Selasa, 28 Januari 2014

Bagaimana Melepaskan Diri dari Dosa Ketidakmurnian 
yang Telah Menjadi Kebiasaan? 

Maaf, cara instan tidak berkhasiat!


Dewasa ini ada banyak cara ditawarkan, agar orang yang gemuk dapat mengurangi berat badannya. Tak jarang cara yang dianjurkan sangat ekstrim, mulai dari diet yang berlebihan, minum obat pengurus badan, sampai operasi sedot lemak. Namun, dari semua cara untuk menguruskan badan, tidak ada cara yang lebih efektif dari dua hal ini: mengatur pola makan dan olahraga yang teratur. Walaupun semua orang tahu dua cara yang paling efektif ini, namun banyak orang cenderung untuk tidak mau melaksanakannya, karena tidak mau repot-repot. Umumnya orang berkeinginan untuk tidak mengadakan perubahan pola hidup, tetap makan seenaknya, tidak perlu olahraga, namun badan tetap ideal. Singkatnya, tak usah berubah, namun segera mencapai hasil memuaskan. Tak mengherankan bukan, sebab orang cenderung mau yang serba instan!

Nampaknya, hal serupa terjadi dalam spiritualitas. Banyak orang yang terjerat dosa ketidakmurnian selama bertahun-tahun, sehingga telah berakar di dalam hati serta telah menjadi kebiasaan, ingin lepas dari dosa yang berbahaya ini. Namun demikian, mereka menginginkan cara yang instan dan tidak mau repot untuk mengubah pola hidup. Padahal untuk dapat lepas dari dosa yang melawan kemurnian, apalagi yang telah mengakar dalam hati, tidak ada cara yang instan. Kelemaham ini namun harus disikapi dengan cara yang sebenarnya banyak orang sudah tahu, yaitu: dengan terus bergantung pada rahmat Allah yang mengalir dalam doa dan sakramen, tekun dalam membaca Firman Tuhan, menjauhi kesempatan untuk berbuat dosa, dan bertumbuh dalam komunitas. Tentu saja, semua hal ini bukanlah cara yang instan, namun ini adalah cara yang telah terbukti berhasil, sebagaimana kita ketahui dalam kehidupan sejumlah orang kudus dalam sejarah Gereja.
Dosa melawan kemurnian yang dapat menjadikan seseorang menjadi hamba dosa

Dosa melawan kemurnian dalam konteks pelanggaran seksual adalah dosa yang mungkin merupakan dosa yang paling sering dilakukan oleh manusia. Beberapa pelanggaran terhadap kemurnian adalah: nafsu/ ketidakmurnian, masturbasi/ onani, percabulan, pornografi, prostitusi, perkosaan, homoseksualitas. (lih. KGK 2351-2357). Silakan melihat pembahasannya di sini – silakan klik. Dalam sepuluh perintah Allah, Tuhan memberikan larangan kepada seseorang untuk menginginkan wanita yang bukan istrinya (perintah ke-9) maupun untuk melakukan percabulan (perintah ke-6). Kristus, bahkan lebih jauh mengatakan, “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Mat 5:28). Rasul Paulus menuliskan bahwa Allah menghendaki pengudusan kita, agar kita menjauhi percabulan (lih 1Tes 4:3). Katekismus Gereja Katolik menggolongkan dosa ketidakmurnian – dalam hal ini percabulan – menjadi salah satu dosa-dosa pokok, yang dapat mengakibatkan dosa-dosa lain dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang lain timbul (KGK 1866). Dalam kehidupan sehari-hari, dapat terjadi, orang yang sering berfikir tidak murni dapat terjerat pada dosa pornografi, kemudian disusul dengan percabulan ataupun perzinahan, sehingga ia mempunyai pasangan di luar nikah. Akibat selanjutnya dia akan menelantarkan keluarga, sehingga keluarga hancur berantakan, dan anak-anak juga menuai akibatnya. Itulah rangkaian dosa dan akibat yang mungkin timbul, yang disebabkan oleh dosa ketidakmurnian. Jadi, kita harus berhati-hati terhadap dosa ketidakmurnian ini.

Kalau jenis dosa ini tidak ditangani secara serius dan sesegera mungkin, maka seseorang dapat terjebak pada dosa yang sama ini, dan melakukannya terus secara berulang-ulang, sampai ia tidak lagi mempunyai kemampuan untuk melepaskan diri dari jerat dosa ini. Secara berangsur-angsur jiwanya menjadi terbiasa untuk melakukan dosa, dan lama-kelamaan ia menjadi terampil dalam melakukan dosa tersebut. Begitu ada kesempatan berbuat dosa datang, maka orang itu seperti mempunyai naluri untuk secara otomatis melakukan dosa tersebut dan kehilangan kekuatan untuk berkata ‘tidak’ terhadap dosa. Dengan kata lain, orang tersebut menjadi budak dosa.

