Selasa, 01 Desember 2015

ST. DOMINIKUS MELAWAN 15.000 IBLIS


Ketika St. Dominikus sedang berkhotbah tentang Rosario di dekat Carcassone, seorang penganut bidaah Albigensia yang kerasukan setan dibawa kepadanya. Dominikus membebaskan dia dari roh jahat itu di depan banyak umat. Kira-kira ada 12 ribu orang datang untuk mendengarkan dia berkhotbah. Iblis-iblis yang merasuki orang tersebut dipaksa menjawab pertanyaan-pertanyaan St. Dominikus.

Iblis-iblis mengatakan bahwa :

1. Mereka berjumlah 15.ooo di dalam tubuh orang malang itu, karena ia telah menyerang 15 misteri Rosario;

2. Selanjutnya mereka bersaksi bahwa dengan mewartakan Rosario Suci, St. Dominikus menyebarkan ketakutan dan kengerian di dalam neraka, dan bahwa St. Dominikus adalah orang yang paling mereka benci di seluruh dunia, karena jiwa-jiwa yang direnggutnya kembali dari tangan mereka melalui devosi kepada Rosario Suci;

3. Mereka mengatakan juga hal-hal lainnya.

Santo Dominikus melilitkan Rosarionya di leher orang Albigensia itu serta meminta kepada setan-setan itu untuk menceritakan kepadanya siapakah dari antara semua orang kudus di surga yang paling mereka takuti, dan siapakah yang paling disayangi dan dihormati manusia. Mendengar itu, iblis-iblis menjerit-jerit ketakutan sehingga sebagian besar umat yang ada di situ merebahkan diri ke tanah dan pucat ketakutan.

Kemudian dengan segala kelicikannya, agar tidak menjawab pertanyaan St. Dominikus, setan-setan itu menangis dan merintih memilukan sehingga membuat banyak orang yang hadir di situ turut menangis karena sungguh merasa kasihan. Setan-setan itu berbicara melalui bibir orang Albigensia itu memohon dengan sangat:

“ Dominikus, Dominikus, kasihanilah kami, kami berjanji kepadamu bahwa kami tidak akan lagi menyakiti engkau. Engkau selalu berbelas kasihan kepada orang-orang berdosa dan orang-orang yang bersusah. Sayangilah kami, karena kami berada dalam kesulitan yang tak terkatakan. Kami sudah sangat menderita, lalu mengapa engkau bergembira dengan memperberat penderitaan kami ? Apakah engkau belum puas dengan penderitaan kami tanpa menambahkannya lagi? Sayangilah, sayangilah kami !”

St. Dominikus tak terpengaruh sedikit pun oleh rintihan roh-roh jahat itu. Ia mengatakan kepada mereka, bahwa ia tak akan melepaskan mereka sebelum mereka menjawab pertanyaannya. Lalu mereka mengatakan bahwa mereka akan membisikkan jawaban atas pertanyaan itu sedemikian rupa sehingga hanya St. Dominikus sendirilah yang dapat mendengarkannya. St. Dominikus dengan tegas mendesak mereka agar menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan suara lantang dan jelas. Setan-setan itu menjadi tenang dan menolak berbicara sepatah kata pun, mereka tidak mematuhi sedikit pun perintah St. Dominikus. Lalu St. Dominikus berlutut dan berdoa kepada Bunda Maria, “ Ya, Perawan Maria yang penuh kuasa dan ajaib, kumohon kepadamu melalui kuasa Rosario, perintahkanlah musuh-musuh umat manusia ini menjawab aku !”

Tak lama setelah ia mengucapkan doa ini, seberkas cahaya merah meloncat keluar dari kuping, hidung, dan mulut orang Albigensia itu. Setiap orang gemetar ketakutan, namun api itu tidak menyakiti siapa pun. Setan-setan itu lalu berteriak, “Dominikus, kami mohon kepadamu demi penderitaan Yesus Kristus dan demi karunia-karunia IbundaNya yang suci dan semua orang kudus, biarkanlah kami meninggalkan tubuh orang ini tanpa berbicara lebih lanjut, karena para malaikat akan menjawab pertanyaanmu kapan saja engkau kehendaki. Lagi pula, apakah kami ini bukan pembohong? Mengapa engkau harus percaya kepada kami? Tolong, jangan menyiksa kami lagi. Sayangilah kami .”
“ Terkutuklah kalian hai roh-roh jahat yang sungguh tak pantas untuk didengarkan,” kata St. Dominikus sambi berlutut berdoa kepada Bunda Maria,

“Ya Bunda kebijaksanaan yang luhur, aku berdoa bagi orang-orang yang berkumpul di sini, yang telah mengetahui cara mendaraskan secara benar Salam Malaikat. Tolonglah, kumohon kepadamu, perintahkanlah musuh-musuhmu untuk menyatakan semua kebenaran dan hanyalah kebenaran tentang hal ini, di sini dan sekarang, di hadapan para hadirin.”


Setelah St. Dominikus menyelesaikan doanya, tampaklah padanya Bunda Maria dikelilingi sejumlah malaikat. Ia memukul orang yang kerasukan setan itu dengan setangkai emas yang dipegangnya dan berkata, “Jawablah hambaku dengan segera” (Orang-orang itu tidak melihat dan tidak mendengar kata-kata Bunda Maria: hanyalah St. Dominikus.) Kemudian setan-setan itu menjerit,

“ Wahai engkau musuh kami, kejatuhan dan kehancuran kami, mengapa engkau turun dari surga hanya untuk mendera kami secara kejam? Wahai pengantara orang-orang berdosa, engkaulah yang merenggut orang-orang berdosa dari kuasa kami, engkaulah jalan paling tepat menuju surga, apakah kami harus menyatakan semua kebenaran itu dan mengakukannya di depan semua orang, siapa sebenarnya yang menjadi alasan rasa malu kami dan keruntuhan kami. Oh terkutuklah kami pangeran-pangeran kegelapan :

Dengarkanlah baik-baik hai orang-orang Kristen: Bunda Yesus Kristus sungguh berkuasa dan ia dapat menyelamatkan hamba-hambanya dari kejatuhan ke dalam api neraka. Dialah matahari yang menghancurkan kegelapan tipu muslihat dan kecerdikan kami. Dialah yang membongkar komplotan-komplotan kami yang tersembunyi, memporak-porandakan jeratan-jeratan kami, serta membuat semua godaan kami tak berguna dan tak berhasil.

Kami harus mengatakan kendatipun dengan berat hati, bahwa belum ada satu jiwa pun (yang sungguh-sungguh bertekun dalam pelayanannya) hancur bersama kami; satu tarikan nafas yang ia persembahkan kepada Tritunggal Mahakudus jauh lebih pantas daripada semua doa, keinginan, serta cita-cita segenap orang kudus.

Kami lebih merasa takut kepadanya daripada semua orang kudus lain di surga dan kami pun tidak berhasil membujuk hamba-hambanya yang setia. Banyak orang Kristen yang memohon kepadanya saat kematiannya dan seharusnya mereka terkutuk menurut pertimbangan kami tetapi diselamatkan oleh perantaraannya.

Oh kalau saja Maria (mereka menyebutkan namanya karena kegundahannya) tidak mengadu kekuatannya dengan kekuatan kami serta mengacau-balaukan rencana-rencana kami, pastilah kami telah memenangkan Gereja serta menghancurkannya jauh-jauh hari sebelum ini . Kami pun pasti sudah bersaksi bahwa semua ordo religius di dalam Gereja itu telah jatuh ke dalam ketidakteraturan.

Sekarang karena kami dipaksa untuk berbicara, kami juga harus mengemukakan hal ini: Tak seorang pun yang tekun dalam doa Rosario akan dikutuk, karena ia (Maria) akan memperoleh bagi hamba-hambanya rahmat penyesalan yang jujur dari lubuk hati yang dalam akan dosa-dosanya dan dengan demikian mereka mendapatkan pengampunan dan kerahiman Allah.”



Kemudian St. Dominikus menyuruh semua orang berdoa Rosario dengan sangat perlahan-lahan dan dengan penghormatan yang besar. Terjadilah peristiwa ajaib. Pada setiap Salam Maria yang diucapkan bersama umat, sejumlah iblis berhamburan keluar dari tubuh yang malang itu berupa batu bara yang berpijar. Ketika semua iblis telah keluar dan orang bidaah itu bebas dari belenggung mereka, Bunda Maria (yang tetap tidak tampak) memberikan berkat kepada hadirin yang berkumpul, dan mereka diliputi sukacita karenanya.

Sejumlah orang bidaah bertobat karena tanda heran (mukjizat) ini dan bergabung dengan Serikat Rosario Suci.


Sumber: RAHASIA ROSARIO by St. Louis de Monfort


Borobudur Temple-Jawa Tengah, Indonesia

Prambanan Temple-Jawa Tengah, Indonesia
Raja Ampat-Papua, Indonesia
Rammang Maros-Sulawesi, Indonesia

Bromo Mountain-Jawa Timur, Indonesia
Pekalen-Jawa Timur, Indonesia


Conservation Of Sibolangit-Sumatera Utara, Indonesia

Crater Lake Of Rinjani-NTB, Indonesia
Waterfall of Lembah Anai-Sumatera Barat, Indonesia

 


Kamis, 05 November 2015


LAWANLAH SETAN ! !!




ST THEOPHILUS SI PENITEN: MENJUAL JIWANYA KEPADA SETAN

Theophilus (wafat ± 538), adalah seorang diakon agung dan bendahara gereja di Adana, Cilicia (sekarang Turki). Ia menangani masalah-masalah Gereja dengan sangat cakap hingga ketika Uskup wafat, ia dianggap pantas untuk menduduki jabatan episkopat. Namun, Theophilus sudah puas dengan jabatannya dan lebih suka orang lain ditahbiskan sebagai Uskup. Karena fitnah yang menuduhnya mencuri dana gereja, Uskup yang baru melengserkan Theophilus dari jabatannya.

Theophilus putus-asa dan marah begitu rupa, hingga demi mendapatkan kembali jabatannya yang terhormat, dia meminta nasehat seorang ahli sihir Yahudi. Si ahli sihir memanggil Setan, yang datang segera. Sebagai imbal jasa atas bantuan yang akan diberikannya, Setan meminta Theophilus untuk mengingkari Kristus dan BundaNya serta menyangkal iman Katolik, yang harus dituliskan dalam sebuah kontrak yang ditandatangani dengan darahnya sendiri. Theophilus setuju, dan atas manipulasi Setan, Theophilus dikembalikan ke keuskupan.

