11//Mrk 1:12-13// Luk 4:1-13). Iblis menyusup masuk dalam lingkaran terdalam murid Kristus (Luk 22:3). Namun mereka dikalahkan oleh Allah.

Penginjil Yohanes mengisahkan hidup Yesus dalam konteks pertempuran antara terang dan gelap, kuasa baik dan kuasa jahat. Yesus ialah yang dari allah, Sang Terang yang mengusir kegelapan, mengusir penguasa dunia (Yoh 12:31; 14:30; 16:11). Iblis menyamar dalam diri orang yg memusuhi Yesus. Maka Yudas Iskariot disebut Iblis (Yoh 6:70-71; 13:2,27). Kaki tangan kekuasaan Yahudi bekerja sama dengan Yudas dan dianggap bekerja sama dengan iblis (Yoh 6:17). Yohanes melukiskan iblis tidak bekerja sendirian tetapi memakai manusia sebagai alatnya. Dalam Surat-Surat Paulus, Iblis digambarkan menyamar sebagai malaikat terang (2Kor 11:13-15), musuh yg halus, licin, berbahaya dan mematikan (2 Kor 12:7). Pinbtu masuk iblis ialah buah roh yang jahat (Gal 5: 19-21). Kesombongan menjadi batu yang menyandung orang jatuh dalam jerat iblis (1 Tim 3:6-7). Iblis menggoda utk perzinahan (1 Kor 7: 5). Senjata melawannya ialah perlengkapan senjata Allah (Ef 6:11-20). Dalam Surat-Surat katolik, iblis selalu menentang Allah namun selalu kalah. Yang bersama allah tak kan berhasil dijatuhkan iblis. Anak-anak iblis ialah yang membenci saudara (1 Yoh 3:10). Iblis membawa dosa masuk ke dunia (1 Yoh 3:8). Kuasa iblis itu kuat (1Yoh 5:19), ia berkuasa atas maut (Ibr 2:14). Namun yang berssama dengan Allah tak kan dikuasai iblis (1Yoh 5:18). Kita harus berjaga-jaga dan melawannya dengan iman (1 Ptr 5:8-9), melawan dengan berani dan taat pada Allah (Yak 4:7).

Setan bagaimanapun ciptaan Allah dan atas sepengetahuan/seizin Allah mereka bergerak dengan kehendak bebas. Seperti juga bahwa kejahatan meruyak di dunia oleh kehendak bebas manusia, setan pun bergerak menyebarkan kejahatan dengan kehendak bebasnya. Mengenai bagaimana lepasnya lagi Iblis dari neraka, juga merupakan misteri Ilahi. Dalam Kitab Wahyu 12, iblis dikalahkan oleh St Mikael dan dibuang ke bumi (Why 12:7). Pertempuran berlanjut di dunia. Yang jelas, Kristus memerintahkan dengan penuh cinta kasih, para malaikat dan para kudus serta Bunda Maria sendiri untuk membantu kita dengan perlindungan dan doa-doa mereka untuk melawan si jahat. Akhirnya Iblis akan dikalahkan (Why 20:10).

2. Pergulatan Gereja VS Kuasa Kegelapan

Konsili Vatikan II (1962-1965) menyebut dengan jelas perlawanan setan dan perjuangan Gereja melawannya: “Sebab seluruh sejarah manusia sarat dengan perjuangan sengit melawan kekuatan kegelapan. Pergulatan itu mulai sejak awal mula (Gaudium et Spes artikel 37). “Akan tetapi manusia yang diciptakan Allah dalam kebenaran, sejak awal mula sejarah, atas bujukan si jahat, telah menyalahgunakan kebebasannya. Manusia memberontak melawan Allah dan ingin mencapai tujuannya di luar Allah. Meskipun orang-orang mengenal Allah, namun mereka tidak mau memuliakanNya sebagai Allah melainkan hati mereka yang bodoh diliputi kegelapan, dan mereka memilih mengabdi makhluk daripada Sang Pencipta” (GS artikel 13). “Allah telah mengutus PutraNya dalam daging kita. Allah bermaksud merebut manusia dari kuasa kegelapan iblis (Ad Gentes artikel 3).