Ada begitu banyak orang yang mungkin mengalami pengalaman sedemikian, sejumlah di antara mereka mengajukan pertanyaan ke redaksi katolisitas, untuk menanyakan bagaimana caranya melepaskan diri dari dosa ketidakmurnian yang telah menjadi kebiasaan. Banyak orang telah terjerat dalam pornografi, onani dan masturbasi, serta dosa ketidakmurnian yang lain, berniat untuk bertobat, mengaku dosa, namun kemudian kembali lagi kepada dosa yang sama. Ada yang mencoba mengikuti retret, berhasil untuk keluar dari dosa ini untuk sementara, kemudian terjatuh lagi setelah beberapa saat. Tidak jarang, kadang semua usaha ini seperti sia-sia dan akhirnya berakhir pada keputusasaan. Pendek kata, kalau dosa ini telah mengakar dalam hati dan telah menjadi kebiasaan, maka sulit sekali untuk dicabut sampai ke akar-akarnya. Apakah ada cara untuk melepaskan diri dari belenggu dosa ini? Tentu saja ada, karena Yesus sendiri menjanjikan “kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (lih. Yoh 8:32)
Menyadari kelemahan dan konsekuensi dosa adalah langkah awal perbaikan

Langkah pertama untuk melepaskan diri dari belenggu dosa ketidakmurniaan yang telah menjadi kebiasaan adalah menghadapkannya kepada kebenaran itu sendiri. Ini diawali dengan menyadari bahwa ada yang salah dalam diri kita, dan kita telah melakukan dosa. Setelah Raja Daud berbuat dosa perzinahan dengan Batsyeba, maka dia mengakui dosanya dengan jujur, “Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu” (Mzm 51:3-4). Kesadaran akan kebenaran ini menjadi langkah awal untuk memperoleh kembali kehidupan yang penuh rahmat.

Ada banyak orang yang telah jatuh ke dalam dosa ketidakmurnian kemudian membuat pembelaan dan menyalahkan segala hal, kecuali dirinya sendiri. Ada yang mulai menyalahkan keluarganya yang kurang memberikan pondasi iman, sehingga dengan mudah dia jatuh dalam dosa. Ada yang berkilah bahwa lingkungan dan teman-teman yang tidak baiklah yang mendorongnya untuk berbuat dosa. Bahkan ada yang menyalahkan setan yang senantiasa menggodanya, sehingga sulit baginya untuk lepas dari dosa ini. Walaupun mudah untuk membuat segudang alasan, namun semua alasan tersebut tidak akan membantu orang yang ingin memperbaiki diri, sampai dia sendiri mengatakan “Ya, saya telah berbuat dosa dan saya telah berkata ya terhadap godaan.” Lingkungan, semua orang, atau bahkan setan dapat saja menggoda kita, namun pada akhirnya dosa adalah keputusan dari kehendak kita, yang tidak menolak dosa namun justru menyetujui dosa dan melakukannya secara sadar. Dengan demikian, kalau kita berdosa, maka yang perlu disalahkan adalah diri kita sendiri, karena sesungguhnya Allah telah memberikan rahmat yang cukup untuk membantu kita agar dapat menolak dosa dan terus bertumbuh dalam kekudusan.

Kita juga perlu menyadari bahwa kalau kita terus melakukan dosa yang sama berulang-ulang dan menjadi satu kebiasaan, maka sesungguhnya kita telah membahayakan keselamatan kekal jiwa kita. Walaupun kita dapat berdalih bahwa dosa yang menjadi kebiasaan bukanlah dosa berat, namun dosa ringan sekalipun yang terus diulang-ulang akan berkembang menjadi dosa berat. Dan kalau kita tidak bertobat dari dosa berat ini dan meninggal dalam kondisi dosa berat, maka kita telah menempatkan diri sendiri dalam penghukuman Tuhan. Pada tahap awal, ketakutan akan penghukuman Tuhan dapat menjadi pemicu kita untuk masuk dalam pertobatan. Namun selanjutnya, kasih akan Allah-lah yang akan mendorong kita agar menghindari dosa, sebab mengetahui bahwa dosa itu memisahkan kita dari Allah.
Rahmat Allah menjadi kunci pembebasan

Kesadaran bahwa dosa membuat kita tidak berkenan di hadapan Tuhan, ini sebenarnya adalah gerakan Roh Kudus yang memberikan rahmat pembantu (actual grace) kepada kita. Rahmat ini menyadarkan kita bahwa kita telah berdosa dan memerlukan pertobatan. Pertanyaannya adalah, apakah kita sungguh-sungguh dapat bekerjasama dengan rahmat Allah ini? Keinginan untuk bertobat dapat memberikan efek (efficacious), namun bisa juga tidak memberikan efek (inefficacious). Hal ini disebabkan karena kita sebagai manusia sering berusaha untuk memerangi dosa dengan kekuatan kita sendiri. Hal ini juga dialami oleh St. Agustinus dari Hippo. Namun sebagaimana diakui oleh St. Agutinus, semakin kita ingin memerangi dosa dengan kekuatan sendiri, maka semakin kita terjatuh dalam lumpur keputusasaan, karena kita akan gagal.

Dalam bukunya, Confessions, St. Agustinus mengungkapkan transformasi keinginannya untuk memperbaiki diri yang hanya mungkin direalisasikan dengan bantuan rahmat Tuhan yang dibarengi dengan kerjasama dari pihaknya sebagai manusia. Dia mengungkapkan peperangan di dalam batinnya, yang walaupun menginginkan untuk hidup murni, namun seringkali hanya berakhir pada keinginan belaka tanpa tindakan nyata. Seringkali keinginan mempunyai “keinginan tersembunyi” – yaitu tetap menginginkan ketidakmurnian – sehingga ketika keinginan untuk hidup murni datang, tidak benar-benar dilakukan dengan keinginan yang teguh dan tak tergoyahkan. St. Agustinus mengungkapkannya dengan jujur, “Tuhan, berikan aku kemurnian, namun jangan sekarang”.

