Rabu, 04 Maret 2015

                                                                                                                                         
Mengapa ada corpus Yesus di salib Katolik






“Orang Yahudi menuntut tanda dan orang Yunani mencari hikmat,” kata Rasul Paulus, “Tetapi kami memberitakan Kristus yang tersalib. Suatu sandungan bagi orang Yahudi dan kebodohan bagi orang bukan Yahudi, tetapi bagi mereka yang dipanggil… Kristus adalah kekuatan dan hikmat Allah!” (1Kor 1:22-24) Bahkan dengan lebih tegas Rasul Paulus melanjutkan, “Aku memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan…” (1Kor 2:2). Kristus yang tersalib. Itulah yang menjadi inti pewartaan Rasul Paulus. Tentu, ini tidak berarti bahwa ia tidak percaya Tuhan Yesus telah bangkit, sebab Paulus juga berkata, “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1Kor 15:14). Maka, pemberitaan Kristus yang tersalib, sesungguhnya mengingatkan kita semua, akan betapa mahal harga yang harus dibayar oleh Kristus Tuhan kita, sebelum Ia bangkit dari kematian-Nya, untuk melepaskan kita—umat manusia—dari ikatan dosa dan maut. Di kayu salib itu, Yesus menggenapi apa yang dikatakan-Nya sendiri kepada para murid-Nya, “Tiada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13).

Maka, Gereja Katolik tidak dapat tidak, untuk mewartakan hal yang sama. Di setiap gedung-gedung gereja Katolik, dan rumah umat Katolik, bahkan dikenakan di leher orang Katolik, ada salib yang padanya tergantung suatu penggambaran tubuh atau ‘corpus’ Kristus yang tersalib. Ini menjadi suatu tanda bukti, betapa Gereja dengan setia mengenangkan pengorbanan Kristus, yang dengan salib suci-Nya, telah menebus dunia. “Apakah yang terjadi pada Injil dan pada Kekristenan, jika tanpa Salib Kristus, tanpa kurban penderitaan-Nya?” tanya Paus Paulus VI. “Itu akan menjadi sebuah Injil, sebuah Kekristenan, tanpa Penebusan dosa, tanpa Penyelamatan; sebuah Penebusan dan Penyelamatan yang tentangnya—kita harus mengakuinya di sini dengan ketulusan yang tak dapat dikurangi—kita mutlak membutuhkannya. Tuhan telah menebus kita dengan Salib itu, dengan kematian-Nya. Ia telah memberikan kita kembali, hak untuk hidup…” (Paus Paulus VI, Khotbah, 24 Maret 1967). Dengan memandang kepada Salib Kristus, kita diingatkan akan begitu kejamnya dosa—termasuk dosa-dosa kita—yang membuat-Nya sampai tergantung di sana. Namun juga, kita diyakinkan akan kasih Allah yang tiada bertepi, yang membuat-Nya mau menebus dosa kita, sampai menumpahkan darah-Nya sehabis-habisnya. Penderitaan dan wafat-Nya juga mendorong kita untuk tetap tabah dalam menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan hidup sampai akhir hayat, sebab kita percaya, bahwa Tuhan Yesus menyertai kita. Ia telah terlebih dahulu melalui segala derita, untuk sampai kepada kemuliaan-Nya. Kitapun akan sampai ke sana, jika kita setia dan rela memikul salib kehidupan kita.

Namun tak dapat dipungkiri, bahwa penggambaran Kristus yang tersalib kadang mengundang rasa curiga dari sejumlah orang yang mempertentangkan penggambaran itu dengan firman Tuhan yang kita baca hari ini di Bacaan Pertama. Di sana disampaikan bahwa Tuhan melarang orang Israel untuk membuat patung yang menyerupai apapun yang ada di langit, di bumi maupun di bawah bumi (lih. Kel 20:4). Namun Gereja Katolik tidak mengartikan ayat itu terlepas dari ayat-ayat yang lain dalam Kitab Suci. Ayat tersebut berkaitan dengan ayat sebelumnya, yaitu bahwa kita tidak boleh mempunyai allah lain di hadapan Tuhan. Sebab pada zaman kitab itu ditulis, bangsa Israel kerap membuat patung dan menjadikan patung itu sebagai allah lain di hadapan Allah. Mereka menjadikan patung anak lembu emas menjadi allah mereka (lih. Kel 32). Maka tentu Allah tidak berkenan. Namun jika patung dibuat untuk mengarahkan hati kepada Tuhan dan tidak disembah sebagai allah lain, hal itu tidak dilarang. Bahkan Allah sendiri memerintahkannya, seperti pada saat Ia menyuruh bangsa Israel untuk membuat patung kerub (malaikat) untuk diletakkan di atas tabut perjanjian (lih. Kel 25:18-22). Di Perjanjian Baru, Allah sendiri memperbaharui perintah-Nya tentang hal ini, dengan menjadikan Kristus “gambar dari Allah yang tidak kelihatan” (Kol 1:15). Maka Gereja Katolik hanya mengikuti teladan dari Allah sendiri, untuk membuat gambaran Kristus, yang adalah gambaran Allah. Bukti peninggalan dari Gereja perdana juga menunjukkan hal ini. Mereka membuat gambar-gambar dan simbol Yesus di dinding-dinding katakomba (gereja bawah tanah), di mana mereka beribadah. Tentu mereka tidak menduakan Allah dengan gambar-gambar itu. Hal itu justru menunjukkan kesatuan mereka dengan Kristus sehingga walaupun dianiaya karena mengimani Kristus, mereka lebih memilih mati daripada meninggalkan Dia. Mereka mengikuti jejak Kristus yang tersalib untuk sampai kepada kehidupan kekal.

Melalui cermin di hadapanku, kupandang salib Kristus itu yang menggantung di leherku. “Ya, Tuhan Yesus, terima kasih untuk pengorbanan-Mu. Kumohon rahmat-Mu agar aku boleh tetap setia sampai akhir, untuk mengimani Engkau yang disalibkan untukku dan seluruh dunia, demi menebus dosa-dosa kami.”

sumber: katolisitas.org