Bertahun-tahun kemudian, Theophilus yang malang sadar dan menyesali perbuatannya. Dengan segenap devosi hatinya, ia memohon pertolongan Santa Perawan Maria yang mulia. Setelah empatpuluh hari puasa, kendati dosa mengerikan yang dilakukannya, Bunda Maria menampakkan diri. Bunda Maria mencela dengan keras ketidaksalehannya, memerintahkannya untuk mengingkari Setan, membuatnya mengaku iman, dan menyatakan setia kepada Bunda Maria dan kepada Kristus, Putra Allah serta seluruh doktrin Katolik. Selanjutnya Bunda Maria berjanji untuk menjadi perantaranya dengan Allah.

Theophilus berpuasa kembali selama tigapuluh hari, Bunda Maria menampakkan diri kembali dan memperolehkan Absolusi baginya. Sebagai tanda pengampunan yang dianugerahkan Allah kepadanya, di atas dadanya Theophilus mendapati gulungan kontrak yang telah diberikannya kepada Setan. Dengan itu ia tidak perlu takut lagi, sebab dengan perantaraan Bunda Maria, ia sekarang sudah menjadi seorang bebas.

Theophilus membawa kontrak itu kepada Uskup dan mengakui segala yang telah ia perbuat. Uskup membakar habis dokumen di alun-alun kota, sementara Theophilus, yang meluap-luap dalam sukacita, tiga hari kemudian tidur untuk selamanya dalam damai Allah.


Setan, Roh-roh Jahat dan Karya Mereka



Oh, betapa banyak Aku menderita karena ketidakpercayaan suatu jiwa! Jiwa yang demikian mengaku bahwa Aku Kudus dan Adil, namun tidak percaya bahwa Aku penuh Belas Kasih dan tidak percaya akan Kebajikan-Ku. Bahkan para setan memuliakan Keadilan-Ku, tetapi tidak percaya akan Kebajikan-Ku. (300)

Setelah adorasi, tengah perjalanan kembali ke bilikku, aku dikepung oleh sekawanan anjing-anjing hitam raksasa yang melonjak-lonjak dan menyalak ribut, berusaha mencabik-cabikku. Aku tahu bahwa mereka bukan anjing, melainkan setan. Satu di antaranya berbicara penuh murka, “Karena engkau telah merenggut begitu banyak jiwa-jiwa dari kami malam ini, maka kami akan mencabik-cabikmu hingga berkeping-keping.” Aku menjawab, “Jika itu adalah kehendak Allah yang Maharahim, perbuatlah yang kalian kehendaki, aku memang pantas menerimanya, sebab aku adalah yang paling malang dari segenap pendosa, sementara Tuhan senantiasa Kudus, adil dan belas kasih-Nya tak terhingga.” Sebagai tanggapan atas kata-kata ini, para iblis serentak menjawab, “Marilah kita lari, sebab ia tidak sendirian; Yang Mahakuasa bersamanya!” Dan mereka lenyap bagaikan debu, bagaikan deru jalanan, sementara aku meneruskan langkahku ke bilik tanpa suatu gangguan, sembari melanjutkan Te Deum dan merenungkan belas kasih Allah yang tak terhingga dan tak terselami. (320)

Aku mempersatukan penderitaanku dengan penderitaan Yesus serta mempersembahkannya demi diriku sendiri dan demi pertobatan jiwa-jiwa yang tidak percaya akan kebajikan Tuhan. Sekonyong-konyong, bilikku dipenuhi sosok-sosok hitam yang penuh angkara murka dan dengki kepadaku. Satu dari antara mereka berkata, “Terkutuklah engkau dan Ia yang ada dalam engkau, sebab engkau mulai menyiksa kami bahkan di neraka.” Segera setelah aku mengatakan, “Dan Sabda sudah menjadi daging dan tinggal di antara kita,” sosok-sosok ini lenyap secepat kilat dalam deru. (323)

“Bilamana suatu jiwa memuliakan kebajikan-Ku, setan gemetar di hadapannya dan melarikan diri hingga ke dasar neraka yang paling dalam.” (378)

Setan bahkan dapat menyelubungi diri dengan mantol kerendahan hati, tetapi ia tidak tahu bagaimana mengenakan mantol ketaatan, dan dengan demikian rancangannya yang jahat akan tersingkap. (939)

Dalam satu kesempatan, aku melihat setan tergopoh-gopoh mencari seseorang di antara para suster, namun tak berhasil mendapatkannya. Aku merasakan suatu inspirasi batin untuk memerintahkannya, dalam Nama Tuhan, agar ia mengaku kepadaku apa yang sedang dicari-carinya di antara para suster. Dan ia mengaku, walau dengan enggan, “Aku mencari jiwa-jiwa yang malas.” Ketika aku memerintahkan kepadanya lagi dalam Nama Tuhan untuk mengatakan jiwa-jiwa bagaimana dalam hidup religius yang paling mudah didapatkannya, lagi, dengan enggan ia menjawab, “Jiwa-jiwa yang malas dan menganggur.” …. Kiranya jiwa-jiwa yang berlelah payah dengan giat bersukacita. (1127)

Setan mengaku kepadaku bahwa aku adalah obyek kedengkiannya. Ia mengatakan bahwa “seribu jiwa-jiwa bahkan tidak menyakitiku seperti yang engkau lakukan apabila engkau berbicara tentang belas kasih Allah yang Mahakuasa. Pendosa-pendosa besar mendapatkan kembali keyakinan mereka dan kembali kepada Tuhan, sementara aku kehilangan segalanya. Tetapi, terlebih lagi, engkau menganiayaku secara pribadi dengan belas kasih Allah yang Mahakuasa, yang tak terselami itu.” Aku melihat betapa setan dengki atas kerahiman Allah. Ia tak mau mengakui bahwa Allah itu baik. (1167)

Sementara aku menuliskan kata-kata ini, aku mendengar setan berteriak-teriak, “Ia menuliskan segalanya, ia menuliskan segalanya, dan karena itulah kita kehilangan begitu banyak! Janganlah kau tulis mengenai kebajikan Allah; Ia adil!” Dan dengan melolong-lolong penuh angkara murka, ia pun lenyap. (1338)

Aku melihat seorang imam tertentu yang amat dikasihi Tuhan, tetapi yang amat dibenci setan, sebab ia menghantar banyak jiwa-jiwa ke tingkat kekudusan yang tinggi dan memperuntukkan segalanya hanya demi kemuliaan Allah. Aku tak kunjung henti memohon kepada Tuhan agar kesabaran imam dalam menghadapi mereka yang terus-menerus menentangnya, janganlah habis. Di mana setan tak dapat melakukannya sendiri, ia memperalat manusia. (1384)

Ketika aku sedang naik ke lantai atas sore ini, sekonyong-konyong suatu perasaan tidak suka yang aneh akan segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan meliputiku. Saat itu, aku mendengar setan yang berkata kepadaku, “Jangan lagi pikirkan karya ini. Tuhan tidak berbelas kasih sebanyak yang engkau katakan. Tak perlu berdoa bagi para pendosa, sebab mereka toh akan binasa, lagipula dengan karya belas kasih ini engkau membahayakan dirimu sendiri ke kebinasaan….” suara itu mengambil rupa sebagai ku; seketika itu juga aku menjawab, “Aku tahu siapa engkau: bapa segala dusta.” Aku membuat tanda salib, dan malaikat pun lenyap dengan keributan dan kemarahan yang besar. (1405)

Mengambil rupa dalam suatu penampakan, ia berkata, “Janganlah berdoa bagi para pendosa, melainkan berdoalah bagi dirimu sendiri, sebab engkau akan binasa.” Tanpa menghiraukan setan, aku terus berdoa dengan melipatgandakan kekhusukanku demi para pendosa. Roh jahat melolong penuh amarah, “Oh, andai saja aku memiliki kuasa atasmu!” dan ia pun lenyap. Aku melihat bahwa penderitaanku dan doaku membelenggu setan dan merebut banyak jiwa-jiwa dari cengkeramannya. (1465)

Ketika aku pergi, dalam pikiran, ke kapel, rohku tenggelam bahkan dalam kegelapan yang terlebih lagi. Keputusasaan sama sekali menguasaiku. Lalu aku mendengar suara setan, “Lihatlah betapa segala sesuatu yang Yesus berikan kepadamu adalah kebalikannya: Ia menyuruhmu untuk mendapatkan sebuah biara, dan lalu Ia memberimu penyakit; Ia menyuruhmu untuk mengusahakan agar ditetapkannya Pesta Kerahiman Ilahi ini, padahal seluruh dunia tak menghendaki pesta yang demikian. Mengapakah engkau berdoa demi perayaan ini? Sungguh sial.” Jiwaku tetap diam dan, dengan dorongan kehendak, terus berdoa tanpa masuk ke dalam percakapan dengan Roh Kegelapan. Walau demikian, suatu perasaan muak yang luar biasa terhadap hidup menguasaiku hingga aku harus berjuang sekuat tenaga dengan dorongan kehendak untuk terus bertahan hidup…. Dan lagi, aku mendengar kata-kata si penggoda… dengan dorongan kehendak, aku mulai berdoa, atau tepatnya, berserah diri kepada Tuhan, mohon secara batin kepada-Nya untuk tidak meninggalkanku pada saat ini. Sudah pukul sebelas malam; sekeliling sunyi sepi. Para suster telah terlelap dalam bilik-bilik mereka; hanya jiwaku sendiri yang tengah bergulat hebat. Si penggoda melanjutkan, “Mengapakah engkau merisaukan jiwa-jiwa lain? Engkau hanya perlu berdoa bagi dirimu sendiri saja. Sementara para pendosa, mereka akan bertobat tanpa perlu doa-doamu. Aku lihat bahwa engkau sangat menderita saat ini. Akan kuberikan kepadamu sedikit nasehat di mana kebahagiaanmu terletak: jangan pernah lagi berbicara tentang belas kasih Allah, sebab mereka layak menerima hukuman yang adil….” Pada akhirnya, si penggoda pun pergilah dan aku, oleh sebab kecapaian, segera saja tertidur pulas. (1498)