Kesadaran bahwa dengan kekuatan sendiri, kita akan gagal untuk memperbaiki diri, sudah seharusnya mengingatkan kita bahwa hanya dengan bantuan rahmat Allah saja, kita dapat menjadi murni dan terlepas dari dosa-dosa ketidakmurnian yang telah menjadi kebiasaan. Kesadaran inilah yang membawa St. Agustinus pada pertobatan yang sungguh, yaitu ketika dia menyesali mengapa tidak sejak awal ia meminta kepada Allah untuk memberikan rahmat-Nya supaya dia dapat terlepas dari dosa tersebut.

Di sisi lain, kita dapat melihatnya demikian: kalau dosa adalah ketidakadaan kasih, maka dosa hanya dapat ditangani dengan cara mengisinya dengan kasih. Kalau dosa ketidakmurnian telah menjadi kebiasaan, artinya orang yang melakukannya telah menjauh diri dari kasih. Maka untuk mematahkan dosa tersebut, diperlukan kasih Allah. Kasih ini hanya didapatkan dari Kristus, yang terlebih dahulu mengasihi kita (lih. 1Yoh 4:10). Jadi, cara untuk mengatasi keterikatan kita akan dosa adalah dengan membiarkan kasih Kristus meraja di dalam hati kita. Untuk itu, kita dapat melakukan retret, mempunyai kehidupan sakramen yang baik, bertekun dalam Firman Tuhan dan doa-doa pribadi.
1. Retret atau rekoleksi menjadi pendobrak.

Kalau kondisi memungkinkan, mengikuti retret maupun rekoleksi dapat menjadi langkah awal yang efektif. Diharapkan seseorang dapat kembali mengulang saat-saat indah bersama Allah dan akhirnya akan kembali ke jalan Tuhan. Ada cukup banyak retret yang diadakan dalam komunitas Gereja Katolik, baik dalam lingkup teritorial maupun kategorial. Sudah seharusnya, kalau memungkinkan kita dapat mengikuti retret atau rekoleksi satu tahun sekali. Dengan mengikuti retret, bukan berarti seseorang terbebas selamanya dari kebiasaan untuk melakukan dosa ketidakmurnian. Tanpa bekerjasama dengan rahmat Allah secara terus-menerus, seseorang akan dengan mudah jatuh kembali ke dosa ini. Kalau diumpamakan dengan penyakit yang telah parah dan ingin diobati, maka retret adalah seperti melakukan operasi. Sama seperti setelah operasi diperlukan tahapan untuk mengubah pola hidup dan pola makan yang teratur, maka setelah retret juga diperlukan perubahan sikap hidup, yang harus dilakukan secara teratur dan terus menerus.
2. Menerima Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat secara teratur.

Perubahan sikap hidup dan laku spiritualitas harus dimulai dengan terus bergantung kepada rahmat Allah. Allah telah memberikan sakramen sebagai cara yang dipilih-Nya untuk menyalurkan rahmat-Nya. St. Leo Agung mengajarkan, “Apa yang tampak pada Penebus kita, sudah dialihkan ke dalam misteri-misteri-Nya”/ sakramen-sakramen-Nya” (KGK 1115). Dengan kata lain, setiap kali kita menerima sakramen-sakramen, maka kita bertemu dengan Kristus yang menyalurkan rahmat-Nya. Oleh karena itu, sudah seharusnya umat Allah menimba kekuatan dari rahmat Allah yang mengalir dari sakramen-sakramen-Nya. Maka penting di sini agar kita memahami makna sakramen, menghayatinya, dan mempersiapkan batin untuk menyambutnya, agar kita dapat memperoleh buah-buahnya secara efektif.

Karena Kristus telah menginstitusikan Sakramen Tobat untuk mengampuni dosa – baik dosa ringan dan dosa berat – maka sudah seharusnya pertobatan yang sungguh dimulai dengan menerima sakramen Pengakuan Dosa. Adalah baik untuk mempersiapkan sakramen pengakuan dosa dengan sungguh-sungguh, dengan mengadakan pemeriksaan batin yang baik. Untuk mengetahui bagaimana mempersiapkan pengakuan dosa yang baik, silakan melihat artikel ini – silakan klik. Dengan mengadakan pemeriksaan batin yang baik dan memohon kekuatan dari Roh Kudus, semoga kita mempunyai keberanian untuk mengakukan dosa tanpa berusaha menyembunyikan atau memberikan pembelaan diri. Semoga sikap ini dibarengi oleh kemantapan hati untuk memperbaiki diri. Dengan demikian, pengampunan dosa akan memberikan efek yang sungguh luar biasa bagi orang yang tulus ingin memperbaiki diri.

Bagi orang yang berjuang untuk terlepas dari dosa yang telah menjadi kebiasaan, seringkali tidaklah cukup untuk mengaku dosa hanya satu kali. Seringkali, seseorang akan jatuh lagi ke dalam dosa yang sama, walaupun dia telah mengaku dosa dengan tulus dan penuh kesungguhan hati. Kalau menghadapi situasi seperti ini, kita tidak boleh berputus asa dan berhenti untuk mengakukan dosa yang sama. Yang terpenting, kita berfokus pada belas kasih Allah dan rahmat Allah, yang dapat membantu kita untuk dapat melawan godaan, sehingga kita tidak jatuh ke dalam dosa yang sama. Kita tetap membuat resolusi yang teguh untuk mengakukan dosa secara teratur, sekitar satu bulan sekali, atau dua minggu sekali atau bahkan setiap minggu, jika berkaitan dengan dosa-dosa yang sedemikian menjerat. Dan sungguh baik kalau kita mengakukan dosa kepada pastor yang sama, sehingga pastor tersebut dapat membantu kita untuk menangani dosa yang sama ini dengan lebih baik.

