Senin, 14 Maret 2011

RAHASIA MENAKJUBKAN DARI JIWA-JIWA DI API PENYUCIAN


Suatu hari saat diriku sedang berkunjung ke rumah seorang teman, terlihat olehku sebuah buku kecil warna biru dengan layout yang cukup mengundang penasaran diriku. Lalu kuambil buku itu dan kubaca judulnya " RAHASIA MENAKJUBKAN DARI JIWA-JIWA DI API PENYUCIAN". Setelah halaman demi halaman kubaca..hatiku begitu berdebar-debar dan aku merasa bahwa tidak ada waktu lagi untuk menunda-nunda pertobatan kita. Kuberharap banyak orang terutama yang seiman, mengetahu akan adanya Api Penyucian itu. Berikut ini adalah sebagian cuplikan dari buku tersebut, semoga dapat menggugah hati para pembaca untuk mulai merenungi hidupnya dan berjuang lebih baik lagi, semoga kita semua. Amin Segalanya bagi Tuhan.

Siapakah Maria Simma itu?
Dia adalah seorang wanita sederhana yang sejak masa kecilnya telah berdoa banyak bagi jiwa-jiwa di Api Penyucian. Ketika dia berusia 25 tahun, dia dianugerahi sebuah karisma yang istimewa di dalam Gereja yang sangat jarang dijumpai, yaitu karisma untuk dikunjungi oleh jiwa-jiwa di Api Penyucian. Dia adalah seorang Katolik yang tekun dan sangat rendah hati. Diapin sangat sederhana juga hidupnya. Dia sangat didukung oleh imam-imam dan uskupnya.

Awal Mula
Maria Simma dikunjungi oleh suatu jiwa dari Api Penyucian untuk pertama kalinya pada tahun 1940 sekitar pukul 3 atau 4 pagi di kamar tidurnya. Waktu itu dia menyangka ada orang yang masuk ke dalam kamarnya.orang itu berjalan maju mundur dengan rasa tidak sabar di sekeliling ruangan.  Dia menyuruh orang itu pergi namun tidak ada sahutan, dan ketika Maria memegang orang itu, yang terasa hanya udara kosong..

Malam berikutnya pria itu kembali lagi, orang (jiwa)yang sama. Lalu berdasarkan saran dari penasehat rohaninya, Maria Simma menanyakan apa yang diinginkan oleh jiwa itu darinya. Jiwa tersebut ternyata menginginkan agar dilakukan upacara Misa Kudus sebanyak 3 kali agar jiwa tersebut dilepaskan (dari Api Penyucian). Setelah itu Maria Simma mendapat kunjungan lebih banyak jiwa lagi dari Api Penyucian.

Sebuah Luka Kasih.
Apakah yang diminta jiwa-jiwa tersebut dari Maria Simma?
Sebagian besar mereka meminta lebih banyak Misa Kudus dilaksanakan dan orang-orang itu akan hadir di dalam Misa Kudus itu. Mereka juga meminta doa-doa Rosario serta Jalan Salib.

Jadi apakah Api Penyucian itu? Api Penyucian adalah sebuah tempat kerinduan, kerinduan setengah mati kepada Allah, kerinduan akan Allah yang kita kenal, karena kita telah melihat Dia namun belum bisa menyatu denganNya.Suatu penundaan yang ditimbulkan oleh ketidakmurnian jiwa, sebuah penundaan dari pelukan Allah.

Tidak ada jiwa di Api Penyucian yang ingin kembali ke dunia ini. Karena mereka memiliki pengetahuan yang jauh lebih tinggi dari kita. Mereka hanya tidak bisa memutuskan kembali ke dalam kegelapan dunia. Kerinduan yang begitu besar terhadap Allah, menyebabkan jiwa-jiwa tersebut dengan keinginannya sendiri pergi ke Api Penyucian untuk membersihkan diri/memurnikan dirinya agar benar-benar layak menghadap Tuhan.