“Maka, mereka yang menyangkal keberadaan dan kegiatan iblis, tak mampu memahami pencapaian yang dilakukan oleh Kristus”. Orang Katolik berdasar credo (syahadat, khususnya syahadat yang panjang) percaya bahwa ada makhluk yang tidak tampak pun diciptakan oleh Allah Bapa. Iblis yang dikalahkan Kristus berperang melawan pengikut-pengikut Kristus. Pertempuran melawan roh-roh jahat “dimulai sejak awal dunia dan menurut amanat Tuhan akan tetap berlangsung hingga kiamat” (GS artikel 37). Maka tugas kita ialah berusaha agar dalam segalanya berkenan pada Tuhan (bdk. 2Kor 5:9). Kita pun harus “mengenakan perlengkapan senjata Allah supaya kita mampu bertahan menentang tipu muslihat setan serta mengadakan perlawanan pada hari yang jahat… Sebab sebelum memerintah bersama Kristus dalam kemuliaanNya, kita akan menghadap tahta pengadilan Kristus supaya masing-masing menerima ganjaran bagi apa yang dijalankannya dalam hidupnya ini, entah itu baik atau jahat” (bdk. 2Kor 5:10, LG 48).

3. Bagaimana Gereja Menghadapi-nya?

Meskipun peperangan melawan iblis berlangsung dengan melibatkan semua manusia sepanjang zaman, namun kekuasaan iblis menghebat jika kedosaan dan kemerosotan moral masyarakat meningkat. Hendaknya kita mengingat perkataan Santa Theresia Avilla yang meminta kita menghapuskan ketakutan yang tak beralasan mengenai setan ini. Santa Teresia Avilla mengatakan: “…saya tidak pernah takut pada mereka melainkan tampaknya merekalah yang takut pada saya. Saya tidak pernah memberikan perharian kepada mereka lebih dari kepada lalat-lalat. Saya rasa mereka ialah pengecut. Musuh-musuh ini tidak tahu bagaimana menyerang, kecuali menyerang mereka yang takluk kepada mereka, atau ketika Allah mengizinkan mereka melakukan itu demi kebaikan yang lebih besar bagi pelayan-pelayan-Nya… Kita memahami bahwa kerusakan yang lebih besar dapat menimpa kita akibat satu dosa ringan dibandingkan dari seluruh neraka bersatu karena hal ini demikianlah adanya. Betapa para setan ini membuat kita takut karena kita ingin dibuat takut melalui keterikatan-keterikatan lain: terhadap penghormatan, kepemilikan dan kesenangan-kesenangan! … Namun jika kita membenci itu semua untuk Allah dan kita memeluk salib serta melayani Allah, maka setan akan kabur. Setan ialah sahabat dusta dan kebohongan dan setan ialah dusta dan kebohongan itu sendiri. Setan tidak akan membuat perjanjian dengan siapapun yang berjalan dalam kebenaran”.

Setan bisa merasuki manusia. Siapa yang bisa melepaskan orang dari kerasukan setan? Siapapun pengikut Kristus dan setiap orang serta komunitas yang berseru dalam nama Yesus Kristus mampu melakukannya dengan baik dan mereka harus dalam kondisi batin yang benar (bebas pendoa, biasa puasa dan pantang, rajin menerima ekaristi dan sakramen tobat). Namun hal ini harus dalam rangka pelayanan, bukan mencari keuntungan pribadi. Dalam Gereja Katolik, walaupun tiap orang baik awam maupun imam diberi kuasa (dan untuk imam kuasanya khusus karena imamatnya), namun secara resmi, praktek mengenai hal ini hanya diberikan oleh Uskup dan hanya untuk imam-imam tertentu saja. Maksudnya agar ketertiban dan fokus pastoral keuskupan tetap terjaga. Maka yang penting bagi umat dan imam pada umumnya ialah melakukan tugas sebaik-baiknya di bidang masing-masing dan saling berkomunikasi dengan baik. Buah-buah dari karya pelayanan ini pastilah baik jika dilakukan menurut ketaatan pada otoritas Gerejawi setempat. Kegiatan di luar itu disebut pelepasan atau pembebasan dari setan, bukan eksorsisme, karena eksorsisme sebenarnya ialah ritual atau upacara sakramentali yang ada buku pedomannya, seperti halnya tata ibadat lainnya dalam Gereja Katolik.