Kita meyakini bahwa rahmat Allah pasti mengalir dari Sakramen Tobat dan memurnikan kita. Namun, biarlah kita juga menerima proses pemurnian ini baik dalam waktu singkat maupun cukup lama. Melalui proses pemurnian yang melibatkan jatuh bangun, maka kita akan semakin disadarkan bahwa kita sesungguhnya adalah ciptaan yang lemah, yang rentan untuk berbuat dosa. Namun, kesadaran akan kelemahan kita harus dibarengi dengan kesadaran bahwa Allah mampu untuk menolong kita, karena Dia adalah Allah yang maha kasih dan maha kuasa. Kesadaran ini akan semakin membuat kita menjadi lebih rendah hati dan terus bergantung pada rahmat Allah dalam proses pemurnian ini.

Kerendahan hati bahwa tanpa rahmat Allah kita tidak akan sanggup melawan godaan dan tidak akan sanggup menjaga kemurnian, membuat kita terus mengandalkan rahmat Allah dan terus berusaha untuk bersatu dengan Kristus. Tidak ada persatuan yang lebih indah dan lebih dalam antara kita dengan Kristus di dunia ini, kecuali persatuan dalam Sakramen Ekaristi. Yesus sendiri mengatakan “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yoh 6:56). Oleh karena itu, kalau memungkinkan kita dapat menerima Ekaristi bukan hanya pada waktu hari Minggu, namun beberapa kali dalam seminggu atau setiap hari dalam Misa harian. Yakinlah, bahwa persatuan kita dengan Kristus dalam Ekaristi akan memberikan rahmat yang sungguh indah, yang akan memberikan kekuatan dalam melawan dosa yang telah berakar dalam hati kita. Dengan Kristus sendiri terus bersatu dalam tubuh, darah, dan hati kita, maka Dia akan mencabut akar dosa dalam diri kita. Jika kita jatuh kembali ke dosa tersebut, kita perlu mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan terlebih dahulu, sebelum dapat menerima Komuni kudus. Dengan terhalangnya kita menerima Kristus dalam Komuni kudus (jika kita terjatuh dalam dosa yang sama tersebut), kita diingatkan bahwa ada yang salah pada diri kita, dan untuk itu kita akan semakin terdorong untuk memperbaikinya.
3. Firman Tuhan menjadi pelita kehidupan

Sabda Tuhan mengajarkan, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2Tim 3:16). Dengan semakin mendalami Firman Tuhan, kita akan semakin mengetahui apa yang Tuhan inginkan dalam kehidupan kita. Firman Tuhan dapat menegur dan pada saat yang bersamaan dapat memberikan kekuatan kepada kita untuk terus bertumbuh dalam kekudusan. Kita dapat mengikuti bacaan berdasarkan kalendar liturgi Gereja Katolik, seperti dalam buku: ruah, mutiara iman, dll. Pada tahap awal, kita dapat menggunakan metode lectio divina dalam membaca dan merenungkan Kitab Suci. Silakan melihat penjabaran metode ini di sini – silakan klik.
4. Memupuk kedekatan dengan Tuhan melalui doa

Doa memberikan kekuatan kepada kita, sehingga kita diberikan kemampuan oleh Allah untuk dapat menghadapi godaan-godaan yang terjadi dalam kehidupan kita. Kalau penerimaan Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi dilakukan secara teratur, juga dibarengi doa pribadi yang teratur dan sungguh-sunguh, maka kita akan semakin bersatu dengan Tuhan dalam keseharian dan semakin dapat mengerti apa yang diinginkan Allah dalam kehidupan kita, yaitu menjauhi dosa dan terus bertumbuh dalam kekudusan (lih. 1Tes 4:3). Doa yang terus-menerus juga menjadi salah satu ‘obat’nya. Gereja Katolik menganjurkan agar umatnya dapat melakukan ejaculation prayer, yaitu doa spontan dengan kalimat-kalimat pendek, yang didaraskan sepanjang hari. Jika godaan datang atau di tengah aktivitas sehari-hari, maka kita dapat memanjatkan doa singkat sesering mungkin, seperti: “Yesus, aku mengasihi-Mu”; “Yesus, kasihanilah aku”; dll. Dengan demikian, doa dapat mewarnai hari-hari kita dan menghindarkan kita dari perbuatan dosa.
Berlatih kebajikan kemurnian

Setelah dengan sungguh-sungguh membina hubungan yang baik dengan Tuhan, maka perlulah kita melatih kebajikan yang berlawan dengan kebiasaan buruk tersebut. Jadi, kebiasaan buruk ketidakmurnian harus dilawan dengan kemurnian. Kebiasaan buruk di dalam jiwa kita adalah satu kejahatan (vice). Lawan dari vice ini adalah virtue atau kebajikan – yaitu kebiasaan dari jiwa untuk melakukan hal-hal yang baik. Kebajikan membuat jiwa secara otomatis, siap sedia untuk melakukan kebajikan dengan sukacita. Kebiasaan yang baik di dalam jiwa ini secara perlahan-lahan akan mengikis dan kemudian menghilangkan kebiasaan yang buruk tersebut.

