Minggu, 06 Agustus 2017

YESUS DAN ANAK-ANAK



Anak-anak berjalan sekeliling Yesus, menatap pada-Nya dan tersenyum membalas senyum-Nya. Seorang anak yang lebih berani dari yang lain-lainnya bertanya: "Siapakah Engkau?"

"Yesus," Ia menjawab sembari membelainya.

"Apakah yang Engkau lakukan?"

"Aku sedang menunggu beberapa teman."

"Dari Askelon?"

"Bukan, dari negeri-Ku dan dari Yudea."

"Apakah Engkau kaya? Aku kaya. Ayahku punya rumah yang indah dan dia membuat karpet di rumah. Datang dan lihatlah. Tidak jauh dari sini."

Dan Yesus pergi bersama si anak dan mereka memasuki sebuah jalanan panjang di bawah atap yang melengkung, yang seperti jalanan dengan naungan di atasnya. Di ujung jalan mereka melihat sekilas lautan, yang sangat cemerlang di bawah sinar matahari dan tampak bahkan terlebih hidup dalam temaram cahaya jalanan beratap.

Mereka bertemu dengan seorang gadis kecil yang kurus kering; dia sedang menangis. "Itu Dina. Dia miskin, Engkau tahu? Ibuku memberinya makan. Ibunya tidak dapat lagi bekerja. Ayahnya mati, di lautan. Dalam suatu badai sementara berlayar dari Gaza ke pelabuhan Sungai Besar untuk membawa barang-barang ke sana dan untuk mengambil barang-barang. Dan sebab barang-barang itu milik ayahku dan ayah Dina adalah salah seorang pelaut kami, ibuku yang sekarang mengurus mereka. Tetapi ada begitu banyak mereka yang ditinggalkan tanpa ayah seperti itu… Bagaimanakah pendapat-Mu? Pastilah sangat mengerikan menjadi anak-anak yatim piatu dan orang-orang miskin. Ini rumahku. Jangan katakan pada ibuku kalau tadi aku ada di jalanan. Aku seharusnya berada di sekolah. Tapi aku dikeluarkan sebab aku membuat teman-temanku tertawa dengan ini…" dan dia menarik keluar dari pakaiannya sebuah boneka ukiran kayu, yang dibuat dari sebilah kayu tipis, yang sungguh sangat kocak, dengan dagunya yang licin dan hidungnya yang sangat aneh.

Bibir Yesus bergetar seolah Ia nyaris tersenyum, tetapi Ia mengendalikan Diri dan berkata: "Itu bukan guru sekolahmu, kan? Atau seorang sanak? Itu tidak benar."

"Bukan. Ini adalah kepala sinagoga bangsa Yahudi. Dia tua dan jelek dan kami biasa mengolok-oloknya."

"Itu juga tidak benar. Dia tentunya jauh lebih tua darimu dan…"

"Oh! Dia sangat tua, dia nyaris bongkok dan buta, tapi dia begitu jelek rupanya!... Itu bukan salahku, kalau dia begitu jelek!"

"Bukan. Tapi kau salah memperolok seorang tua. Kau akan jelek juga, apabila kau tua, sebab kau akan bongkok karena usia; kau akan botak, nyaris buta, kau akan butuh tongkat untuk berjalan, wajahmu akan menjadi seperti itu. Jadi? Akankah kau senang jika seorang anak nakal mengolok-olokmu?

Dan mengapa kau harus membuat marah gurumu dan mengganggu teman-temanmu? Itu tidak benar. Jika ayahmu tahu, dia akan menghukummu dan ibumu akan sedih. Aku tidak akan mengatakan apapun pada mereka. Tapi kau harus memberi-Ku dua hal dengan segera: janjimu bahwa kau tidak akan lagi melakukan olok-olok macam itu dan boneka itu. Siapa yang membuatnya?"

"Aku, Tuhan…" kata anak yang malu itu, yang sekarang sadar akan betapa serius… kelakuan buruknya… Dan dia melanjutkan: "Aku sangat suka mengukir kayu! Kadang aku mengukir bunga-bunga atau binatang-binatang yang ada di karpet, Engkau tahu?... naga, Sphynx dan binatang-binatang lain…"

"Kau dapat melakukannya. Ada begitu banyak hal indah di bumi! Jadi maukah kau berjanji dan maukah kau memberikan boneka itu pada-Ku? Jika tidak, kita bukan lagi teman. Aku akan menyimpannya sebagai suvenir dan Aku akan berdoa untukmu. Siapa namamu?"