Kita dapat melihat perbedaan penderitaan di Api Penyucian dan di bumi. Dalam Api Penyucian, meskipun rasa sakit yang dialami suatu jiwa amat mengerikan, masih ada kepastian untuk hidup selamanya bersama Allah, Ia adalah sebuah kepastian yang tak tergoyahkan. Kebahagiaannya lebih besar daripada rasa sakitnya. Tak ada di dunia ini yang bisa membuat mereka ingin kembali tinggal di sini, di mana orang tak pernah merasakan kepastian dalam segala hal.

Pada saat kematian orang bisa melihat Allah secara samar-samar, namun semuanya sama, dalam suatu tingkatan kecerahan tertentu dimana hal ini sudah cukup untuk menimbulkan kerinduan yang besar dalam dirinya.

Kemurahan Hati Mengatasi Segala Dosa 
Bunda Maria sering datang ke Api Penyucian untuk menghibur dan menyemangati jiwa-jiwa tersebut. Pada hari Natal, hari Para Kudus, Jumat Agung, Pesta kenaikan Bunda Maria ke Surga dan Kenaikan Yesus, Bunda Maria melepaskan jiwa-jiwa itu.

Banyak orang atau jiwa yang masuk ke Api Penyucian karena melakukan dosa-dosa terutama yang melawan kemurahan hati, melawan kasih kepada tetangga, hati yang keras, kekejaman, memfitnah dan mengumpat, dan diantara semua itu tindakan ternoda yang paling jelek yang membutuhkan pemurnian yang panjang adalah perbuatan memfitnah dan berkata hal-hal yang jelek.

Suatu hari Maria Simma  dimintai tolong untuk mencari tahun apakah seorang wanita dan seorang pri tertentu berada di Api Penyucian, dan sangat mengejutkan ternyata wanita ini telah berada di Surga, sedangkan si pria itu berada di Api Penyucian. Padahal kenyataannya wanita ini telah mati ketika ia melakukan tindakan aborsi sementara si pria sering pergi ke gereja serta menjalani kehidupan yang baik dan berdevosi.

Lalu Maria Simma mencari informasi lebih jauh lagi dan mengira bahwa yang dilihatnya itu salah, tetapi ternyata tidak, dia memang benar. Kedua orang itu mati pada saat yang sama, namun wanita itu mengalami pertobatan yang sungguh-sungguh dan dia sangat rendah hati. Sementara si pria sering mengkritik orang lain. Dia selalu mengeluh dan berbicara hal-hal jelek tentang orang lain. Inilah sebabnya Api Penyucian bagi pria itu begitu lama. Maria Simman Menyimpulkan " Kita tidak boleh menghakimi penampilan seseorang".

Dosa lain yang melawan kemurahan hati adalah penolakan-penolakan kita terhadap beberapa orang tertentu yang tidak kita sukai, penolakan kita untuk berdamai, penolakan kita untuk mengampuni serta segala sikap kebencian di dalam diri kita.

Maria Simma juga mengisahkan tentang seorang wanita yang dia kenal baik. Wanita ini meninggal dan masuk Api Penyucian. Di tempat yang paling mengerikan dari Api Penyucian, dengan penderitaan yang paling mengerikan pula di situ. Ketika dia datang kepada Maria Simma, dia menjelaskan mengapa (dia ada di tempat itu) : Dia memiliki seorang teman sesama wanita, dan di antara keduanya terjadi permusuhan yang besar, yang sebenarnya dahului oleh dia sendiri. Dia mempertahankan permusuhan itu selama bertahun-tahun, meskipun sahabatnya telah berkali-kali minta berdamai dengannya, minta rekonsiliasi. Namun setiap kali dia menolaknya. Ketika dia menderita sakit yang berat, dia tetap saja menutup pintu hatinya, menolak untuk berdamai yang ditawarkan oleh sahabatnya itu, hingga saat kematiannya tiba.