St. Thomas Aquinas mengatakan, “seseorang tidak akan menang dengan menempatkan penahan, sebab semakin seseorang memikirkan tentang hal tersebut, semakin ia akan terpengaruh olehnya. Ia akan menang jika ia lari daripadanya – yaitu dengan menghindari pikiran-pikiran yang cemar itu sepenuhnya dan dengan menghindari semua kesempatan untuk berbuat dosa”[1] St. Yohanes Vianney memberikan tips serupa untuk melaksanakan kemurnian, demikian, “Pertama, waspadalah terhadap apa yang kita lihat, dan apa yang kita pikirkan, kita katakan dan kita lakukan; kedua, berlindunglah pada kekuatan doa; ketiga, seringlah menerima sakramen dengan pantas; keempat, larilah dari apapun yang dapat mencobai kita terhadap dosa ini, kelima, milikilah devosi kepada Perawan Maria yang terberkati. Jika kita melakukan semua ini, maka, tak peduli apapun yang dilakukan oleh musuh-musuh kita (si Jahat), dan tak peduli apakah kebajikan yang kita miliki masih sangat rapuh, namun kita dapat yakin bahwa kita sedang bertahan di dalamnya [dalam kebajikan kemurnian tersebut].”[2].

Jadi, untuk mengembangkan kebajikan kemurnian, selain bertekun dalam doa dan sakramen, serta meminta kepada Tuhan untuk memberikan rahmat-Nya, agar kita dapat menjadi murni di dalam pikiran, perkataan dan perbuatan, maka langkah pertama yang perlu dilakukan adalah untuk menghindari segala kesempatan yang mendorong untuk berbuat dosa ketidakmurnian. Seorang pemabuk yang ingin memperbaiki diri dari kecanduan alkohol, harus membuang seluruh minuman beralkohol di rumah, di kantor, serta menghindari tempat yang menyediakan alkohol, menjauhkan diri dari teman-teman yang mempunyai potensi mengajaknya untuk bermabuk-mabukan. Demikian juga orang yang terbiasa hidup dalam ketidakmurnian, maka dia harus menjauhi segala hal yang dapat membuatnya jatuh kembali. Dia harus berhati-hati bahkan kalau diperlukan menghindari sementara kegiatan untuk berselancar dalam internet, kecuali untuk urusan pekerjaan dan pelajaran sekolah. Dia juga harus menghindari teman-teman yang sering berkata-kata cabul, mengajak berbuat cabul. Dia juga harus menghindari tempat-tempat yang dapat membawanya kembali pada ketidakmurnian, serta menghindari untuk melihat acara-acara tv maupun video yang dapat membangkitkan nafsu-nafsu liar. St. Agustinus mengatakan, “Jangan mengatakan bahwa engkau mempunyai kemurnian pikiran, jika engkau mempunyai mata yang tidak murni, karena mata yang tidak murni adalah pembawa berita dari hati yang tidak murni.”[3]
Komunitas sebagai pendukung

Akhirnya, sementara berusaha bertumbuh dalam kebajikan kemurnian, kita juga harus berjuang untuk bertumbuh dalam iman dan kekudusan. Dalam perjuangan untuk menjadi murni, tidak cukup hanya memfokuskan diri hanya kepada kemurnian tanpa memperhatikan pertumbuhan iman, pengharapan dan kasih secara menyeluruh. Dengan terus melakukan hal-hal yang dapat mengembangkan iman kita, maka kita akan semakin dikuatkan dalam perjuangan kita dalam kemurnian dan aspek-aspek yang lain.

Salah satu cara untuk terus bertumbuh dalam iman, pengharapan dan kasih adalah dengan bergabung dalam komunitas basis yang berfokus pada pengembangan iman – baik kelompok pendalaman Kitab Suci, kelompok belajar Katekismus, persekutuan doa, komunitas di lingkungan masing-masing, dll. Dengan bertumbuh bersama kelompok yang mempunyai anggota yang juga rindu untuk bertumbuh dalam kekudusan, maka kita juga akan semakin dikuatkan. Pada saat kita lemah, mereka juga dapat memberikan semangat dan kekuatan kepada kita.
Bersama Yesus, maka kita dimerdekakan

Seseorang yang terus-menerus melakukan dosa ketidakmurnian dan tidak mempunyai kekuatan untuk berkata “tidak” terhadap dosa telah menjadi hamba dosa, yang sebenarnya tidak bebas lagi. Namun, bersama dengan Yesus, seseorang dapat lepas dari belenggu dosa dan memperoleh kemerdekaan untuk meninggalkan kegelapan dan hidup dalam terang. Kuncinya adalah, terus bekerja dengan rahmat Allah yang mengalir dalam retret dan rekoleksi, doa, Firman dan sakramen-sakramen – terutama Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi. Selanjutnya, karena kita berjalan dalam iman bersama-sama dengan umat Allah yang lain, maka sudah selayaknya kita juga bergabung dalam komunitas untuk saling menguatkan. Kalau semua ini dibarengi dengan keteguhan untuk menghindari kesempatan berbuat dosa serta terus mengembangkan kebajikan kemurnian, maka niscaya, suatu saat kita akan berkata, “Terpujilah Tuhan, sebab Ia telah membebaskanku dari keterikatan dosa ketidakmurnian!”
 
