Selasa, 12 Agustus 2014


Pengungsi Katolik Irak di Lebanon mengisahkan penderitaan akibat serangan ISIS



13/08/2014


Kenangan brutal di suatu malam pada bulan Juni di rumahnya di dekat Mosul, Irak utara, membuat Yoseph berusia 48 tahun, yang kini mengungsi di Libanon, menangis.

“Orang-orang ini tidak mengenal prikemanusiaan, kesopanan, atau menghormati kehidupan manusia,” katanya, yang mengacu kepada para pejuang Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS).

Pertemuan dengan Catholic News Service pada 8 Agustus di Pusat Migran, yang dikelola Karitas Lebanon di Beirut, ia dan pengungsi Katolik Irak lainnya meminta agar nama mereka tidak disebutkan, berbagi pengalaman traumatis yang menyebabkan eksodus massal.

Yoseph ingat bagaimana istri dan anak remaja mereka, Bachar, berada di ruang tamu mereka. Dua anak lain sudah tidur sekitar pukul 22:00 waktu setempat.

Tiba-tiba empat militan menerobos ke dalam rumah, senjata ditodongkan pada kepala ayah dan anak itu. “Beri kami emas dan barang-barang berharga,” kata seorang pria seperti dikutip Yoseph.

Diselimuti dengan rasa takut, istri Yoseph mencoba dengan tenang mengumpulkan semua perhiasannya. Salah satu militan, melihat salib di leher Bachar, merampas salib itu dengan marah dan mulai memukuli anak itu, menuduh keluarga menahan emas mereka.

“Yang pasti adalah mereka (teroris) bukan orang Irak. Orang berjenggot bukan dari Irak,” kata Yoseph.

Setelah menggeledah rumah mereka untuk mencari barang-barang berharga lainnya, para teroris itu mengingatkan mereka bahwa kelompoknya akan kembali dalam waktu 48 jam.

Ultimatum kelompok itu: Keluarga harus masuk Islam, membayar pajak, atau dibunuh.

Yoseph tahu bahwa ia tidak punya pilihan selain melarikan diri dengan segera bersama keluarganya. “Kami sangat senang, hidup kami baik,” katanya, sambil menangis.

“Semua pekerjaan ayah saya dan saya sendiri serta saudara-saudara saya, bertahun-tahun … hilang hanya dalam beberapa detik,” kata pria itu, yang harus meninggalkan bisnisnya.

Keesokan paginya, “saya pergi ke makam dan menyampaikan selamat tinggal kepada ayah saya, dan saya pergi Misa di gereja saya untuk menerima Komuni. Itu adalah Misa terakhir di desa saya.”

“Saya pikir,” lanjutnya, “kalau seandainya saya mati saat ini, saya pasti berada di rumah Tuhan.”

Keluarga itu melarikan diri ke Irbil pada malam setelah serangan. Mereka menumpang pesawat ke Beirut.

Yoseph mengatakan tetangganya – seorang wanita berusia 85 tahun, yang lumpuh akibat stroke, dan putrinya berusia 60 tahun – para militan itu memberikan kesempatan enam jam kepada mereka untuk meninggalkan rumah mereka.

Kedua wanita tidak punya pilihan selain meninggalkan rumah mereka dengan berjalan kaki, putrinya membantu ibunya yang cacat sepanjang perjalanan, kata Yoseph.

Dia menambahkan ia berharap mereka bisa mendapatkan tumpangan dari konvoi mobil dan truk yang penuh dengan orang Kristen yang meningalkan tempat tinggal mereka.

Melalui seorang kerabat, Yoseph mendapat kamar apartemen di Beirut, tapi sewanya sekitar US$ 850. Karena mahal, ia mencari tempat lain yang lebih murah karena ia mengetahui tabungannya akan habis.

Lowongan untuk mendapatkan pekerjaan sangat kecil, mengingat keadaan ekonomi Lebanon yang sulit. Pengungsi baru harus bersaing dengan pengungsi lainnya untuk bekerja.

Saat ini lebih dari 1,5 juta pengungsi Suriah – sama dengan sekitar seperempat penduduk Lebanon – tinggal di Lebanon.

Bahkan sebelum serangan militan ISIS di Mosul dan Provinsi Niniwe mulai Juni, sudah ada sekitar 9.000 pengungsi Irak di Lebanon, sebagian besar melarikan diri dari tanah air mereka setelah invasi tahun 2003.

“Saya bingung dan gugup, apa yang akan terjadi ke depan,” lanjut Yoseph.

Anak-anak saya bertanya kepada saya, apa yang akan kita lakukan? (ISIS) membuat kita meninggalkan Irak, dan kini (serangan) terjadi di Lebanon,” katanya, mengacu pada serangan tersebut pada 2 Agustus oleh militan ISIS ke kota Lebanon sekitar 55 km sebelah timur laut Beirut.

“Anak-anak terus dihantaui rasa takut,” tambah Yoseph.

Sumber: UCA News