Siapakah yang berpeluang besar memasuki Surga?
Mereka yang memiliki hati yang baik kepada setiap orang. Kasih mengatasi banyak dosa. Ada sarana yang dapat digunakan di dunia ini untuk menghindari Api Penyucian dan bisa langsung masuk Surga, yaitu kita harus berbuat banyak bagi jiwa-jiwa di Api Penyucian, karena mereka nanti akan menolong kita. Kita harus rendah hati, karena ini adalah senjata kuat untuk melawan kejahatan, melawan setan. Kerendahan hati mengusir pergi setan.

Sebuah kesaksian menarik diungkapkan oleh Pastor Berlioux tentang pertolongan yang ditawarkan oleh  jiwa-jiwa ini kepada mereka yang telah menolong jiwa-jiwa tersebut dengan doa-doa dan kurban. Dia bercerita tentang seseorang yang  secara khusus berbakti bagi jiwa-jiwa malang di Api Penyucian dan dia mempersembahkan hidupnya untuk menolong mereka.
" Pada saat kematiannya, dia diserang dengan ganas sekali oleh setan yang melihat dia akan lolos dari cengkeramannya. Nampaknya bahwa penghuni lembah bersatu untuk melawan dia, mengerumuni dia dengan serangan-serangan yang mematikan.
Wanita yang sedang sekarat itu berjuang dengan penuh sengsara untuk beberapa saat, ketika tiba-tiba dia melihat ada kerumunan orang-orang tak dikenal memasuki apartemennya dimana orang-orang tadi dalam keadaan keindahan berkilau-kilauan, yang membuat setan berlarian menjauh dan orang-orang ini mendekati tempat tidurnya, berbicara kepadanya untuk memberinya penghiburan dan dorongan semangat yang sangat menyenangkan. Dengan nafasnya yang terakhir dan dengan sukacita yang besar dia berteriak: " Siapakah engkau? Siapakah engkau yang telah berbuat baik kepadaku?"
Tamu-tamu yang bijaksana itu menjawab:"Kami adalah para penghuni Surga dimana pertolonganmu telah membawa kami kepada Kesucian, dan kami pada gilirannya datang dan berterima kasih untuk menolongmu melewati batas keabadian dan menyelamatkanmu dari tempat yang menyedihkan ini, untuk membawamu kepada kebahagiaan dari Kota Suci."
Dengan kalimat ini nampak sebuah senyuman menyungging di wajah wanita yang sekarat itu, matanya tertutup dan dia tertidur di dalam damai Allah.

Segalanya bagi Tuhan.

(Dicuplik dari buku Rahasia menakjubkan dari Jiwa-Jiwa di Api Penyucian karangan Suster Emmanuel dari Medjugorje)

9 komentar:

Karya-Stefanus mengatakan...

luar biasa.. apa ada yang lebih lengkap?? saya kurang pahamm..

Inquam mengatakan...

Syallom Pak/Mas Stefanus

Terima kasih atas atensinya.

Artikel di atas memang masih jauh dari lengkap, mengingat artikel tersebut dibuat di awal pembuatan Blog Terang Jiwa ini. Dengan demikian sesegera mungkin artikel tersebut akan dilengkapi.

Depan mengatakan...

apakah ada ayat di alkitab yang mendukung teori api penyucian ini?

Inquam mengatakan...

Memang api penyucian tidak secara eksplisit tercantum di dalam alkitab,seperti juga kata "trinitas" atau "inkarnasi", namun kita percaya akan maksud dari kata-kata itu.


Keberadaaan Api Penyucian bersumber dari ajaran Kitab Suci, yaitu dalam beberapa ayat berikut ini:

1. “Tidak akan masuk ke dalamnya [surga] sesuatu yang najis” (Why 21:27) sebab Allah adalah kudus (Is 6:3). Maka kita semua dipanggil kepada kekudusan yang sama (Mat 5:48; 1 Pet 1:15-16), sebab tanpa kekudusan tak seorangpun dapat melihat Allah (Ibr 12:14).