Menghadapi kuasa kegelapan, Katekismus Gereja Katolik (KGK) menyatakan dengan tegas melarang umat melakukan kerjasama dengan kuasa kegelapan (okultisme dll).

KGK 2116 Segala macam ramalan harus ditolak: mempergunakan setan dan roh jahat, pemanggilan arwah atau tindakan-tindakan lain, yang tentangnya orang berpendapat tanpa alasan, seakan-akan mereka dapat “membuka tabir” masa depan Bdk. Ul 18:10; Yer 29:8.. Di balik horoskop, astrologi, membaca tangan, penafsiran pratanda dan orakel (petunjuk gaib), paranormal dan menanyai medium, terselubung kehendak supaya berkuasa atas waktu, sejarah dan akhirnya atas manusia; demikian pula keinginan menarik perhatian kekuatan-kekuatan gaib. Ini bertentangan dengan penghormatan dalam rasa takwa yang penuh kasih, yang hanya kita berikan kepada Allah.

Itulah sebabnya, orang yang sudah dibaptis dan menerima Kristus pun bisa kerasukan karena di samping setan itu makhluk rohani yang punya kebebasan untuk menyerang ataupun pasif, manusia pun ialah makhluk yg punya kebebasan untuk melakukan apapun termasuk melakukan hal-hal yg melemahkan dirinya sendiri, seperti melakukan dosa, ataupun menyerahkan orang lain pada pihak si jahat. Yudas ialah contoh paling tepat untuk hal ini. Setelah ia menyantap roti bersama Kristus, ia malah kerasukan iblis.

KGK 2117 Semua praktik magi dan sihir, yang dengannya orang ingin menaklukkan kekuatan gaib, supaya kekuatan itu melayaninya dan supaya mendapatkan suatu kekuatan adikodrati atas orang lain – biarpun hanya untuk memberi kesehatan kepada mereka – sangat melanggar keutamaan penyembahan kepada Allah. Tindakan semacam itu harus dikecam dengan lebih sungguh lagi, kalau dibarengi dengan maksud untuk mencelakakan orang lain, atau kalau mereka coba untuk meminta bantuan roh jahat. Juga penggunaan jimat harus ditolak. Spiritisme sering dihubungkan dengan ramalan atau magi. Karena itu Gereja memperingatkan umat beriman untuk tidak ikut kebiasaan itu. Penerapan apa yang dinamakan daya penyembuhan alami tidak membenarkan seruan kepada kekuatan-kekuatan jahat maupun penghisapan orang-orang lain yang gampang percaya.

Perlawanan Gereja terhadap kegelapan jelas dari buku “Upacara Sakramentalia untuk Eksorsisme”, buku resmi tahun 1985. Pada tahun 1999 telah diterbit buku yang baru. Buku-buku eksorsisme ini, baik yang lama (1985) maupun yang baru (1999) belum diterjemahkan secara resmi ke dalam bahasa Indonesia oleh Komisi Liturgi KWI. Dalam buku ini disebut sarana-sarana sakramentalia yaitu air suci, air suci, minyak suci, garam yang diberkati, salib, dan benda-benda kudus lain, serta stola imam. Memang, karena buku sakramentalia eksorsisme merupakan pegangan imam, seperti halnya buku “Tata Perayaan Ekaristi” dan buku-buku sakramen lainnya, maka hanya imamlah yang boleh melakukan upacara eksorsisme menurut dengan langkah-langkah dalam buku itu. Sedangkan di luar itu tidak boleh disebut sebagai eksorsisme melainkan pelepasan yang bisa dilakukan siapapun dalam nama Yesus Kristus. Ada pula buku pegangan untuk awam untuk pelepasan ini dengan persyaratan tertentu.