"Alexander. Dan apakah yang akan Engkau berikan padaku?"

Yesus tersipu. Ia selalu punya sangat sedikit! Tetapi Ia ingat bahwa Ia punya sebuah gesper indah pada kerah salah satu jubahnya. Ia mencarinya dalam tas-Nya, menemukannya, melepaskannya dan memberikannya kepada si anak. "Dan sekarang marilah kita pergi. Tapi ingat, bahkan meski Aku pergi, Aku tetap akan tahu semuanya. Dan jika Aku tahu bahwa kau nakal, Aku akan kembali ke sini dan mengatakan semuanya pada ibumu." Perjanjian disepakati...

Dina, gadis kecil itu, dengan tatapan sedih kanak-kanak yang tidak bahagia, menghampiri Yesus dengan malu-malu.

Yesus membelainya dan berkata: "Maukah kau membawa-Ku pada ibumu? Kau ingin ibumu sembuh, ya kan? Jadi, kalau begitu, bawa Aku kepadanya. Selamat tinggal, perempuan. Dan selamat tinggal, Alexander. Dan jadilah baik."

Ia pergi keluar dengan menggandeng tangan si gadis kecil. "Apa kau sendirian?" Ia bertanya padanya.

"Aku punya tiga adik laki-laki. Yang bungsu tidak pernah mengenal ayahnya."

"Janganlah menangis. Dapatkah kau percaya bahwa Allah dapat menyembuhkan ibumu? Kau tahu atau tidak, bahwa hanya ada satu Allah Yang mengasihi manusia hingga Ia mencipta dan teristimewa anak-anak yang baik? Dan bahwa Ia dapat melakukan segalanya?"

"Ya, aku tahu, Tuhan. Saudaraku Tolme biasa pergi ke sekolah dan di sekolah dia berbaur dengan anak-anak Yahudi. Itulah sebabnya kami tahu banyak hal. Aku tahu bahwa Allah ada dan nama-Nya adalah Yahweh dan bahwa Ia menghukum kami sebab bangsa Filistin jahat kepada-Nya. Anak-anak Yahudi selalu mengatai kami karena itu. Tetapi aku tidak ada di sana waktu itu, juga ibuku ataupun ayahku. Jadi kenapa…" airmata mencekik perkataannya.

"Jangan menangis. Allah mengasihimu juga, dan Ia membawa-Ku ke sini, untukmu dan untuk ibumu. Tahukah kau bahwa bangsa Israel menantikan Mesias Yang akan datang untuk membangun Kerajaan Surga? Kerajaan Yesus, Penebus dan Juruselamat dunia?"

"Aku tahu, Tuhan. Dan mereka mengancam kami dengan mengatakan: 'Lalu akan ada malapetaka bagi kalian.'" 

"Dan tahukah kau apa yang akan dilakukan Mesias?"

"Ia akan menjadikan Israel suatu bangsa yang besar dan akan memperlakukan kami dengan sangat kejam."

"Tidak. Ia akan menebus dunia, Ia akan menghapus dosa, Ia akan mengajar orang banyak untuk tidak berdosa, Ia akan mengasihi orang-orang yang miskin, sakit, menderita, Ia akan pergi kepada mereka, dan Ia akan mengajar orang-orang yang kaya, sehat, bahagia untuk mengasihi orang-orang yang malang itu dan Ia akan mengatakan kepada semua orang untuk menjadi baik guna mencapai hidup abadi yang bahagia di Surga. Itulah apa yang akan Ia lakukan. Dan Ia tidak akan menindas siapa pun."

"Dan bagaimanakah orang akan mengenal-Nya?"

"Sebab Ia akan mengasihi semua orang dan akan menyembuhkan orang-orang sakit yang percaya kepada-Nya, Ia akan menebus orang-orang berdosa dan mengajarkan kasih."

"Oh! Aku berharap Ia datang sebelum ibuku meninggal! Betapa aku akan percaya kepada-Nya! Betapa aku akan berdoa kepada-Nya! Aku akan pergi dan mencari-Nya hingga aku menemukan-Nya dan aku akan berkata kepada-Nya: 'Aku seorang gadis miskin tanpa ayah dan ibuku di ambang ajal, aku berharap pada-Mu' dan aku yakin bahwa, meski aku seorang Filistin, Ia akan mendengarkan aku." Suaranya bergetar dengan iman mendalam yang polos.

