Minggu, 14 Agustus 2016

CHIARA CORBELLA PETRILLO - SANTA GIANNA BERETTA MOLLA KEDUA


"Mama akan pergi ke surga untuk merawat Maria dan David, kau di sini bersama Papa. Mama akan berdoa untukmu." ~ Chiara Petrillo, kepada puteranya Francesco.

Chiara, adalah seorang ibu muda Italia berusia 28 tahun yang menolak pengobatan kanker guna menyelamatkan jiwanya, namun membahayakan bahkan dapat membunuh janin bayinya. Francesco, bayinya, lahir sehat; Chiara meninggal dunia.


"Dalam kisah pasangan suami istri Petrillo, orang dapat mengenali penghiburan ilahi dari surga," demikian dikatakan Simone Troisi dan Christiana Paccini, sahabat dekat keluarga Petrillo yang menuliskan buku biografi Chiara: "Chiara Corbella Petrillo: A Witness to Joy" yang diterbitkan oleh Sophia Institute Press. "Mereka mendapati bahwa dalam segala situasi, tidak ada sungguh alasan untuk menjadi sedih. Ini karena Chiara memperlihatkan bahwa jika kita memiliki Allah sebagai pembimbing kita, maka kemalangan itu tidak ada." 

Chiara, 18 tahun, bertemu dengan Enrico Petrillo di Medjugorje pada tahun 2002 dan menikah enam tahun kemudian di Italia pada tanggal 21 September 2008. Dalam masa awal perkawinan mereka, pasangan muda Italia ini menghadapi banyak kesulitan hidup bersama. Anak sulung, Maria, telah didiagnosa cacat payah semenjak dalam kandungan. Chiara dan Enrico menolak untuk mengaborsinya kendati anjuran yang terus-menerus diajukan kepada mereka. Maria hidup selama 30 menit, dibaptis, dicintai dan ditangisi kepergiannya. Anak kedua, David, semenjak dalam kandungan didiagnosa tidak memiliki kaki. David meninggal tak lama sesudah dilahirkan; dia disayangi dan dicintai hingga akhir.

Ketika Chiara mengandung anak ketiga mereka, Francesco, kabar gembira kehamilan ini disampaikan bersamaan dengan berita sedih diagnosa kanker carcinoma mematikan dalam tubuh Chiara. Sepanjang masa kehamilan, Chiara menolak pengobatan apapun yang dapat menyelamatkan hidupnya, sebab itu dapat membahayakan hidup putera yang dikandungnya. Seturut teori moral Katolik, Chiara tidak harus menolak pengobatan untuk menyelamatkan nyawanya. Apabila pengobatan diberikan dengan tujuan untuk menyelamatkan hidup ibu, di mana dampak yang sama sekali tidak diharapkan adalah dapat membunuh janin bayi yang belum dilahirkan, maka secara moral pengobatan dapat diterima. Hal ini sama sekali berbeda dari membunuh si bayi demi menyelamatkan ibunya. Dalam kasus yang terakhir ini, orang dengan sengaja bertujuan membunuh si bayi demi menyelamatkan hidup si ibu. Teori moral Katolik berpegang bahwa adalah tidak pernah, sama sekali tidak pernah, secara moral menerima pembunuhan seorang yang tidak berdosa demi menyelamatkan hidup yang lain. Tidak peduli siapa pun yang hendak diselamatkan itu. 

Sementara kanker mengganas dalam tubuhnya, Chiara menjadi sulit untuk berbicara dan kehilangan penglihatan pada satu matanya, hingga akhirnya menghembuskan napas terakhir. "Penderitaannya menjadi suatu tempat kudus sebab itulah tempat di mana dia berjumpa dengan Allah," kenang Troisi dan Paccini. Ada sesuatu yang berbeda dengan keluarga Petrillo dalam menghadapi masa-masa sulit - mereka bertaut pada rahmat Allah yang menjadikan keluarga mereka teristimewa damai tenang. Mereka berdamai dengan kenyataan bahwa Chiara tidak akan menjadi tua bersama Enrico ataupun menyaksikan Francesco tumbuh dewasa.

Pasangan muda Petrillo menunjukkan bagaimana "tujuan dari hidup kita adalah untuk mengasihi… menikah merupakan suatu hal yang mengagumkan, suatu petualangan yang membuka jalan ke Surga di rumah." Kisah Chiara dan Enrico yang mengagumkan adalah "sebuah kisah keselamatan di mana Allah memperlihatkan Diri-Nya sebagai Allah yang setia: mereka percaya pada-Nya dan mereka tidak dikecewakan."

Chiara bukanlah "seorang perempuan muda luar biasa yang berbeda dari kita." Sebaliknya, dia bergulat dengan banyak ketakutan dan kekhawatiran manusia. "Ia memiliki pertanyaan-pertanyaan yang sama dengan kita, penolakan dan pergulatan yang sama, ketakutan yang sama," demikian tulis Troisi dan Paccini, yang menjadikannya berbeda ialah "kapasitasnya untuk menyerahkan segala sesuatunya dalam tangan Bapa, untuk menyambut rahmat yang dibutuhkan bagi langkah apapun yang harus ditempuhnya."