Dalam pergulatan ini, Gereja dianugerahi upacara sakramentalia eksorsisme. Upacara ini untuk kasus kerasukan setan yang berat. Untuk kasus ringan biasa, setiap orang katolik yang berdisposisi baik (penuh rahmat, tidak berdosa berat) bisa melakukannya dengan doa-doa standard (Rosario, doa kepada malaikat agung St Mikael, dengan air berkat, garam berkat). Eksorsisme berasal dari bahasa Yunani ”exousia” yang berarti ”kewenangan, kekuasaan”. Doa eksorsisme berarti melalui imam Gereja memohon kepada Allah Yang Mahakuasa untuk menggunakan kewenangan-Nya mendesak roh jahat yang sedang melawan kehendak Allah.Jadi, eksorsisme ialah doa permohonan yang rendah hati dilambungkan bagi Allah yang Mahakuasa dan Yesus Kristus putra-Nya.

Dalam tradisi agama-agama, roh-roh jahat diusir dengan suara gaduh dengan memukul lonceng, gong dsb, atau dengan memukuli si korban dengan maksud agar roh-roh jahat itu keluar dari tubuhnya. Dalam tradisi agama Yahudi, roh-roh jahat sering diusir dengan menyuruh mereka masuk ke benda atau hewan, misalnya ke biji mata anjing atau ke babi-babi (mirip dengan yang dilakukan Yesus pada Luk 8:30). Cara Yesus mengusir setan tidak berbelit. Ia menggunakan sabda-Nya ssaja. Para murid Yesus terkadang tak sanggup mengusir roh jahat (Luk 9: 38-43). Karena itu, Yesus menekankan pentingnya doa dan puasa untuk mengusir roh jahat tertentu (Mat 7:21). Iman ialah kunci bagi keberhasilan eksorsisme (Mrk 9:18,19). Sekalipun sudah diusir, roh jahat bisa kembali dengan kekuatan lebih besar (Mat 12:43-45).

Setelah kebangkitan Kristus, para murid mempraktekkan eksorsisme atas nama-Nya. Ada eksorsis Yahudi yg gagal mengusir setan sekalipun menyebut nama Yesus dan paulus, malahan dipukuli setan, sedangkan para murid Kristus berhasil mengusirnya (Kis 19:13-16). Kain yang pernah dipakai paulus dipakai untuk mengusir roh jahat (Kis 19:11-12). Setelah generasi para rasul meninggal, generasi berikutnya melanjutkan mempraktekkan eksorsisme. Waktu itu itu tidak ada penunjukan atau kursus, langsung praktek saja asalkan bersih dari dosa berat dan beriman kuat. Sejak abad ke-3, mengingat bahaya penyalahgunaan, Gereja mulai memilih imam tertentu untuk eksorsisme dan penyembuhan. Pada abad pertengahan, upacara eksorsisme mulai dibukukan. Eksorsisme kemudian memakai buku, dengan rumusan baku yang ditentukan oleh Gereja, bukan lagi berupa doa spontan. Eksorsisme meriah menjadi upacara liturgi resmi Gereja dan hanya boleh dilakukan oleh imam yang mendapat tugas dari uskup. Akhir abad 19, Paus Leo XIII mendapat penglihatan bahwa roh-roh jahat berusaha menyerang Roma. Maka beliau kemudian merumuskan doa eksorsisme yang kemudian dimuat dalam ”Rituale Romanum”, yaitu seruan kepada malaikat agung St Mikael.