(Keesokan paginya) “Setan menggodamu, tetapi ia pergi dengan tangan kosong, sebab engkau tidak masuk dalam percakapan dengannya. Teruslah bertindak demikian. Engkau memberikan kemuliaan besar bagi-Ku dengan bergulat dengan begitu setia. Biarlah kiranya hal ini dicamkan serta diukirkan dalam hatimu, bahwa Aku senantiasa bersamamu, bahkan jika engkau tidak merasakan kehadiran-Ku pada saat pertempuran.” (1499)

Sementara aku menuliskan ini, aku mendengar setan menggertakkan gigi. Ia tak dapat tahan akan kerahiman Allah; terus-menerus ia memukul-mukul barang-barang dalam bilikku. Walau demikian, aku merasa kuasa dahsyat Allah melingkupiku hingga bahkan aku tak merasa terganggu bahwa musuh keselamatan kita marah besar, dan dengan tenang aku terus menulis. (1583)

“Janganlah engkau begitu khawatir mengenai masa-masa sulit. Dunia tidak sekuat seperti tampaknya; kekuatannya amat terbatas. Ketahuilah, puteri-Ku, jika jiwamu penuh dengan api kasih murni-Ku, maka segala kesulitan akan menyingkir bagaikan kabut terhalau berkas-berkas matahari dan tak berani menyentuh jiwa. Segala kesulitan dan kesukaran takut memulai pertempuran dengan jiwa yang demikian, sebab mereka tahu bahwa jiwa lebih kuat daripada seluruh dunia….” (1643)

Karya ini [Kerahiman Ilahi] akan merenggut sejumlah besar jiwa-jiwa [dari setan], sebab itulah mengapa roh kegelapan terkadang mencobai orang-orang baik dengan begitu hebat, yaitu agar karya mereka terhalang. Tetapi, aku melihat dengan jelas bahwa kehendak Allah sudah mulai dilaksanakan, dan akan dituntaskan hingga ke detail-detailnya yang terakhir…. Tak jadi soal jika terkadang ada saat-saat di mana karya tampaknya sama sekali gagal; pada waktu itulah karya semakin diperteguh. (1659)

Pencobaan hebat…. Kala aku mulai mempersiapkan diri untuk Sakramen Tobat, pencobaan-pencobaan hebat melawan bapa pengakuan menyerangku. Aku tak melihat setan, tetapi aku dapat merasakan angkara murkanya yang ganas. “Ya, dia hanyalah seorang manusia biasa.” - “Tidak, bukan manusia biasa, sebab ia memiliki kuasa Allah.” (1715)

Satu dari antara roh-roh yang paling elok tak hendak mengakui kerahiman-Mu, dan dibutakan oleh kesombongan, ia membujuk yang lain untuk berpihak padanya. Malaikat yang elok indah, ia menjadi setan dan dicampakkan dalam sekejap dari ketinggian surga ke kedalaman neraka. (1742)

Keesokan harinya, aku menyadari dengan jelas kata-kata berikut, “Kau lihat, Tuhan begitu kudus, sementara engkau penuh dosa. Janganlah menghampiri-Nya dan mengaku dosa setiap hari.” Dan sungguh, apapun yang aku pikir tampak bagiku sebagai dosa … ketika hari pengakuan dosa tiba, aku mempersiapkan diri sepanjang misa untuk dosa-dosa yang aku dakwakan atas diriku sendiri. Namun demikian, dalam kamar pengakuan Tuhan memperkenankanku mempersalahkan diri hanya atas dua kelemahan saja, kendati segala daya upayaku untuk mengaku dosa sesuai yang telah aku persiapkan. Kala aku meninggalkan kamar pengakuan, Tuhan mengatakan padaku, “Puteri-Ku, segala dosa yang engkau rencanakan untuk akui bukanlah dosa di mata-Ku; sebab itulah Aku melenyapkan kemampuanmu untuk mengatakannya.” Aku mengerti bahwa setan, sebab hendak mengganggu damaiku, telah menanamkan perasaan bersalah yang berlebih-lebihan dalam benakku. (1802)

Sumber : http://yesaya.indocell.net/




Kamis, 08 Oktober 2015

SAVE INDONESIA FOREST...SAVE YOUR LIFE
 
 
YESUS KEMBALI KE GUNUNG DI MANA IA BERPUASA DAN KE BATU KARANG PENCOBAAN


17 Januari 1945

Suatu fajar yang terindah di padang belantara, dilihat dari ketinggian sisi sebuah gunung. Pagi hari. Beberapa bintang masih kelihatan dan sebuah lengkungan amat tipis dari bulan yang menyusut tampak bagai sebuah koma perak pada beludru biru tua langit.

Gunung ini sama sekali terpencil, yakni, tidak terhubung pada rantai pegunungan yang lain. Tapi sungguh sebuah gunung, bukan sebuah bukit. Puncaknya jauh lebih tinggi ke atas, tapi bahkan dari tengah lerengnya orang dapat melihat suatu cakrawala yang sangat luas, sebab dia berada tinggi di atas permukaan tanah. Di udara pagi yang segar, dengan berangsurnya terang fajar yang pucat putih kehijauan menjadi semakin dan semakin terang, profil dan detail perlahan-lahan semakin kelihatan, sementara sebelumnya mereka tersembunyi dalam kabut yang mendahului terbitnya hari, suatu kabut yang lebih kelam dari malam, sebab sinar bintang-bintang kelihatan memudar dan lenyap dalam pergantian dari malam menjadi pagi. Dengan demikian aku melihat bahwa gunung itu berbatu-batu dan tandus, terbelah oleh jurang-jurang membentuk grotto-grotto, gua-gua dan ceruk-ceruk di sisinya. Sungguh suatu padang belantara; hanya di mana ada sebagian tanah yang dapat menerima dan mempertahankan kelembaban hujan, ada sedikit berkas-berkas hijau, kebanyakan tanam-tanaman berduri yang kaku, dengan sangat sedikit daun, dan semak belukar rumput yang rendah kaku serupa batang-batang hijau yang kurus, yang namanya aku tidak tahu.

Di bawah ada dataran yang bahkan lebih tandus, suatu permukaan tanah yang rata dan berbatu-batu yang menjadi lebih gersang sebab menjorok ke suatu tempat yang gelap, lebih panjang daripada lebarnya, setidaknya panjangnya lima kali lebarnya, yang aku pikir pastilah sebuah oasis yang lebat, yang telah tumbuh dalam kesuraman yang begitu dahsyat, karena air bawah tanah. Tapi ketika terang menjadi lebih cemerlang, aku melihat bahwa itu bukan apa-apa selain dari air. Air mati yang tergenang, gelap. Sebuah danau kesedihan yang tak terkira. Dalam terang yang masih samar danau itu mengingatkanku akan penglihatan mengenai dunia yang mati. Kelihatannya dia menyerap segala kegelapan langit dan segala kemuraman dari wilayah sekelilingnya, dan melarutkan dalam air tergenangnya hijau tua dari semak belukar berduri dan rerumputan kaku yang bermil-mil di sekitarnya dan di atasnya, yang adalah satu-satunya dekorasi tanah. Dan setelah menyaring begitu banyak kesuraman tampaknya dia menyebarkannya sekali lagi ke sekelilingnya. Betapa berbedanya dari Danau Genesaret yang tersenyum dan bermandikan cahaya matahari!

Tinggi di atas, memandang langit biru cerah, yang menjadi semakin dan semakin terang, melihat terang bergulir dari timur dengan kecemerlangan yang lebih dan lebih lagi, hati orang bersukacita. Tapi melihat danau raksasa yang mati, bagai memberikan tikaman di hati. Tak satu burung pun terbang di atas air. Tak ada seekor hewan pun di pantainya. Tak ada apa-apa.

Sementara aku melihat begitu banyak kegersangan, aku dibangunkan oleh suara Yesus-ku: "Di sinilah kita, di tempat yang Aku inginkan."

Aku berbalik. Aku melihat-Nya di belakangku, bersama Yohanes, Simon dan Yudas, dekat lereng gunung yang berbatu-batu, di mana ada sebuah jalan setapak kecil, atau tepatnya, di mana erosi air yang lama berlangsung, pada bulan-bulan penghujan, selama berabad-abad telah membentuk suatu saluran yang sangat dangkal, suatu saluran bagi air yang mengalir dari puncak gunung dan yang merupakan jalan setapak lebih bagi kambing-kambing liar daripada bagi manusia.

Yesus memandang sekeliling dan mengulangi: "Ya, inilah tempat kemana Aku ingin membawa kalian. Di sini Kristus bersiap untuk misi-Nya."

"Tapi tidak ada apa-apa di sini!"

"Kau memang benar, tidak ada apa-apa."

"Dengan siapakah Engkau?"

"Dengan jiwa-Ku dan dengan Bapa."

"Ah! Engkau tinggal hanya untuk beberapa jam!"

"Tidak, Yudas. Tidak beberapa jam. Berhari-hari..."

"Tapi sipakah yang melayani Engkau? Di manakah Engkau tidur?"

"Pelayan-pelayan-Ku adalah keledai-keledai liar yang datang untuk tidur dalam gua-gua mereka, di mana Aku juga bernaung. Pelayan-pelayan perempuan-Ku adalah burung-burung elang yang berkata kepada-Ku dengan teriakan mereka yang parau: 'Sudah pagi' dan mereka terbang pergi untuk mengintai mangsa mereka. Sahabat-sahabat-Ku adalah kelinci-kelinci yang datang nyaris ke kaki-Ku, menggerogoti tanam-tanaman liar. Makanan-Ku dan minuman-Ku adalah makanan dan minuman yang sama dengan yang disantap bunga-bunga liar: embun malam dan cahaya matahari. Tidak ada yang lain."

"Tapi kenapa?"

"Untuk mempersiapkan dengan baik, seperti katamu, misi-Ku. Hal-hal yang dipersiapkan dengan baik akan berhasil. Kau sendiri yang mengatakannya demikian. Dan hal-Ku bukanlah suatu hal yang sepele, hal yang tak berguna, yang akan memuliakan Aku, Hamba Allah, melainkan untuk membuat manusia memahami siapa Tuhan itu, dan melalui pemahaman yang demikian, menjadikan-Nya dikasihi dalam semangat kebenaran. Hamba yang peduli pada kemuliaannya sendiri, dan bukan pada kemuliaan Tuan-nya, adalah seorang yang menyedihkan! Hamba yang antusias mendapatkan keuntungan, yang memimpikan dia akan duduk di sebuah tahta tinggi yang dibangun di atas kepentingan-kepentingan Allah, yang telah direndahkan hingga ke bumi, padahal itu adalah kepentingan-kepentingan surgawi, adalah juga hamba yang menyedihkan. Dia bukan lagi seorang hamba, terkecuali dalam penampilan luarnya. Dia adalah seorang pedagang, seorang bandar, seorang pendusta, yang mendustai dirinya sendiri dan orang-orang lain dan hendak mendustai Allah juga… seorang celaka yang percaya bahwa dia adalah seorang raja, sementara dia adalah seorang hamba. Dia milik Si Jahat, raja dustanya. Di sini, di gua ini, Kristus selama berhari-hari hidup dengan berpuasa dan berdoa guna bersiap untuk misi-Nya. Dan menurutmu ke manakah semestinya Aku harus pergi untuk bersiap, Yudas?"