Chiara, tidak mengandalkan kekuatan dirinya sendiri, melainkan mengandalkan rahmat dan penghiburan dari Allah…. Ia tidak pernah meragukan kesetiaan Allah pada janji-Nya akan kebahagiaan dari kisah hidupnya."

Pada hari-hari terakhir Chiara, Enrico memeluk rahmat Allah seperti yang dilakukan Chiara, seraya mengatakan, "Jika ia hendak pergi bersama Seorang yang mengasihinya lebih dari aku, mengapakah aku harus bersedih?"

"Kebenarannya adalah bahwa salib ini - jika engkau memeluknya bersama Kristus - berhenti menjadi sejelek tampaknya. Jika engkau mengandalkan-Nya, engkau akan mendapati bahwa api ini, salib ini, tidak membakar, dan bahwa damai dapat ditemukan dalam penderitaan dan sukacita dalam kematian," kata Enrico.

"Apabila aku menatap Chiara pada saat ia meregang nyawa, aku jelas menjadi sangat sedih. Tapi aku mengerahkan keberanian dan beberapa jam sebelumnya - sekitar pukul delapan pagi, Chiara wafat siang hari - aku bertanya padanya: 'Chiara, kekasihku, apakah salib ini sungguh manis, seperti yang dikatakan Tuhan?' Ia menatapku dan ia tersenyum, dan dengan suara lirih ia mengatakan, 'Ya, Enrico, sangat manis.'"

Chiara wafat pada tanggal 13 Juni 2012 di rumahnya dengan mengenakan gaun pengantinnya, dengan dikelilingi keluarga, sanak saudara dan sahabat. Kendati masa hidupnya di dunia sudah berakhir, Chiara akan terus menjadi seorang saksi sukacita.




PAUS FRANSISKUS MEREFLEKSIKAN PERAN PENTING SEORANG IBU

"Hidup yang tanpa tantangan itu tidak ada," dan itu merupakan satu alasan mengapa seorang anak membutuhkan ibu, demikian dikatakan Bapa Suci.

Ibu berperan penting dengan membantu anak "melihat masalah-masalah hidup secara realistik," tanpa "terjerat di dalamnya". Seorang ibu membantu anak-anaknya untuk "menangani" masalah-masalah yang ada dengan gagah berani dan menjadikan anak-anak cukup kuat untuk mengatasi masalah-masalah tak terhindarkan yang mereka hadapi.

Tentu saja, dalam peran ini seorang ibu berjalan di garis yang tepat, dengan mencari "keseimbangan yang sehat" bagi si anak, artinya, menurut Bapa Suci, seorang ibu "tidak selalu menghantar anaknya sepanjang jalan yang aman-aman saja, sebab dengan demikian si anak tidak akan dapat berkembang, pula seorang ibu tidak akan membiarkan anaknya hanya di jalan yang mengandung resiko, sebab itu membahayakan." Seorang ibu, "tahu bagaimana menyeimbangkannya."

Dalam kunjungan beliau pada tanggal 4 Mei 2013 ke Basilika St. Mary Major, Bapa Suci secara istimewa menekankan keibuan Maria. Dalam hidupnya sendiri, Maria "melihat banyak saat-saat sulit," namun demikian "sebagai seorang ibu yang baik ia dekat dengan kita, agar kita jangan pernah patah semangat dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup" dan "agar kita dapat merasakan dukungannya dalam menghadapi dan mengatasi kesulitan-kesulitan dalam perjalanan hidup manusiawi dan Kristiani kita." Selanjutnya Bapa Suci meyakinkan bahwa "Maria membantu kita untuk bertumbuh sebagai seorang manusia dan dalam iman, untuk menjadi kuat dan tidak pernah jatuh ke dalam pencobaan menjadi manusia-manusia dan orang-orang Kristen gampangan, melainkan untuk hidup penuh tanggung-jawab, untuk berjuang bahkan dengan terlebih luhur."

sumber : http://yesaya.indocell.net/




Borobudur Temple-Jawa Tengah, Indonesia 


Prambanan Temple-Jawa Tengah, Indonesia 


Raja Ampat-Papua Barat, Indonesia 

Rammang Maros-Sulawesi, Indonesia 

Bromo Mountain-Jawa Timur, Indonesia 

Pekalen-Jawa Timur, Indonesia 

Conservation Of Sibolangit-Sumatera Utara, Indonesia 


Crater Lake Of Rinjani-NTB, Indonesia 

Waterfall of Lembah Anai-Sumatera Barat, Indonesia 

Beras Basah Island-Kalimantan Timur, Indonesia 


Labuan Cermin Lake-Kalimantan Timur-Indonesia


Pancur Aji Sanggau Waterfall-Kalimantan Barat-Indonesia

Banda Island-Maluku Tengah-Indonesia


Marine Park of Bunaken-Sulawesi Utara-Indonesia


Embeh Island-Sulawesi Utara-Indonesia


Beratan Bedugul Lake-Bali-Indonesia

Tanah Lot-Bali-Indonesia


Tanjung Tinggi Beach-Belitung-Indonesia