Eksorsisme hanya bisa dilakukan setelah mengetahui bahwa korban sungguh di bawah pengaruh roh jahat, bukan karena pengaruh psikologis dan medik. Karena itu imam eksorsis didampingi tim medik dan psikologis. Biasanya roh jahat menolak pergi dan melawan balik imam eksorsis. Perlawanan ini bisa berlangsung berbulan-bulan bahkan ada yang bertahun-tahun. Maka harus dilakukan banyak sekali (berkali-kali) eksorsisme karena terkadang bukan hanya satu jenis roh jahat yang merasuki melainkan banyak jenis. Roh-roh kegelapan itu pergi sendiri ketika mereka memutuskan untuk pergi atau dengan rela, atau karena desakan kekuatan doa eksorsisme. Sekali diusir, roh jahat tak kan kembali lagi kecuali si korban mengundangnya kembali sekalipun tidak sadar bahwa mengundang kembali. Sekuat apapun roh jahat, mereka menyerah pada kekuatan Allah.


4. Kekuatan Surgawi Sakramen Ekaristi

Pada banyak kasus kerasukan, setan membebaskan orang itu dari cengkeramannya hanya dengan meletakkan korban di hadapan Sakramen Mahakudus. Mengapa?

Selama kira-kira 2000 tahun, Gereja Katolik mewartakan bahwa Yesus Kristus sungguh hadir, real dan substansial, di dalam Ekaristi, yaitu Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allahan-Nya di dalam rupa roti dan anggur (KGK 1374). Pada saat imam selesai mengucapkan doa konsekrasi – “Inilah Tubuh-Ku” dan “Inilah darah-Ku”, Tuhan sesuai janji-Nya mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya. Kejadian ini disebut sebagai “transubstansiasi“, yang mengakibatkan substansi dari roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus (lih. KGK 1376). Jadi yang tinggal hanyalah rupa roti dan anggur, tetapi substansi roti dan anggur sudah lenyap, digantikan dengan kehadiran Yesus.

Yesus hadir seutuhnya di dalam roti itu, bahkan sampai di partikel yang terkecil dan di dalam setiap tetes anggur. Pemecahan roti bukan berarti pemecahan Kristus, sebab kehadiran Kristus utuh, tak berubah dan tak berkurang di dalam setiap partikel. Dengan demikian kita dapat menerima Kristus di dalam rupa roti saja, atau anggur saja, atau kedua bersama-sama (lih. KGK 1390). Dalam setiap hal ini, kita menerima Yesus yang utuh di dalam sakramen.

Karena Yesus sungguh-sungguh hadir di dalam Ekaristi, maka kita memberi hormat di depan tabernakel, kita berlutut dan menundukkan diri sebagai tanda penyembahan kepada Tuhan. Itulah sebabnya Gereja memperlakukan Hosti Kudus dengan hormat, dan melakukan prosesi untuk menghormati Hosti suci yang disebut Sakramen Maha Kudus, dan mengadakan adorasi di hadapan-Nya dengan meriah (lih. KGK 1378).

Kehadiran Kristus di dalam Ekaristi bermula pada waktu konsekrasi dan berlangsung selama rupa roti dan anggur masih ada (KGK 1377), maksudnya pada saat roti dan anggur itu dicerna di dalam tubuh kita dan sudah tidak lagi berbentuk roti, maka itu sudah bukan Yesus. Jadi kira-kira Yesus bertahan dalam diri kita [dalam rupa hosti] selama 15 menit. Sudah selayaknya kita menggunakan waktu itu untuk berdoa menyembah-Nya, karena untuk sesaat itu kita sungguh-sungguh menjadi tabernakel Allah yang hidup!

Kristus sendiri yang mengundang kita untuk menyambut Dia dalam Ekaristi (KGK 1384), dan karena itu kita harus mempersiapkan diri untuk saat yang agung dan kudus ini, dengan melakukan pemeriksaan batin. Karena Ekaristi itu sungguh-sungguh Allah, maka kita tidak boleh menyambutNya dalam keadaan berdosa berat. Untuk menyambut-Nya dengan layak kita harus berada dalam keadaan berdamai dengan Allah. Jika kita sedang dalam keadaan berdosa berat, kita harus menerima pengampunan melalui Sakramen Tobat sebelum kita dapat menyambut Komuni Kudus (KGK 1385).