2. Keberadaan Api Penyucian diungkapkan oleh Yesus secara tidak langsung pada saat Ia mengajarkan tentang dosa yang menentang Roh Kudus, “…tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak.” (Mat 12:32) Di sini Yesus mengajarkan bahwa ada dosa yang dapat diampuni pada kehidupan yang akan datang. Padahal kita tahu bahwa di neraka, dosa tidak dapat diampuni, sedangkan di surga tidak ada dosa yang perlu diampuni. Maka pengampunan dosa yang ada setelah kematian terjadi di Api Penyucian, walaupun Yesus tidak menyebutkan secara eksplisit istilah ‘Api Penyucian’ ini.

3. Rasul Paulus mengajarkan bahwa pada akhirnya segala pekerjaan kita akan diuji oleh Tuhan. “Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” (1 Kor 3:15) Api ini tidak mungkin merupakan api neraka, sebab dari api neraka tidak ada yang dapat diselamatkan. Api ini juga bukan surga, sebab di surga tidak ada yang ‘menderita kerugian’. Sehingga ‘api’ di sini menunjukkan adanya kondisi tengah-tengah, di mana jiwa-jiwa mengalami kerugian sementara untuk mencapai surga.

4. Rasul Petrus juga mengajarkan bahwa pada akhir hidup kita, iman kita akan diuji, “…untuk membuktikan kemurnian imanmu yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api- sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan… pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya (1 Pet 1:7). Rasul Petrus juga mengajarkan,

“Kristus telah mati untuk kita … Ia, yang yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan oleh Roh, dan di dalam Roh itu pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang ada di dalam penjara, yaitu roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah…” (1 Pet 3: 18-20). Roh-roh yang ada di dalam penjara ini adalah jiwa-jiwa yang masih terbelenggu di dalam ‘tempat’ sementara, yang juga dikenal dengan nama ‘limbo of the fathers’ (‘limbo of the just‘). Selanjutnya Rasul Petrus juga mengatakan bahwa “Injil diberitakan juga kepada orang-orang mati supaya oleh roh, mereka dapat hidup menurut kehendak Allah” (1 Pet 4:6). Di sini Rasul Petrus mengajarkan adanya tempat ketiga selain surga dan neraka, yaitu yang kini disebut sebagai Api Penyucian.

5. Kitab 2 Makabe 12: 38-45 adalah yang paling jelas menceritakan dasar pengajaran mengenai Api Penyucian ini. Ketika Yudas Makabe dan anak buahnya hendak menguburkan jenazah pasukan yang gugur di pertempuran, mereka menemukan adanya jimat dan berhala kota Yamnia pada tiap jenazah itu. Maka Yudas mengumpulkan uang untuk dikirimkan ke Yerusalem, untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Perbuatan ini dipuji sebagai “perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan” (ay.43); sebab perbuatan ini didasari oleh pengharapan akan kebangkitan orang-orang mati. Korban penebus salah ini ditujukan agar mereka yang sudah mati itu dilepaskan dari dosa mereka (ay. 45).


Tuhan memberkati. amin

Indonesiaku-Tanah Air Beta mengatakan...

nice blog, keep going.. by the way, aku boleh copy-paste gak orasi sucinya?..aku bantu sebarkan..

Inquam mengatakan...

Silakan mas "Indonesiaku-Tanah Air Beta" , Segalanya bagi Tuhan. Syallom

Benecdikta Pamelia Y. mengatakan...

Berkah dalem....Tks banyak atas tulisannya,smg dpt bermanfaat dan dpt menambah pengetahuan iman katolik sy sbg pengikut Xus yg sejati. berkah dalem

cristina elisabet mengatakan...

Sepertinya semua dosa itu sudah kulakukan, dan aku sangat sulit untuk memaafkan orang lain. Aku meremehkan api penyucian. Terima kasih buat artikel ini. Aku akan coba untuk berdamai dengan diri sendiri dan orang lain.

Teddy Wijanarko mengatakan...

Sekedar info, bahwa Marian Centre Indonesia menerbitkan beberapa buku berkaitan dgn jiwa2 di Api Penyucian, salah satunya "BEBASKAN KAMI DARI SINI!". Buku tsb mrpk versi lengkap wawancara bersama Maria Simma. Silahkan hubungi (021)53652364-65. Terima kasih.