Yudas bingung. Pada akhirnya dia menjawab: "Aku tidak tahu... aku pikir... ke seorang rabi... atau dengan kaum Eseni... Aku tidak tahu."

"Dan mungkinkah bagi-Ku untuk menemukan seorang rabi yang akan memberitahu-Ku lebih banyak dari yang dikatakan kuasa dan kebijaksaaan Allah kepada-Ku? Dan dapatkah Aku - Aku yang adalah Sabda Kekal Bapa, Yang ada saat Bapa menciptakan manusia dan Yang tahu akan keabadian jiwa dengan mana manusia dihidupkan dan akan kuasa bebas untuk menilai yang dianugerahkan kepada manusia oleh Sang Pencipta - apakah Aku akan pergi untuk mendapatkan pengetahuan dan kecakapan dari mereka yang menyangkal keabadian jiwa, kebangkitan akhir dan juga kebebasan manusia untuk bertindak, dengan menganggap keutaman dan kejahatan, perbuatan-perbuatan suci dan perbuatan-perbuatan jahat ditentukan oleh takdir, yang kata mereka sudah ditakdirkan dan tak dapat dikendalikan? Tentu tidak!

Kalian punya takdir. Dalam benak Allah Yang menciptakan kalian, ada takdir untuk kalian. Yakni kerinduan Bapa. Dan itu adalah takdir kasih, damai, dan kemuliaan: 'kekudusan menjadi anak-anak-Nya'. Itulah takdir yang ada dalam benak ilahi ketika Adam dibentuk dari debu dan yang akan ada hingga penciptaan jiwa manusia yang terakhir.

Tetapi Bapa tidak merendahkan kalian dalam posisi kalian sebagai raja. Jika seorang raja adalah seorang tahanan, maka dia bukan lagi seorang raja: dia adalah seorang buangan. Kalian adalah raja sebab kalian bebas dalam kerajaan kecil pribadi kalian. Dalam 'ego' kalian. Kalian dapat melakukan apa yang kalian suka dan bagaimana kalian menyukainya. Di hadapan kalian dan di batas-batas kerajaan kecil kalian ada seorang Raja yang bersahabat dan dua kekuatan musuh. Sang Sahabat menunjukkan kepada kalian peraturan-peraturan yang Ia berikan demi membuat para pengikut-Nya bahagia. Ia menunjukkannya dan berkata: 'Ini. Dengan peraturan-peraturan ini, kemenangan abadimu sudah pasti.' Ia, yang Bijak dan Yang Kudus, menunjukkannya kepada kalian supaya kalian dapat mengamalkannya, jika kalian mau, dan dengan demikian memperoleh kemuliaan abadi.

Dua kekuatan musuh adalah Setan dan daging. Dengan daging yang Aku maksudkan adalah dagingmu dan dunia: mereka, daya tarik dan bujukan dunia, yakni, kekayaan, pesta-pora, kehormatan dan kuasa yang diperoleh dari dunia dan dalam dunia, tapi tidak selalu diperoleh dengan jujur dan digunakan bahkan dengan lebih sedikit lagi kejujuran ketika pada akhirnya manusia mendapatkannya. Setan, tuan dari daging dan dari dunia, berbicara juga atas nama dunia dan atas nama daging. Dia, juga, punya peraturan-peraturannya… Oh! Tentu saja dia punya! Dan sebab 'ego'mu dibungkus dalam daging, dan daging tertarik pada daging, seperti potongan logam tertarik pada magnet, dan nyanyian si Perayu lebih manis dari kicauan burung bulbul yang tengah jatuh cinta pada malam bulan purnama dan di tengah semak-semak mawar yang harum mewangi, maka lebih mudah untuk mengikuti peraturan-peraturan itu, dan condong pada kekuatan-kekuatan itu dan berkata kepada mereka: 'Aku menganggap kalian sahabat-sahabatku. Masuklah.' Masuklah… Pernahkah kalian melihat seorang sekutu yang tetap jujur selamanya, tanpa meminta balasan seratus kali lipat untuk bantuan yang dia berikan? Itulah apa yang dilakukan kekuatan-kekuatan itu. Mereka masuk… Dan mereka menjadi tuan-tuan. Tuan? Bukan: sersan dapur. Mereka mengikatkan kalian, manusia, ke bangku dapur, mereka membelenggu kalian dengan rantai-rantai, mereka tidak membiarkan kalian mengangkat kepala dari kuk mereka, dan cambuk mereka meninggalkan bekas-bekas berdarah pada punggung kalian apabila kalian berupaya melarikan diri. Entah kalian harus menanggung dicabik-cabik hingga berkeping-keping dan menjadi setumpukan daging cincang, yang sama sekali tak berguna, sebagai daging, hingga ditolak dan disepak ke samping oleh kaki-kaki keji mereka, atau kalian harus mati di bawah pukulan-pukulan mereka.

Jika kalian dapat menanggung kemartiran itu, maka Kerahiman akan datang, Yang Satu-satunya yang masih dapat berbelas-kasihan atas kemalangan yang menjijikkan itu, yang dunia, salah satu tuannya dulu, sekarang jijik dan yang atasnya tuan yang lain, Setan, membidikkan anak-anak panah dendamnya. Dan Kerahiman, Yang Satu-satunya, datang, membungkuk, memungutnya, merawatnya, menyembuhkannya dan berkata: 'Mari. Jangan takut. Jangan lihat dirimu sendiri. Luka-lukamu hanyalah luka parut, tapi luka-luka itu begitu banyak hingga kau akan ngeri, sebab membuatmu cacat. Tapi Aku tidak melihat pada luka-luka itu. Aku melihat pada kehendak baikmu. Karena kehendak baikmu, engkau ditandai. Sebab itu Aku berkata kepadamu: Aku mengasihimu. Datanglah kepada-Ku.' Dan Ia membawanya ke Negeri-Nya. Kalian lalu mengerti bahwa Kerahiman dan Raja yang bersahabat adalah orang yang sama. Kau menemukan peraturan-peraturan yang telah Ia tunjukkan kepadamu dan engkau tidak mau mentaatinya. Sekarang kau menginginkan peraturan-peraturan itu… dan pertama-tama kau mendapatkan damai batinmu, lalu damai Allah. Katakan pada-Ku sekarang. Apakah takdir itu dijatuhkan oleh Yang Satu-satunya pada semua orang, ataukah tiap-tiap orang memilihnya bagi dirinya sendiri?"

"Dipilih oleh tiap-tiap orang."

"Kau benar, Simon. Apakah mungkin bagi-Ku untuk pergi kepada mereka yang menyangkal kebangkitan terberkati dan karunia Allah, untuk diajari? Aku datang ke sini. Aku mengambil jiwa Putra manusia-Ku dan Aku memberinya sentuhan akhir dan dengan demikian Aku menyelesaikan pekerjaan selama tigapuluh tahun kerendahan hati dan persiapan guna menjadi sempurna ketika memulai misi-Ku. Sekarang Aku meminta kalian untuk tinggal bersama-Ku selama beberapa hari dalam gua ini. Masa tinggal kita akan jauh lebih ringan sebab kita akan menjadi empat sahabat yang bersatu dalam upaya kita melawan kesedihan, ketakutan, pencobaan dan keinginan-keinginan daging. Dulu Aku sendirian. Ini akan menjadi tidak semenyakitkan waktu itu, sebab sekarang musim panas dan di atas sini, angin gunung mengurangi panasnya. Aku datang ke sini di penghujung bulan Tebeth dan angin yang berhembus ke bawah dari puncak yang bersalju sungguh ganas. Akan lebih berkurang pencobaannya sebab masanya lebih pendek dan juga karena kita punya makanan yang dibutuhkan untuk memuaskan rasa lapar kita dan dalam kirbat-kirbat kulit yang kecil yang Aku minta para gembala berikan kepada kalian, ada cukup air untuk suplai selama hari-hari dalam masa tinggal kita. Aku… Aku harus merenggut dua jiwa dari Setan. Dan itu hanya dapat dilakukan melalui penitensi. Aku meminta kalian untuk membantu-Ku. Ini akan menjadi suatu latihan bagi kalian. Kalian akan belajar bagaimana merenggut kurban-kurban dari Mamon: tidak lebih banyak kata daripada kurban… Kata-kata!... Hiruk-pikuk setan mencegah orang dari mendengarnya… Setiap jiwa yang adalah kurban dari Musuh dibungkus dalam sebuah kisaran suara-suara neraka… Tidakkah kalian ingin tinggal bersama-Ku? Jika kalian tidak mau, kalian boleh pergi dan kita akan bertemu di Tekoah, dekat pasar."

"Tidak, Guru, aku tidak akan meninggalkan-Mu," kata Yohanes, sementara Simon pada saat yang sama berseru: "Engkau meninggikan kami dengan menghendaki kami bersama-Mu dalam penebusan ini." Yudas ... tidak tampak sangat antusias. Tapi dia memasang wajah yang baik pada... takdir dan mengatakan: "Aku akan tinggal."

"Baiklah, ambil kirbat-kirbat dan tas-tas dan masukkan ke dalam, dan sebelum matahari menjadi terik, belahlah beberapa kayu dan kumpulkan dekat celah. Malam-malam akan ganas, bahkan dalam musim panas, dan tidak semua binatang bersahabat. Nyalakan satu ranting segera. Di sana, satu ranting dari acacia bergetah itu. Ranting itu terbakar dengan sangat baik. Kita akan mencari di celah-celah dan dengan api kita akan mengusir ular-ular berbisa dan kalajengking-kalajengking. Pergilah." …





... Di lokasi yang sama di gunung. Tapi malam hari sekarang. Suatu malam yang berbintang. Aku pikir keindahan langit malam hari yang demikian dapat dinikmati hanya di negeri-negeri yang nyaris tropis seperti itu. Bintang-bintang besar dan cemerlang mengagumkan. Konstelasi bintang-bintang yang lebih besar tampak seperti kumpulan potongan-potongan intan, batu-batu topaz yang jernih, batu-batu safir yang pucat, batu-batu baiduri yang lembut dan batu-batu rubi yang soft. Mereka gemetar, mereka menyala terang, mereka menghilang bak tatapan yang disembunyikan sekejap mata oleh bulu-bulu mata, dan menyala terang kembali lebih indah dari sebelumnya. Sesekali sebuah bintang menukik melintasi langit dan aku bertanya-tanya kemanakah ia menghilang. Sebuah kilatan cahaya tampak bagai suatu sorak kemenangan sebuah bintang yang mampu terbang melintasi cakrawala yang luas.