Kelebihan hosti yang dikonsakrir sebagai Tubuh Kristus, disimmpan dalam taberbakel. Pada beberapa Paroki, sudah dibangun “Kapel Adorasi Abadi 24 jam” yang di dalamnya ditahtakan Sakramen mahakudus dan dijaga bergiliran oleh umat yang berkanjang dalam doa. Devosi Adorasi Sakramen Mahakudus ini membuat Gereja makin berpendar dalam kasih ilahi.

5. Ekaristi ialah Kristus

Ekaristi disebut sebagai sumber dan puncak kehidupan Kristiani (LG 11) karena di dalamnya terkandung seluruh kekayaan rohani Gereja, yaitu Kristus sendiri (KGK 1324). Pada perjamuan terakhir, pada malam sebelum sengsara-Nya, Kristus menetapkan Ekaristi sebagai tanda kenangan yang dipercayakan oleh Kristus kepada mempelai-Nya yaitu Gereja (KGK 1324). Kenangan ini berupa kenangan akan wafat dan kebangkitan Kristus yang disebut sebagai Misteri Paska, yang menjadi puncak kasih Allah yang membawa kita kepada keselamatan (KGK 1067). Keutamaan Misteri Paska dalam rencana Keselamatan Allah mengakibatkan keutamaan Ekaristi, yang menghadirkan Misteri Paska tersebut, di dalam kehidupan Gereja (KGK 1085).

Gereja Katolik mengajarkan bahwa kurban salib Kristus terjadi hanya sekali untuk selama-lamanya (Ibr 9:28). Kristus tidak disalibkan kembali di dalam setiap Misa Kudus, tetapi kurban yang satu dan sama itu dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus (KGK 1366). Hal itu dimungkinkan karena Yesus yang mengurbankan Diri adalah Tuhan yang tidak terbatas oleh waktu dan kematian. Kristus telah mengalahkan maut, karenanya Misteri Paska-Nya tidak hanya terbenam sebagai masa lampau, tetapi dapat dihadirkan di masa sekarang (KGK 1085). Karena bagi Tuhan, segala waktu adalah ‘saat ini’, sehingga masa lampau maupun yang akan datang terjadi sebagai ‘saat ini’. Dan kejadian Misteri Paska sebagai ‘saat ini’ itulah yang dihadirkan kembali di dalam Ekaristi, dengan cara yang berbeda, yaitu secara sakramental. Dengan demikian, Ekaristi menjadi kenangan hidup akan Misteri Paska dan akan segala karya agung yang telah dilakukan oleh Tuhan kepada umat-Nya, dan sekaligus harapan nyata untuk Perjamuan surgawi di kehidupan kekal (lih. KGK 1362,1364,1340,1402,1405).

6. Buah-buah Ekaristi/ Komuni kudus

Komuni memperdalam persatuan kita dengan Yesus, hal ini berdasarkan atas perkataan Yesus, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum Darah-Ku, ia tinggal dalam Aku dan Aku di dalam Dia” (KGK 1391).
Komuni memisahkan kita dari dosa, karena dengan mempersatukan kita dengan Kristus kita sekaligus dibersihkan dari dosa yang telah kita lakukan dan melindungi kita dari dosa-dosa yang baru (KGK 1393).
Ekaristi membangun Gereja di dalam kesatuan. Oleh Ekaristi Kristus mempersatukan kita dengan semua umat beriman menjadi satu Tubuh, yaitu Gereja. Ekaristi memperkuat kesatuan dengan Gereja yang telah dimulai pada saat pembaptisan (KGK 1396). Kesatuan dengan Gereja ini mencakup Gereja yang masih berziarah di dunia, Gereja yang sudah jaya di Surga, dan Gereja yang masih dimurnikan di dalam Penyucian (lih. KGK 954)
Ekaristi mewajibkan kita menolong kaum miskin, sebab dengan bersatu dengan Kristus dalam Ekaristi, kita juga mengakui Kristus yang hadir di dalam orang-orang termiskin yang juga menjadi saudara-saudara-Nya (KGK 1397), yang di dalam Dia, menjadi saudara-saudara kita
Ekaristi mendorong kita ke persatuan umat beriman, sebab Ekaristi, menurut perkataan Santo Agustinus adalah ‘sakramen kasih sayang, tanda kesatuan dan ikatan cinta (KGK 1398) yang seharusnya secara penuh dialami bersama oleh semua orang yang beriman di dalam Kristus.
Ekaristi yang disanbut dengan kerinduan yang berkobar menghalangi kejahatan merasuki dunia.