Sumber : katolisitas.org
 
 
 

Interpretasi Why 6


http://3.bp.blogspot.com/-j_rSE_ynBq0/UNxbA1bIqdI/AAAAAAAAADU/VfYiKbR9Uoo/s1600/4h.jpg


Berikut ini adalah interpretasi perikop Why 6:1-17, yang kami sarikan dari sumber utama, Haydock’s Commentary on Holy Scripture:

Para ahli Kitab Suci mempunyai pandangan yang berbeda-beda tentang penafsiran perikop ini, tentang apakah yang harus dimengerti mengenai isi yang dimeteraikan. Ada yang menghubungkannya dengan sejumlah penganiayaan, orang-orang tertentu, ataupun kejadian tertentu.

1-2. Meterai pertama: seorang yang menunggangi kuda putih. Ini dihubungkan dengan ‘Sabda Tuhan’ yang disebutkan juga di bab 19, menunggangi kuda, dan diberi mahkota. Kuda putih melambangkan kemenangan. Ini diartikan sebagai Kristus yang menang mengatasi semua musuh Gereja-Nya (yang dilambangkan dengan ketiga pengendara kuda lainnya). Ia membawa busur panah di tangan-Nya, yaitu ajaran Injil, yang menembus bagaikan anak panah di hati para pendengar-Nya. Mahkota diberikan sebagai tanda kemenangan. Kuda merah melambangkan perang; kuda hitam, bencana kelaparan; dan kuda pucat, wabah penyakit.

3-4: Meterai kedua. Kuda merah melambangkan perang dan penganiayaan. Dapat diartikan sebagai penganiayaan kejam yang dilakukan oleh para kaisar Romawi terhadap agama Kristen, di mana mereka dengan kejam telah membunuh orang-orang yang percaya kepada Kristus.

5-6: Meterai ketiga: Kuda hitam dengan penunggang yang membawa timbangan: sejumlah gandum untuk sedinar (gaji sehari), tiga ukuran jelai juga sedinar, tapi jangan merusakkan minyak dan anggur. Ini menggambarkan hasil dari perang yang dimenangkan: pemenangnya bahkan juga menjadi miskin, dengan hanya gaji sehari, minimal agar dapat bertahan hidup. Maka kuda hitam ini melambangkan musibah kelaparan, seperti yang dialami oleh daerah kekuasaan Romawi sepanjang pemerintahan para kaisar yang melakukan penganiayaan.

7-8: Meterai keempat: Kuda yang pucat, penunggangnya adalah Maut. Ini juga menggambarkan penganiayaan/ perang, dan secara khusus wabah penyakit yang mengikutinya, yang terjadi di empat bagian dunia daerah kekuasaan Romawi. Kuda pucat dan pengendaranya yang diikuti oleh kerajaan maut (neraka) menggambarkan keadaan kematian yang mengenaskan. Ini terjadi pada bangsa Romawi, dan sejarah telah mencatat kenangan tentang hal ini, yang menunjukkan bahwa nubuat Rasul Yohanes tentang hal ini telah tergenapi. Selanjutnya dikatakan bahwa hanya seperempat bumi yang dihancurkan.

9-11: Meterai kelima dan keenam: Doa-doa dari para martir di Surga. Mereka memohon keadilan, mohon agar para musuh Kristus dapat ditundukkan agar semua orang dapat mengakui keadilan Tuhan, dengan adanya hukuman bagi para musuh Kristus dan iman Kristen, dan penghargaan bagi para pelayan-Nya yang setia. St. Hieronimus, dengan ungkapan ‘di bawah altar/ mezbah’, memahami bahwa altar itu adalah gambaran Kristus sendiri dan di bawah-Nya adalah semua martir-Nya yang wafat di bawah Sang Kepala. Demikianlah jiwa para kudus itu hidup di Surga, sementara tubuh mereka disimpan di bawah altar-altar dalam gereja kita.

“Membalaskan darah kami”, yang dimohonkan oleh para orang kudus itu bukanlah kebencian terhadap para musuh mereka, tetapi mereka memohon semangat yang kuat bagi kemuliaan Allah dan kehendak bahwa Allah akan mempercepat Penghakiman Terakhir dan kebahagiaan/ pandangan kepada Allah yang sempurna (beatitude) bagi semua orang pilihan-Nya. Mereka memohon Allah membalas darah mereka bukan melalui kebencian terhadap musuh mereka namun melalui semangat yang besar yang telah mendorong mereka, untuk melihat keadilan Tuhan dinyatakan: agar dengan demikian semua orang dapat didorong untuk bertobat. Demikianlah dalam Kitab Suci kita membaca bagaimana para nabi memohon kepada Allah untuk menjadikan para musuh mereka menjadi bingung untuk menjadikan mereka rendah hati. “Jubah putih” adalah tanda kemurnian para martir tersebut, sebagai jaminan bahwa mereka akan memandang Allah. “Beristirahat sedikit waktu” kemungkinan mereka harus bersitirahat hingga terjadinya hari pembalasan terakhir, ketika jumlah orang-orang yang telah ditentukan untuk kebahagiaan, telah tergenapi. Maka mereka akan semua mengalami penghargaan dan para penganiaya mereka akan tercengang (St. Augustine, Serm. xi. de sanctis; St. Gregory the Great, lib. ii. Moral. cap. iv.).

12-17 Meterai keenam: …. gempa bumi yang besar. Banyak orang berpikir bahwa ini adalah tanda-tanda yang mengerikan, tentang matahari yang berubah menjadi hitam, tidak terjadi hingga zaman antikristus, sesaat sebelum akhir dunia (Mat 14, Luk 21, Yes 13, 34, Yeh 33; Dan 12). Namun sejumlah penafsir menggambarkan keajaiban ini sebagai penghukuman Tuhan yang terlihat, terhadap para kaisar dan penganiaya umat Kristen, sebelum kaisar Romawi Kristen yang pertama, Kaisar Konstantin.