Yesus duduk di pintu masuk gua dan berbicara kepada ketiga murid yang duduk dalam suatu lingkaran sekeliling-Nya. Mereka pastilah telah menyalakan api, sebab di tengah-tengah mereka, beberapa potongan kayu yang terbakar masih semerah bara dan memancarkan cahaya merah pada keempat wajah.

"Ya. Masa tinggal kita sudah berakhir. Kali lalu berlangsung selama empatpuluh hari… dan Aku hendak ulangi bahwa kala itu masih musim dingin di atas sini… dan Aku tak punya makanan. Sedikit lebih berat dari kali ini, bukan? Aku tahu bahwa kalian bahkan sudah menderita sekarang. Sedikit makanan yang kita miliki dan apa yang Aku berikan kepada kalian tidak ada artinya, terutama bagi orang-orang muda yang kelaparan. Nyaris tak cukup untuk menghindarkan kalian dari pingsan. Dan air bahkan lebih kurang lagi. Panas begitu terik sepanjang siang. Dan kalian akan mengatakan bahwa tidak begitu halnya pada musim dingin. Tapi pada waktu itu ada angin kering yang berhembus dari puncak gunung dan angin membuat paru-paru-Ku kering, dan angin naik dari dataran yang sarat debu padang gurun dan bahkan lebih kering dari terik musim panas ini yang dapat diredakan dengan menghisap jus dari buah-buahan masam itu yang hampir matang. Gunung pada musim dingin hanya memberikan angin dan tanam-tanaman yang membeku dekat acacia yang gundul. Aku tidak memberikan semuanya kepada kalian sebab Aku menyimpan roti dan keju terakhir juga kirbat-kirbat air terakhir untuk perjalanan balik kita… Aku tahu seperti apa perjalanan pulang-Ku dulu, kehabisan tenaga sementara Aku dalam keterasingan padang gurun… Mari kita beresi barang-barang kita dan pergi. Malam ini bahkan lebih jernih dari malam kita datang ke sini. Tak ada bulan. Tapi cahaya tercurah dari langit. Ayo kita pergi. Ingatlah tempat ini. Ingatlah bagaimana Kristus bersiap dan bagaimana para rasul bersiap. Biarlah para rasul siap seperti Aku mengajarkannya pada mereka."

Mereka bangkit. Simon mengaduk bara dengan sebatang tongkat, dan sebelum menyerakkannya dengan kakinya, dia menyalakan api kembali dengan melemparkan beberapa tanam-tanaman kering ke atasnya, dan dari apinya dia menyalakan sebuah ranting acacia dan memegangnya di depan pintu masuk gua, sementara Yudas dan Yohanes memungut mantol-mantol, tas-tas dan kirbat-kirbat kecil dari kulit yang hanya satu saja yang masih penuh. Dia lalu mematikan ranting, menggosok-gosokkannya pada batu karang; dia mengambil tasnya, mengenakan mantolnya seperti semua yang lainnya, dan mengencangkannya pada pinggangnya agar mantol itu tidak menghalanginya ketika berjalan.

Tanpa bicara, satu di belakang yang lain, mereka menuruni suatu jalan setapak yang sangat curam, mengagetkan dan membuat lari binatang-binatang kecil yang merumput di rerumputan yang hanya sedikit namun belum terpanggang matahari. Suatu perjalanan yang panjang dan tidak nyaman. Pada akhirnya mereka tiba di dataran. Tidak mudah berjalan bahkan di sana, di mana bebatuan dan serpihan-serpihan batu menusuk kaki-kaki mereka, menggelincir di bawah kaki dan menyakitinya juga, sebab debu tebal jalanan menyembunyikan mereka dan karenanya mustahil menghindarinya. Lebih jauh, semak belukar yang berduri mengores tubuh mereka dan menggaet bagian bawah pakaian mereka. Tapi mereka dapat berjalan lebih cepat. Di atas, bintang-bintang tampak semakin dan semakin indah.

Mereka berjalan dan berjalan selama berjam-jam. Dataran semakin dan semakin gersang dan menyedihkan. Sisik-sisik kecil berkilau di celah-celah kecil dan di lubang-lubang di tanah. Sisik-sisik itu tampak seperti sisik-sisik kotor dari potongan-potongan berlian. Yohanes membungkuk untuk mengamatinya.

"Ini garam dari lapisan tanah bagian bawah yang penuh dengannya. Garam muncul ke permukaan bersama dengan air mataair dan lalu mengering. Sebab itulah mengapa kehidupan mustahil di sini. Laut Timur menyebarkan kematiannya sejauh bermil-mil sekelilingnya, melalui lapisan-lapisan dalam tanah. Hanya di mana air dari mataair yang segar dapat menetralkan dampaknya, maka mungkin mendapati tumbuh-tumbuhan dan kelegaan," jelas Yesus.

Mereka terus berjalan. Yesus berhenti di batu karang berlubang di mana aku melihat-Nya dicobai Setan. "Marilah kita berhenti di sini. Duduklah. Fajar menjelang. Kita telah berjalan selama enam jam dan kalian pastilah lapar, haus dan lelah. Ambillah ini. Makan dan minumlah, duduklah di sini, dekat-Ku, sementara Aku akan mengisahkan kepada kalian sesuatu yang akan kalian ulangi kepada teman-teman kalian dan kepada dunia." Yesus sudah membuka tas-Nya dan mengeluarkan roti dan keju, yang Ia potong dan bagikan, dan dari kirbat-Nya Ia menuangkan air ke dalam sebuah cawan yang Ia edarkan juga.

"Tidak makankah Engkau, Guru?"

"Tidak, Aku akan berbicara kepada kalian. Dengarkan. Suatu ketika seseorang bertanya kepada-Ku apakah Aku pernah dicobai. Dia bertanya apakah Aku pernah berbuat dosa, dan apakah, ketika dicobai, Aku pernah menyerah. Dan dia terkejut sebab, untuk melawan pencobaan, Aku, Mesias, memohon pertolongan kepada Bapa, dengan mengatakan: 'Bapa, janganlah masukkan Aku ke dalam pencobaan.'"

Yesus berbicara perlahan, tenang, seolah Ia sedang menceriterakan suatu kejadian di mana tak seorang pun dari mereka terlibat… Yudas menundukkan kepalanya seakan dia malu. Tetapi yang lainnya begitu serius menatap Yesus, hingga mereka tidak memperhatikannya.

Yesus melanjutkan: "Sekarang, sahabat-sahabat-Ku, kalian akan belajar sesuatu yang bagi orang itu hanya merupakan gagasan yang samar. Sesudah Pembaptisan Aku datang kemari: Aku bersih, tapi tak seorang pun pernah cukup bersih sehubungan dengan Allah, dan kerendahan hati yang mengatakan: 'Aku seorang manusia dan seorang pendosa' sudah suatu pembaptisan yang menjadikan hati bersih. Aku disebut 'Anak Domba Allah' oleh nabi kudus yang melihat Kebenaran dan melihat Roh turun atas Sabda dan mengurapi-Nya dengan krisma kasih-Nya, sementara suara Bapa memenuhi Langit mengatakan: 'Inilah PutraKu terkasih Yang kepada-Nya Aku berkenan.' Kau, Yohanes, hadir ketika Pembaptis mengulangi perkataan itu… Sesudah dibaptis, meski Aku bersih baik kodrat-Ku maupun tampilan-Ku, Aku ingin 'bersiap'. Ya, Yudas. Tataplah Aku. Supaya mata-Ku mengatakan kepadamu apa yang tidak dikatakan mulut-Ku. Tataplah Aku, Yudas. Tataplah Guru-mu, Yang meski seorang Mesias, tidak menganggap Diri-Nya lebih unggul dari manusia, malahan sebaliknya, tahu bahwa Ia adalah Manusia, Ia ingin menjadi manusia dalam segalanya, terkecuali dalam berbuat dosa. Tepat demikian."

Yudas sekarang telah mengangkat kepalanya dan menatap Yesus yang ada di hadapannya. Cahaya bintang-bintang membuat mata Yesus berkilau-kilau seolah dua buah bintang dipasangkan pada sebentuk wajah yang pucat.

"Jika orang ingin mempersiapkan diri untuk menjadi seorang guru, dia harus pernah menjadi seorang murid. Aku, sebagai Allah, tahu segalanya. Inteligensi-Ku memampukan-Ku untuk memahami juga pergulatan manusia, baik melalui kuasa intelektual maupun dalam suatu cara intelektual, yakni tanpa pengalaman praktek sama sekali. Tapi kemudian seorang sahabat-Ku yang malang, seorang anak-Ku yang malang, berkata kepada-Ku: 'Kau tidak tahu bagaimana menjadi seorang manusia dan memiliki perasaan-perasaan dan hasrat.' Dan itu akan menjadi suatu kecaman yang adil. Aku datang kemari, atau tepatnya ke gunung itu, untuk bersiap… bukan hanya bagi Misi-Ku… melainkan juga bagi pencobaan. Lihat? Aku dicobai di tempat di mana kalian sekarang duduk. Oleh siapa? Oleh suatu makhluk yang fana? Bukan. Kuasanya akan terlalu terbatas. Aku dicobai oleh Setan sendiri.