Yesus tersenyum menatap pada gadis malang itu yang berjalan di samping-Nya. Dia tidak dapat melihat senyum cemerlang-Nya sebab dia menatap ke depan, ke rumah yang sekarang sudah dekat…

Mereka tiba di sebuah rumah kecil papa, di ujung sebuah gang buntu. "Di sini, Tuhan-ku. Masuklah…" Sebuah ruang kecil yang mengenaskan, sebuah pembaringan jerami dengan sebentuk tubuh tak berdaya di atasnya, tiga tubuh kecil antara usia tiga dan sepuluh tahun, duduk sekeliling pembaringan. Penderitaan dan kelaparan tergambar di mana-mana.

"Damai sertamu, perempuan. Janganlah terkejut. Janganlah merepotkan dirimu. Aku mendapati puterimu dan Aku tahu bahwa kau tidak sehat. Aku telah datang. Maukah kau sembuh?"

Dalam suara lirih perempuan itu menjawab: "Oh! Tuhan-ku!... Inilah akhir bagiku!..." dan dia menangis.

"Puterimu percaya bahwa Mesias dapat menyembuhkanmu. Bagaimana denganmu?"

"Oh! Aku percaya itu juga. Tetapi di manakah Mesias?"

"Adalah Aku, Yang sedang berbicara kepadamu." Dan Yesus, Yang membungkuk di atas pembaringan dengan membisikkan perkataan-Nya kepada perempuan malang itu, bangkit berdiri dan berseru: "Aku menghendakinya. Sembuh."

Anak-anak nyaris ketakutan akan kemuliaan-Nya, dan ketiga wajah yang terpaku tetap tinggal sekeliling papan pembaringan ibu mereka. Dina menekankan kedua tangannya pada dadanya yang kecil. Secercah harapan, secercah kebahagiaan terpancar pada wajahnya. Dia begitu tersentuh, hingga dia nyaris pingsan. Mulutnya terbuka untuk mengucapkan sepatah kata yang sudah dibisikkan hatinya dan ketika dia melihat bahwa ibunya, yang selama itu lemah dan tak berdaya, duduk, seolah dia ditopang oleh suatu kekuatan yang disalurkan ke dalam dirinya, dan lalu bangkit berdiri, dengan matanya menatap sepanjang waktu pada sang Juruselamat, Dina melontarkan suatu seruan sukacita: "Mama!" Perkataan yang memenuhi hatinya sudah diucapkan!... Dan lalu seruan lainnya: "Yesus!" Dan dengan memeluk ibunya dia memaksanya untuk berlutut seraya berkata: "Sembahlah Dia, sembahlah Dia! Itu Dia, Juruselamat Yang dinubuatkan Yang disebutkan oleh guru Tolme."

"Sembahlah Allah Yang Benar, jadilah baik, ingatlah Aku. Selamat tinggal." Dan Ia bergegas pergi keluar sementara kedua perempuan yang berbahagia itu masih prostratio di tanah

Sumber : 
http://www.yesaya.indocell.net/




WONDERFUL INDONESIA


Borobudur Temple-Jawa Tengah, Indonesia 

Prambanan Temple-Jawa Tengah, Indonesia 

Raja Ampat-Papua Barat, Indonesia 

Rammang Maros-Sulawesi, Indonesia 

Bromo Mountain-Jawa Timur, Indonesia 

Pekalen-Jawa Timur, Indonesia 

Conservation Of Sibolangit-Sumatera Utara, Indonesia 

Crater Lake Of Rinjani-NTB, Indonesia 

Waterfall of Lembah Anai-Sumatera Barat, Indonesia 

Beras Basah Island-Kalimantan Timur, Indonesia 

Image result for Labuan Cermin Lake-Kalimantan Timur-Indonesia
Labuan Cermin Lake-Kalimantan Timur-Indonesia

Pancur Aji Sanggau Waterfall-Kalimantan Barat-Indonesia


Marine Park of Bunaken-Sulawesi Utara-Indonesia


Embeh Island-Sulawesi Utara-Indonesia


Beratan Bedugul Lake-Bali-Indonesia

Tanah Lot-Bali-Indonesia


Tanjung Tinggi Beach-Belitung-Indonesia