St. Yohanes menggambarkan betapa Allah akan membalas kepada para musuh-Nya. Dapat mengacu kepada zaman Kaisar Konstantin, ketika kita melihat kejayaan agama Kristen yang mengalahkan paganisme, dan setelah kematiannya [Konstantin] dan anak-anaknya, kekaisaran Roma menyerah kepada bangsa barbar. Kota Roma sendiri dijarah, propinsi-propinsi menjadi kacau balau, sehingga keadaan itu sendiri menggambarkan kekacauan akhir zaman, ketika Allah yang Mahakuasa akan membuat para pendosa menerima hukumannya di hadapan semua orang benar.

Rasul Yohanes, seperti para nabi, menggunakan istilah gempa bumi, untuk menandakan dengan keras, kejahatan kekaisaran Roma dan para kaisarnya yang menganiaya. Kota Roma sendiri dipenuhi dengan perang. Para kaisar semua dihancurkan oleh Allah: Maxentius, dibuang ke sungai Tiber, Maximin Jovius melalui penyakit yang mengerikan dan tak tersembuhkan, Maximin Daia, kalah dalam perang, dan akhirnya mengidap penyakit aneh, seluruh perutnya hancur, ia kehilangan matanya, wafat seperti tengkorak. Licinius, dipukul, dan digantung. Demikian pula Maximian, yang menggantung diri di Marseilles, tempat ia dikurung.

14. Dalam kebingungan yang dahsyat yang terjadi dalam kekaisaran Romawi, di zaman Konstantin, begitu besarlah revolusi yang terjadi, sehingga gunung-gunung dan pulau-pulau seolah nampak bergeser dari tempat mereka. Dalam waktu 9 tahun itu (305-314) tujuh orang menginginkan untuk naik tahta, Maximin Galerius, Maxentius, Severus C├Žsar, Maximin, Alexander, Maximin Hercules, dan Licinius. Keenam orang tersebut, dari Galerius sampai Hercules, wafat dalam jangka waktu 9 tahun (305-314), dan Licinius wafat dengan digantung tahun 324. Mereka semua adalah yang memusuhi agama Kristen. Kaisar Konstantin yang mendukung agama Kristen, dapat bertahan menguasai kerajaannya.

Dengan demikian, tanda-tanda tersebut (gempa, matahari yang menjadi hitam, dst) memang dapat dianggap sebagai ungkapan akhir zaman (lih. Hag 2:6; Nah 1:6, Mal 3:2; Luk 21:36; Yl 2:30-31, Kis 2:29, Yes 34:4, Mat 24:29, Mrk 13:24; Luk 21:35), walaupun juga dapat dikatakan bahwa dalam keadaan kekacauan yang digambarkan di sana sudah tergenapi pada masa kejatuhan kerajaan Romawi. Ungkapan tersebut juga dipergunakan selama berabad-abad untuk menggambarkan kematian bagi sejumlah orang penting di kalangan Yahudi. Demikian pula, kekacauan-kekacauan kosmik dalam Perjanjian Lama juga menggambarkan pemberontakan sosial, yang mengawali akhir dunia atau keteraturan sosial. Maka ungkapan yang menggambarkan berbagai kekacauan yang tercatat dalam kitab Wahyu, memang mempunyai makna ganda/ lebih dari satu. Ini menunjukkan betapa kayanya pesan yang ingin disampaikan dalam Kitab Suci, yang intinya mau mengingatkan kita untuk bertahan dalam iman sampai akhir, sebab pada akhirnya kelak, keadilan Tuhan akan menang. Yang jahat akan dihukum dan yang benar akan memperoleh penghargaan dan kebahagiaan kekal.
 
sumber : katolisitas.org

Selasa, 07 Januari 2014

Diangkat ke Surga Tanpa Melalui Kematian



1. Bunda Maria


Munificentissimus Deus

Dalam pembukaan Munificentissimus Deus (MD, 3) yang menyatakan dogma Bunda Maria diangkat ke Surga, Bapa Paus Pius XII mengatakan bahwa dalam sejarah keselamatan, Bunda Maria mengambil tempat istimewa dan unik. Ini mengacu pada ayat Gal 4:4, di mana dikatakan, “…Setelah genap waktunya”, bahwa dalam pemenuhan rencana keselamatan Allah ini, Allah dengan keMahakuasaan-Nya memberikan hak-hak istimewa kepada Bunda Maria, agar nyatalah segala kemurahan hati-Nya yang dinyatakan kepada Bunda Maria, dalam keseimbangan yang sempurna.

Maka bahwa jika untuk melahirkan Yesus, Bunda Maria disucikan dan dikandung tanpa noda dosa, dan selama hidupnya tidak berdosa (karena tidak seperti manusia lainnya, ia tidak mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa/ concupiscentia), maka selanjutnya, adalah setelah wafatnya, Tuhan tidak akan membiarkan tubuhnya terurai menjadi debu, karena penguraian menjadi debu ini adalah konsekuensi dari dosa manusia.