7. Sakramen-Sakramen Lain

Sakramen-sakramen lain khususnya Baptis, Krisma Tobat, Pengurapan Orang Sakit, menolong kita lebih bersatu dengan Kristus dan menjauhkan kita dari serangan setan. Hanya yang dengan rendah hati mengakui kedosaan dan diampuni dalam sakramen tobat, serta menjalankan penitensi akan menjauhkan dirinya dari kejahatan dan si jahat itu sendiri. Sakramen pengurapan orang sakit membantu si sakit berjumpa dengan Kristus dan diselamatkan dari godaan dalam penderitaan sakitnya.

8. KESIMPULAN

Kuasa kegelapan ada sejak malaikat memberontak pada Allah. Mereka memengaruhi manusia agar jauh dari Allah dan rencana penebusan-Nya. Manusia berjuang menghadapi kegelapan yang ada dari luar yang mau mempengaruhi ke dalam diri. Selain itu, manusia pun masih harus menghadapi kebebasan dalam dirinya sendiri yang bisa disalahgunakan sehingga berdosa yang membuat dia jauh dari Allah. Allah menganugerahkan Kristus yang dijanjikan sejak Perjanjian Lama hingga dipenuhi dalam sengsara wafat dan kebangkitan Kristus, yang dengan itu menganugerahkan ekaristi sebagai kekuatan utama, dan sakramen-sakramen Gereja serta sakramentalia eksorsisme. Manusia yang beriman pada misteri rencana Allah ini dan menerima Kristus dan Gereja-Nya, mengalami keselamatan dan perlindungan. Secara khusus, ekaristi membuat manusia hidup dalam kekuatan Ilahi di dunia untuk menguatkan hidup dan menyalurkan rahmat pada keluarga, sesama dan masyarakat, membebaskan manusia dari kegelapan oleh Sang Terang yaitu Tuhan Yesus Kristus.

9. Doa Melawan Iblis (Gubahan Bapa Suci Paus Leo XIII)

”Santo Mikael Malaikat agung, jagalah kami dalam pertempuran, jadilah pelindung kami melawan kejahatan dan tipu daya si jahat. Dengan rendah hati, kami memohon kepadamu, semoga Allah menghardik setan, dan engkau, Pangeran bala tentara surga, dengan kekuatan Allah, lemparkanlah ke dalam neraka, setan dan roh-roh jahat yang mengembara di dunia untuk mengancurkan jiwa-jiwa.” Amin.



Sumber : http://www.katolisitas.org/





Borobudur Temple-Jawa Tengah, Indonesia 


Prambanan Temple-Jawa Tengah, Indonesia 


Raja Ampat-Papua Barat, Indonesia 

Rammang Maros-Sulawesi, Indonesia 

Bromo Mountain-Jawa Timur, Indonesia 

Pekalen-Jawa Timur, Indonesia 

Conservation Of Sibolangit-Sumatera Utara, Indonesia 


Crater Lake Of Rinjani-NTB, Indonesia 

Waterfall of Lembah Anai-Sumatera Barat, Indonesia 

Beras Basah Island-Kalimantan Timur, Indonesia 


Labuan Cermin Lake-Kalimantan Timur-Indonesia


Pancur Aji Sanggau Waterfall-Kalimantan Barat-Indonesia

Banda Island-Maluku Tengah-Indonesia


Marine Park of Bunaken-Sulawesi Utara-Indonesia


Embeh Island-Sulawesi Utara-Indonesia


Beratan Bedugul Lake-Bali-Indonesia

Tanah Lot-Bali-Indonesia


Tanjung Tinggi Beach-Belitung-Indonesia