Aku kehabisan tenaga. Aku tidak makan selama empatpuluh hari... Tapi sementara Aku khusuk dalam doa, semuanya terlupakan dalam sukacita berbicara kepada Allah, bukan terlupakan tapi lebih tepat, dapat ditanggung. Aku merasakannya sebagai suatu ketidaknyamanan kodrat materiil, yang terbelenggu pada materia semata… Aku lalu kembali ke dunia… Aku kembali pada cara-cara dunia… Dan Aku merasakan kebutuhan mereka yang ada di dunia. Aku lapar. Aku haus. Aku merasakan dingin yang menggigit pada malam hari di padang gurun. Tubuh-Ku kehabisan tenaga karena kurang istirahat, kurang tidur dan karena suatu perjalanan jauh yang dilakukan dalam keadaan keletihan begitu rupa hingga Aku tak dapat pergi lebih jauh…

Sebab Aku dijadikan dari daging juga, sahabat-sahabat-Ku terkasih. Sungguh daging. Dan daging-Ku tunduk pada keletihan yang umum bagi semua daging. Dan, dengan daging-Ku, Aku punya hati. Ya, Aku mengenakan bagian pertama dan kedua dari ketiga bagian yang membentuk manusia. Aku mengenakan bagian jasmani dengan segala kebutuhannya dan moral dengan segala hawa nafsunya. Dan sementara, dengan kehendak-Ku, Aku tunduk pada segala sengsara buruk saat kelahiran, Aku membiarkan hasrat kudus tumbuh bagai pohon cedar tua yang kokoh, yakni kasih filial [= berkenaan dengan atau layak untuk seorang anak], kasih untuk tanah air, persahabatan, pekerjaan, semua yang terbaik dan kudus. Dan di sini Aku merasakan nostalgia atas BundaKu yang jauh, di sini Aku merasakan kebutuhan akan kasih sayang-Nya bagi kerapuhan manusiawi-Ku, di sini Aku merasakan sekali lagi rasa sakit berpisah dari Yang Satu-satunya Yang mengasihi Aku dengan kasih sempurna, di sini Aku menyadari betapa penderitaan yang terbentang di depan-Ku dan Aku berdukacita atas sengsara-Nya, Bunda malang, Yang akan harus mencucurkan begitu banyak airmata bagi PutraNya dan karena kekejian manusia, Ia akan dibiarkan hingga kering airmata. Dan di sini Aku mengalami keletihan seorang pahlawan dan seorang pertapa yang pada saat peringatan awal menyadari kesia-siaan upaya mereka… Aku menangis… Kesedihan… suatu umpan bagi Setan. Adalah tidak berdosa menjadi sedih dalam keadaan yang menyakitkan. Tapi adalah berdosa untuk melampaui batas kesedihan dan jatuh ke dalam ketakberdayaan dan keputusasaan.

Tetapi Setan datang segera ketika dia melihat siapapun dalam kelesuan rohani.

Ia datang. Berpakaian sebagai seorang pengelana yang baik. Dia selalu mengenakan tampilan yang baik… Aku lapar... dan tigapuluh tahun. Dia menawarkan diri untuk menolong-Ku. Pertama-tama dia mengatakan kepada-Ku: 'Katakan kepada batu-batu ini untuk menjadi roti.' Tapi sebelum… ya…. bahkan sebelum itu, dia berbicara kepada-Ku mengenai perempuan. Oh! Dia tahu bagaimana berbicara mengenai perempuan. Dia mengenalnya dengan sangat baik. Dia merusakkannya pertama kali, untuk menjadikannya sekutunya dalam kerusakan. Aku bukan hanya Putra Allah. Aku Yesus, pekerja dari Nazaret. Aku katakan kepada laki-laki itu, yang berbicara kepada-Ku kala itu, dia yang bertanya kepada-Ku apakah Aku mengalami pencobaan dan nyaris mendakwa-Ku sebagai diberkati secara tidak adil, sebab Aku tidak berdosa: 'Tindakan surut ketika dipuaskan. Suatu pencoban yang ditolak bukannya melenyap, melainkan bertambah kuat juga sebab Setan menghasutnya.' Aku melawan pencobaan baik nafsu berahi kepada seorang perempuan dan lapar akan roti. Dan kalian pasti tahu bahwa Setan mengajukan perempuan kepada-Ku sebagai sekutu terbaik demi keberhasilan di dunia, dan dia memang benar, dari sudut pandang manusia.

Pencobaan tidak menyerah karena perkataan-Ku: 'Manusia tidak hidup dari perasaannya saja' dan dia berbicara kepadu-Ku mengenai misi-Ku. Ia ingin membujuk-rayu Mesias sesudah gagal dengan si Pemuda. Dan dia menghasut-Ku untuk menundukkan ketidaklayaan para pelayan Bait Allah dengan sebuah mukjzat… Sebuah mukjizat, api dari Surga, tidak untuk dibengkokkan guna membentuk sebuah karangan ranting untuk memahkotai diri kita sendiri… Dan kita janganlah mencobai Allah, meminta mukjizat demi kepentingan-kepentingan manusiawi. Itulah apa yang dikehendaki Setan. Alasan yang dikemukakan olehnya adalah suatu dalih; kebenarannya adalah: 'Berkoar-koar menjadi Mesias', seperti yang dikehendakinya untuk menghantar-Ku ke nafsu yang lain: nafsu kesombongan. Dia tidak gentar dengan jawaban-Ku: 'Kau jangan mencobai Tuhan Allah-mu' dan dia berusaha memperdayakan-Ku dengan kuasa ketiga dari kodratnya: emas. Oh! emas. Roti adalah hal yang besar, dan perempuan bahkan terlebih besar lagi bagi mereka yang merindukan makanan ataupun kenikmatan. Hal diakui oleh orang banyak adalah suatu hal yang sangat besar bagi manusia. Betapa banyak kejahatan dilakukan untuk ketiga hal ini! Tapi emas… emas! Ini adalah kunci yang membuka, suatu mata rantai yang menyatukan, adalah awal dan akhir dari sembilanpuluh sembilan perbuatan manusia. Untuk roti dan perempuan, seorang laki-laki menjadi seorang pencuri. Untuk kuasa, dia menjadi juga seorang pembunuh. Tapi untuk emas, dia menjadi seorang penyembah berhala. Raja emas, Setan, menawari-Ku emasnya jika Aku menyembahnya. Aku menyerangnya dengan perkataan abadi: 'Kau hendaknya menyembah Tuhan Allah-mu, dan melayani-Nya saja.' Itu terjadi di sini." Yesus sekarang berdiri. Ia tampak lebih tinggi dari biasanya di alam yang rata sekeliling-Nya, dalam pendar terang bintang-bintang. Juga para murid bangkit. Yesus melanjutkan berbicara, dengan menatap tajam pada Yudas.

"Kemudian para malaikat Allah datang... Manusia telah memenangkan pergulatan yang sengit. Manusia tahu apa artinya menjadi seorang manusia dan menang. Ia kehabisan tenaga. Pergulatan lebih menghabiskan tenaga dibandingkan puasa yang panjang... Tapi roh menang... Aku pikir bahwa Surga terkejut melihat Aku menjadi makhluk ciptaan yang sempurna yang dianugerahi pengetahuan. Aku pikir bahwa dari sejak saat itu Aku mendapatkan kuasa mengerjakan mukjizat. Aku adalah Allah. Aku telah menjadi Manusia. Sekarang, dengan mengalahkan kodrat binatang yang berhubungan dengan kodrat manusia, Aku adalah Manusia-Allah. Dan ya, Aku adalah Manusia-Allah. Dan sebagai Allah, Aku Mahakuasa. Dan sebagai Manusia Aku Mahatahu. Lakukan seperti yang Aku lakukan, jika kalian ingin melakukan apa yang Aku lakukan. Dan lakukanlah dalam kenangan akan Aku.

Orang itu heran bahwa Aku memohon pertolongan Bapa, dan bahwa dalam doa Aku mohon untuk jangan dimasukkan ke dalam pencobaan. Yakni, dibiarkan pada belas-kasihan pencobaan yang di luar kekuatan-Ku. Aku pikir orang itu tidak lagi heran, sekarang sesudah dia tahu. Aku meminta kalian untuk melakukan yang sama dalam kenangan akan Aku dan untuk menang seperti Aku. Dan tiada pernah meragukan kodrat-Ku sebagai sungguh Manusia dan sungguh Allah, dengan melihat betapa kuat-Nya Aku dalam segala pencobaan hidup, dan bagaimana Aku telah memenangkan pergulatan-pergulatan melawan pancaindera, melawan sensualitas dan melawan perasaan-perasaan. Ingatlah semua itu. Aku berjanji untuk membawa kalian ke tempat yang memungkinkan kalian untuk mengenal sang Guru… dari fajar hidup-Nya, suatu fajar yang semurni dia yang sekarang sedang terbit, hingga ke tengah hari hidup-Nya. Tengah hari yang Aku tinggalkan pergi dan menemui sore kemanusiaan-Ku… Aku katakan kepada seorang dari kalian: 'Aku juga bersiap'; sekarang kalian lihat bahwa itu benar. Aku berterima kasih atas penyertaan kalian dalam kembali ke tempat kelahiran-Ku dan ke tempat penitensi-Ku. Kontak pertama-Ku dengan dunia telah menyakitkan dan menyedihkan-Ku. Terlalu buruk. Jiwa-Ku sekarang telah diberi makan dengan sumsum singa: persatuan dengan Bapa dalam doa dan kesendirian. Dan Aku dapat kembali ke dunia dan memikul salib-Ku sekali lagi, salib pertama sang Penebus; salib kontak dengan dunia. Dengan dunia, di mana ada terlalu sedikit jiwa disebut Maria, disebut Yohanes… Sekarang dengarkan, dan terutama kau Yohanes. Kita akan kembali ke BundaKu dan teman-teman kita. Aku minta kalian untuk tidak mengatakan kepada BundaKu kekerasan yang ditujukan kepada kasih PutraNya. Ia akan menderita terlalu banyak. Ia akan menderita sangat banyak karena kekejian manusia… tapi jangan kita memberikan kepada-Nya piala-Nya sekarang. Akan sangat pahit ketika diberikan kepda-Nya! Teramat pahit hingga akan menjalar bagai racun ke dalam isi perut-Nya yang suci dan pembuluh-pembuluh darah-Nya dan akan menggerogotinya dan membekukan hati-Nya! Oh! Jangan katakan kepada BundaKu bahwa Betlehem dan Hebron menolak-Ku seperti seekor anjing! Kasihanilah Dia! Kau, Simon, tua dan baik, dan bijak, kau tidak akan berbicara, Aku tahu. Kau, Yudas, seorang Yudea, dan tidak akan berbicara karena kesombongan patriotik. Tapi kau, Yohanes, adalah seorang Galilea, dan muda, dan tidak melakukan dosa kesombongan, kritik dan kekejaman. Diamlah. Kelak…kelak kau akan menceritakan selebihnya dari apa yang sekarang Aku minta engkau untuk diam. Sudah begitu banyak yang dikatakan mengenai Kristus. Mengapa menambahkan padanya apa yang adalah karya Setan untuk melawan Kristus? Sahabat-sahabat-Ku terkasih, maukah kalian berjanji pada-Ku untuk itu?"

"Oh! Guru! Kami sungguh berjanji. Yakinlah akan hal itu."

"Terima kasih. Mari kita pergi ke oasis kecil itu. Ada sebuah mataair, sebuah sumur penuh air sejuk dan ada naungan dan tumbuh-tumbuhan hijau. Jalan menuju sungai lewat dekatnya. Kita akan mendapatkan makanan dan minuman hingga sore. Sebelum bintang bersinar, kita akan tiba di sungai, di arung-arungan. Dan kita akan menunggu Yusuf atau bergabung dengannya jika dia sudah kembali. Ayo kita pergi." Dan mereka berangkat sementara rona merah muda pertama mewarnai langit, di timur, memaklumkan terbitnya suatu hari yang baru. 
 
Sumber : yesaya.indocell.net (Puisi Manusia-Allah)
 
 
 

Rabu, 30 September 2015

YESUS BERDOA DI WAKTU MALAM 
 


5 November 1944

Aku melihat Yesus keluar dari rumah Petrus di Kapernaum, sebisa mungkin tanpa menimbulkan suara. Jelas Ia menginap di sana hanya demi membuat Petrus senang.

Malam sunyi senyap. Langit bagai sebuah canopy penuh bintang. Danau samar-samar memantulkan kemilau langit dan, tanpa melihat, orang akan berpikiran bahwa danau yang tenang ada di sana tengah tidur di bawah bintang-bintang, sebab hempasan lembut air pada pantai berbatu.

Yesus membiarkan pintu setengah terbuka, memandangi langit, danau dan jalanan. Ia merenung. Kemudian Ia mulai berjalan, bukan sepanjang pesisir danau, melainkan ke arah desa. Ia melintasi sebagian wilayahnya menuju pedesaan. Ia masuk ke pedesaan, menyusuri sebuah jalan kecil yang menghantar pada permukaan turun naik yang pertama dari sebuah hutan kecil zaitun. Ia masuk dalam kehijauan, kedamaian yang tenang, dan prostratio dalam doa.

Suatu doa yang teramat khusuk! Ia berdoa dengan berlutut, dan lalu, seolah Ia dikuatkan, Ia berdiri tegak, wajah-Nya terarah ke Surga, sebentuk wajah yang menjadi lebih rohaniah oleh terbitnya terang fajar musim panas yang jernih. Ia berdoa dengan tersenyum sekarang, sementara sebelumnya, Ia menghela napas panjang, mungkin karena dukacita moral. Kedua tangan-Nya sepenuhnya terentang. Ia kelihatan bagai sebuah salib malaikat yang tinggi dan hidup, begitu lembut dalam perilaku-Nya. Ia tampaknya memberkati seluruh negeri, hari yang baru, bintang-bintang yang memudar dan danau, yang sekarang menjadi kelihatan.

"Guru! Kami mencari-Mu di mana-mana! Kami melihat pintu setengah terbuka, kala kami kembali dengan ikan, dan kami pikir Engkau telah pergi. Tapi kami tak dapat menemukan-Mu. Hingga akhirnya, seorang petani, yang sedang memuat dagangannya ke dalam keranjang untuk membawanya ke kota, memberitahu kami. Kami memanggil: 'Yesus, Yesus!', dan dia mengatakan: 'Apakah kalian mencari Rabbi Yang berbicara kepada orang banyak? Ia lewat jalan itu, naik ke pegunungan. Ia pasti ada di hutan kecil zaitun Mikha, sebab Ia sering ke sana. Aku melihat-Nya di sana sebelumnya.' Ia benar. Mengapakah Engkau keluar pagi-pagi sekali, Guru? Mengapa Engkau tidak beristirahat? Apakah tempat tidurnya tidak nyaman?…"

"Tidak, Petrus. Tempat tidurnya nyaman dan kamarnya bagus. Tetapi Aku sering melakukannya. Untuk mengangkat roh-Ku dan bersatu dengan Bapa. Doa adalah kekuatan bagi diri sendiri dan bagi orang lain. Kita memperoleh segalanya dengan doa. Jika kita tidak menerima rahmat, yang tidak selalu Bapa anugerahkan - dan janganlah kita berpikir itu karena kurangnya kasih, sebaliknya kita harus percaya bahwa itu adalah kehendak Tata Tertib yang menguasai takdir setiap manusia untuk suatu tujuan baik. Doa pasti memberi kita damai dan kepuasan, memungkinkan kita untuk menanggung begitu banyak hal yang menyakitkan, tanpa keluar dari jalan kekudusan. Kau tahu, Petrus, mudah sekali punya pikiran yang kacau dan hati yang risau karena apa yang terjadi di sekeliling kita! Dan bagaimana dapat pikiran yang kacau atau hati yang risau merasakan Allah?"

"Itu benar. Tetapi kami tidak tahu bagaimana berdoa! Kami tidak bisa mendaraskan kata-kata indah seperti yang Kau ucapkan."

"Ucapkan saja kata-kata yang kalian tahu, sebaik yang kalian dapat. Bukan kata-kata, melainkan perasaan dengan mana kata-kata itu diucapkan yang menjadikan doa kalian berkenan kepada Bapa."

"Kami ingin berdoa seperti Engkau berdoa."

"Aku akan mengajarkan kepada kalian juga berdoa. Aku akan mengajarkan kepada kalian doa yang paling suci. Tapi, demi menghindarkannya dari menjadi sekedar rumusan kosong di bibirmu, Aku ingin hatimu memiliki setidaknya sedikit kekudusan, terang dan kebijaksanaan… Itulah sebabnya mengapa Aku mengajar kalian. Kelak, Aku akan mengajarkan kepada kalian doa suci itu. Mengapakah kalian mencari-Ku, adakah yang kalian inginkan dari-Ku."

"Tidak, Guru. Tetapi ada banyak yang menginginkan begitu banyak dari-Mu. Sudah ada orang-orang yang datang dari Kapernaum, dan mereka miskin, sakit, malang, orang-orang berkehendak baik yang antusias mendengarkan pengajaran. Ketika mereka menanyakan Engkau, kami menjawab: 'Guru lelah, Ia sedang tidur. Pergilah dan kembalilah hari Sabat mendatang.'"

"Tidak, Simon. Kau tak boleh berkata begitu. Bukan hanya satu hari saja untuk belas-kasihan. Aku adalah Kasih, Terang dan Kesehatan setiap hari dalam pekan."

"Tapi… selama ini Engkau berbicara hanya pada hari Sabat ."

"Sebab Aku masih belum dikenal. Tetapi setelah Aku dikenal, setiap hari akan ada aliran Kasih Karunia dan rahmat. Aku dengan sungguh-sungguh mengatakan kepada kalian bahwa saatnya akan tiba ketika bahkan rentang waktu yang diberikan kepada seekor burung pipit untuk beristirahat pada sebuah dahan dan makan beberapa bulir kecil biji-bijian tidak akan diberikan kepada Putra manusia untuk beristirahat dan makan."

"Tetapi Engkau akan jatuh sakit! Kami tak akan membiarkan itu terjadi. Kebaikan hati-Mu jangan sampai membuat-Mu menderita."

"Dan apakah kau pikir itu dapat membuat-Ku menderita? Oh! Andai seluruh dunia datang kepada-Ku untuk mendengarkan-Ku, untuk meratapi dosa-dosanya dan penderitaannya pada hati-Ku, untuk disembuhkan dalam tubuh dan jiwanya, dan Aku kehabisan tenaga karena berbicara, dan mengampuni dan mencurahkan kuasa-Ku, Aku akan sangat bahagia, Petrus, hingga Aku bahkan tak akan menyesali Surga, di mana Aku ada dalam Bapa! Darimanakah mereka yang datang kepada-Ku?"

"Dari Khorazim, Betsaida, Kapernaum, dan sebagian bahkan dari Tiberias dan Gherghesa, juga dari ratusan desa sekitar kota-kota itu."

"Pergi dan katakan kepada mereka bahwa Aku akan berada di Khorazim, Betsaida dan desa-desa sekitarnya."

"Mengapa tidak di Kapernaum?"

"Sebab Aku datang untuk semua orang dan semua orang harus memiliki Aku, dan lalu… ada Ishak tua yang menunggu-Ku. Kita tidak boleh mengecewakan pengharapannya."

"Jadi, apakah Kau akan menunggu kami di sini?"

"Tidak, Aku akan pergi dan kalian tinggal di Kapernaum untuk menghantar orang banyak kepada-Ku; Aku akan kembali kemudian."

"Kita akan di sini sendirian..." Petrus sedih.

"Janganlah sedih. Ketaatan seharusnya membuatmu bahagia, pula keyakinan bahwa kau seorang murid yang berguna. Hal yang sama berlaku bagi yang lain."

Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes bergembira. Yesus memberkati mereka, dan mereka berpisah.

Penglihatan pun berakhir demikian. 
 
 
Sumber : yesaya.indocell.net
 
 
 

Selasa, 01 September 2015


Gua Maria Kerep Ambarawa jadi mercusuar iman bagi umat Katolik, Muslim 


Kehadiran Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA) yang terletak di Kabupaten Semarang, Propinsi Jawa Tengah, menjadi daya tarik khusus bukan hanya bagi umat Katolik tapi juga umat Islam seperti Susilo.

“Awalnya saya ke sini untuk cari ketenangan pikiran dan batin. Ternyata cocok,” kata pria berusia 36 tahun itu.

Susilo yang masih bujang tinggal bersama orangtuanya di sebuah rumah yang terletak di seberang GMKA. Dulu ia mengunjungi GMKA hanya sesekali saja. Namun sejak tiga bulan terakhir, ia mengunjungi GMKA setiap malam.

“Saya sampai GMKA sekitar jam 23.30 WIB, pulang sekitar jam 1.00 WIB. Pulang mengikuti kata hati,” kata buruh bangunan itu. “Kalau saya ke GMKA biasanya berdoa menurut keyakinan saya. Saya cuma meminjam tempat untuk berdoa. Doa yang saya sering panjatkan adalah untuk keluarga.”

Susilo yakin bahwa semua doa yang dipanjatkan dengan tulus akan dikabulkan.

“Banyak teman saya bilang doa-doa mereka terkabul,” katanya, seraya menambahkan bahwa ia akan tetap mengunjungi GMKA untuk berdoa sampai doa-doanya dikabulkan.

Selain Susilo, setiap hari ada banyak umat non-Katolik yang mengunjungi GMKA untuk berdoa atau sekedar jalan-jalan.

“Kalau yang non-Katolik sekitar 15-50 orang datang ke sini setiap hari,” kata Yohanes Aris Widyatmoko, kepala kantor sekretariat GMKA.

Menjadi magnet

GMKA yang bernaung di bawah Keuskupan Agung Semarang (KAS) telah menjadi magnet wisata rohani sejak diberkati oleh Monsignor Albertus Soegijapranata SJ yang saat itu menjabat sebagai vikaris apostolik Semarang pada 15 Agustus – Hari Raya Maria Diangkat ke Surga – tahun 1954.

“Banyak anak muda (datang ke sini) karena di sini ada magnet yaitu taman GMKA. Jadi mereka biasa menghabiskan waktu di sana. Meskipun mereka berkerudung, mereka sudah merasa tidak tabu,” kata Widyatmoko.

Salah satunya adalah Marwiyah, seorang perempuan Muslim yang bekerja sebagai pengasuh untuk seorang wanita lanjut usia Katolik yang tinggal di Kota Semarang. Ia biasa menemani majikannya saat mengunjungi GMKA sekali dalam seminggu.

“Saya berjilbab, tapi saya merasa nyaman masuk ke sini. Saya punya agama sendiri, mereka punya agama sendiri. Jadi saya merasa menghormati,” katanya.

Tapi bukan hanya taman GMKA yang menjadi magnet wisata rohani. GMKA yang berdiri di atas lahan seluas 5,5 hektar juga memiliki ruang doa, 14 stasi Jalan Salib dan sebuah kapel serta beberapa fasilitas lain seperti enam unit gedung transit berlantai dua, aula, toko devosional, kantin dan lahan parkir.

“Yang membuat saya tertarik untuk datang adalah patung Bunda Maria. Kalau dilihat, Bunda Maria itu tersenyum, cantik. Dia seperti dewi. Hati saya merasa tenang, senang,” kata Putrimah, seorang wanita Muslim berusia 51 tahun yang tinggal di Dusun Ngampon.

Ibu dari empat anak yang bekerja sebagai tukang pijat itu mengunjungi GMKA setidaknya sekali dalam sebulan. Terkadang ia membawa serta anak-anaknya.

“Saya tidak tahu soal Bunda Maria. Cuma saya senang melihat Bunda Maria,” katanya.

Uskup Agung Semarang Monsignor Johannes Maria Trilaksyanta Pujasumarta tidak keberatan jika GMKA dianggap sebagai sebuah tempat wisata rohani.

“Boleh dikatakan sebagai wisata rohani. Baik, justru ini yang kita harapkan. Ada berbagai cara untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Masing-masing agama mempunyai habitus sendiri, punya tata ibadah sendiri. Kita tidak menutup untuk diri kita sendiri,” katanya.

 
Lebih dari 7.500 peziarah mengikuti upacara pemberkatan ikon baru -patung Maria Assumpta pada 15 Agustus 2015



Devosi

Bagi umat Katolik seperti Rosalina Budi Astuti, 54, GMKA menjadi tempat yang paling tepat untuk melakukan devosi. Ia rutin mengunjungi GMKA sejak setahun lalu.

“Kalau ke sini setiap malam Selasa kliwon dan malam Jumat kliwon. Pasti ke sini sama Bapak (suami). Saya berdoa Rosario,” kata umat Paroki St. Paulus di Sendangguwo, Semarang, itu.

Menurut Monsignor Pujasumarta, iman umat Katolik setempat bisa dilihat dari devosi mereka yang begitu kuat terhadap Bunda Maria.

KAS sendiri, misalnya, memiliki 32 Gua Maria: delapan di Kevikepan Semarang, tiga di Kevikepan Kedu, 12 di Kevikepan Surakarta, dan sembilan di Kevikepan Yogyakarta.

Di tingkat nasional, Gua Maria yang paling populer adalah Gua Maria Sendangsono yang diberkati pada 8 Desember 1929. Gua Maria ini dikelola oleh Paroki St. Maria Lourdes di Promasan, Yogyakarta.

Sendangsono berasal dari kata “sendang” yang berarti mata air dan “sono” yang merupakan nama pohon. Sendangsono, atau mata air di bawah pohon, merupakan tempat di mana benih-benih pertama iman Katolik ditaburkan lebih dari 100 tahun lalu di Jawa. Pada 14 Desember 1904, Pastor Frans van Lith SJ memberkati mata air itu dan menggunakannya untuk membaptis 171 umat Katolik Jawa yang pertama.

Namun alasan geografis membuat banyak umat Katolik lebih memilih untuk mengunjungi GMKA dan bukan Gua Maria Sendangsono.

“GMKA menjadi besar karena dikunjungi banyak orang. Dibandingkan Sendangsono, GMKA banyak dikunjungi. Alasannya mudah dicapai, geografis,” kata Monsignor Pujasumarta.

 
Rosalina Budi Astuti berdoa Rosario di depan Gua Maria di GMKA


Ikon baru

Semakin banyak peziarah nampaknya akan mengunjungi GMKA khususnya setelah tanggal 15 Agustus tahun ini ketika sebuah patung Maria Assumpta setinggi 30,7 meter yang dibangun di GMKA diberkati oleh Monsignor Pujasumarta.

Untuk pemberkatan patung itu sendiri yang berlangsung pada Sabtu sore, sekitar 7.500 peziarah dari berbagai wilayah di Indonesia dan bahkan dari negara tetangga seperti Malaysia memadati GMKA.

“Ada keinginan supaya kawasan ini ada ikon yang memukau. Lalu salah satunya adalah memanfaatkan momentum ulang tahun setiap tanggal 15 Agustus. Itu adalah Hari Raya Maria Diangkat ke Surga. Itu menjadi pelindung dari GMKA ini. Supaya bisa didatangi orang, harus ada sesuatu yang mengikat,” kata Monsignor Pujasumarta.

Tiga pemahat Katolik membutuhkan waktu selama setahun untuk menyelesaikan pembuatan patung yang terbuat dari pasir silika dan resin itu. Ketiganya adalah kakak-beradik.

“Patung itu wujud dari kami bertiga untuk persembahan,” kata Nugroho Adi Prabowo, salah seorang pemahat. Kedua pemahat lainnya adalah Koentjoro Budi Pranoto dan Hartanto Agung Yuwono.

Ada alasan historis mengapa ikon baru tersebut dibangun di GMKA.

“GMKA diberkati berkaitan dengan peringatan 100 tahun dogma ‘Maria Terkandung Tanpa Noda’ pada tahun 1954. Tahun itu pula merupakan tahun syukur Gua Maria Lourdes Sendangsono yang diresmikan pada 8 Desember 1929, yang berarti juga 50 tahun setelah peristiwa pembaptisan 171 orang di Kalibawang oleh Romo Frans van Lith SJ,” kata Monsignor Pujasumarta.

Pemberkatan Patung Maria Assumpta disusul dengan prosesi replika patung dan lilin bernyala. Lalu Misa Kudus untuk memperingati Ulang Tahun GMKA ke-61 digelar dan dilanjutkan dengan adorasi Sakramen Mahakudus.

“Kami tahu (soal pemberkatan itu) dari YouTube. Kami merasa bahagia,” kata Levita Michael, seorang peziarah dari Sabah, Malaysia.

Arfiana, 23, seorang remaja Muslim asal Kalimantan Timur, mengunjungi GMKA untuk melihat ikon baru tersebut menjelang pemberkatan. “Saya tahu tempat ini dari teman. Lumayan bagus tempatnya, patungnya,” katanya.

Ikon baru itu diharapkan mampu meningkatkan kerukunan antaragama khususnya antara umat Katolik dan Islam di masa yang akan datang.

“Kehadiran Patung Maria Assumpta GMKA bukan langkah mundur dialog antar-umat beragama lain, sebaliknya menjadi tonggak kokoh untuk memajukan dialog antar-umat beragama untuk membangun persaudaraan sejati berdasarkan cinta kasih, pokok pengalaman akan Allah pada setiap orang beragama,” kata Monsignor Pujasumarta.

 
Uskup Agung Semarang Mgr Johannes Maria Trilaksyanta Pujasumarta
menaiki crane saat memberkati patung Maria Assumpta
 



Kerukunan antaragama

Terletak di Ambarawa, satu dari 19 kecamatan di Kabupaten Semarang yang memiliki polulasi sekitar 970.000 jiwa dan 87 persennya adalah Muslim, GMKA telah menawarkan berbagai kegiatan antaragama sejak diberkati 61 tahun lalu.

“Salah satunya Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan KAS setiap enam bulan sekali mengadakan temu kebatinan di sini. Panitia banyak mengundang narasumber dari Muslim,” kata Widyatmoko.

Suhadi Maskur, seorang tokoh Muslim dari Mesjid Agung Palagan Ambarawa, tidak pernah melarang umat Islam untuk mengunjungi GMKA.

“Saya tidak masalah jika ada umat Islam yang datang ke tempat ziarah GMKA. Umat Islam mau datang ke sana, ya silakan. Tapi jangan mengganggu,” katanya.

Menurutnya, kehadiran GMKA turut membantu meningkatkan kerukunan antaragama di wilayah itu.

“Tidak pernah ada masalah antaragama di sini. Take and give, menerima dan memberi. Itu bentuk kerukunan antaragama di sini. Kasih sayang antarumat beragama modalnya,” kata pria berusia 86 tahun itu.

Sementara itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Semarang Sinwani mengatakan bahwa ketegangan yang sering muncul biasanya berkaitan dengan pengurusan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk tempat ibadah.

Bukan hanya di wilayah itu, Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Rumah Ibadah telah menciptakan sejumlah masalah di berbagai wilayah di Indonesia.

“Tidak pernah ada konflik. Masalah itu pendek tapi terselesaikan. Di sini tidak ada konflik, adanya perbedaan. Perbedaan itu tidak sampai menimbulkan konflik yang besar, bisa kami tangani. Perbedaan itu indah. Dalam Islam, perbedaan itu rahmat,” katanya.
Katharina R. Lestari, Kerep
Sumber : http://indonesia.ucanews.com/