Demikian pula dengan pengajaran bahwa Bunda Maria adalah Tabut Perjanjian Baru, karena dengan mengandung Yesus ia menjadi tempat kediaman Sabda Allah yang menjadi manusia, Sang Roti Hidup [kontraskan dengan tabut Perjanjian Lama yang isinya kitab Taurat Musa dan roti manna], maka Bunda Maria mengalami persatuan dengan Yesus. Mzm 132:8, mengatakan, “Bangunlah ya Tuhan, dan pergilah ketempat perhentian-Mu, Engkau beserta tabut kekuatan-Mu.” Dan dalam Perjanjian Baru tabut ini adalah Bunda Maria. Bunda Maria-lah juga yang disebut sebagai ‘permaisuri berpakaian emas dari Ofir (Mzm 45: 10,14). Hal ini sejalan dengan penglihatan Rasul Yohanes dalam kitab Wahyu 12, dan tentu, Luk 1:28, 42 “Hail, full of grace, the Lord is with you, blessed are you among women.” (Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau, diberkatilah engkau di antara semua perempuan) [lihat MD 26, 27]

Bahwa pengangkatan Bunda Maria ke surga merupakan pemenuhan janji Allah bahwa seorang perempuan (Maria) yang keturunannya (Yesus) akan menghancurkan Iblis [dan kuasanya, yaitu maut] (lihat Kej 3:15); dan bahwa pengangkatan ini merupakan kemenangan atas dosa dan maut (lihat Rom 5-6, 1 Kor 15:21-26; 54-57), di mana kematian akan ditelan dalam kemenangan (1 Kor 15:54).

Nubuat Simeon tentang Bunda Maria juga menunjukkan jalan kehidupan Bunda Maria, yang melalui penderitaan, dan bahwa suatu pedang akan menembus jiwanya (Luk 2:35) dan ini terpenuhi dengan penderitaannya melihat Yesus Puteranya disiksa sampai wafat di hadapan matanya sendiri. Penderitaan tak terlukiskan ini mempersatukannya dengan Kristus, dan karenanya layaklah ia menerima janji yang disebutkan oleh Rasul Paulus, “… jika kita menderita bersama-sama dengan Dia…kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (Rom 8:17). Dan karena Bunda Maria adalah yang pertama menderita bersama Yesus dengan sempurna, maka layaklah bahwa Tuhan Yesus memenuhi janji-Nya ini dengan mengangkat Bunda Maria dengan sempurna, tubuh dan jiwa ke dalam kemuliaan surga, segera setelah wafat-Nya.

Namun dasar yang kuat dari pengangkatan Bunda Maria ke Surga adalah karena Maria adalah Bunda Allah (lih. MD 6,14,21,22,25). Sebab “kemuliaan seseorang terletak dalam menghormati bapanya, dan malu anak ialah ibu ternista” (Sir 3:11). Maka fakta bahwa Kristus mengasihi Bunda-Nya Maria, dan mempersatukannya di dalam misteri kehidupan-Nya, menjadikannya layak bahwa perempuan yang diciptakannya tidak bernoda dan perawan yang dipilih-Nya untuk menjadi ibu-Nya, menjadi seperti Dia, menang dengan jaya atas kematian melalui pengangkatannya ke surga sebagaimana Kristus telah menang atas dosa dan maut melalui Kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Surga.

Perlu kita ketahui bahwa Bunda Maria ‘diangkat’ ke surga, dan bukan ‘naik’ ke surga. ‘Diangkat’ berarti bukan karena kekuatannya sendiri melainkan diangkat oleh kuasa Allah, sedangkan Yesus ‘naik’ ke surga oleh kekuatan-Nya sendiri. Bagi orang Katolik, peristiwa Bunda Maria diangkat ke surga adalah peringatan akan pengharapan kita akan kebangkitan badan di akhir zaman, di mana kita sebagai orang beriman, jika hidup setia dan taat kepada Allah sampai akhir, maka kitapun akan mengalami apa yang dijanjikan Tuhan itu: bahwa kita akan diangkat ke surga, tubuh dan jiwa untuk nanti bersatu dengan Dia dalam kemuliaan surgawi. Maka, Dogma Maria diangkat ke surga, bukan semata-mata doktrin untuk menghormati Maria, tetapi doktrin itu mau menunjukkan bahwa Maria adalah anggota Gereja yang pertama yang diangkat ke surga. Jika kita hidup setia melakukan perintah Allah dan bersatu dengan Kristus, seperti Bunda Maria, kitapun pada saat akhir jaman nanti akan diangkat ke surga, jiwa dan badan, seperti dia.

Dengan diangkatnya Bunda Maria ke surga, maka ia yang telah bersatu dengan Yesus akan menyertai kita yang masih berziarah di dunia ini dengan doa-doanya. Karena berpegang bahwa doa orang benar besar kuasanya (Yak 5:16), maka betapa besarlah kuasa doa Bunda Maria yang telah dibenarkan oleh Allah, dengan diangkatnya ke surga.

 
2. Henokh

Kejadian 5 : 21-24 mengisahkan terjadinya pengangkatan Henokh ke surga oleh Allah, Henokh seorang yang hidup bergaul (hidup dalam persekutuan atau hidup akrab) dengan Allah dan mencapai usia 365 tahun, kemudian dia diangkat ke surga oleh Allah tanpa kematian sehingga ia tidak mengalami peristiwa air bah pada zaman Nuh.

5:21. Setelah Henokh hidup enam puluh lima tahun, ia memperanakkan Metusalah.

5:22 Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi, setelah ia memperanakkan Metusalah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan.

5:23 Jadi Henokh mencapai umur tiga ratus enam puluh lima tahun.

5:24 Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.

Dalam Ibrani 11:5, penulis kitab Ibrani meneguhkan mengenai kebenaran bahwa Henokh diangkat ke surga oleh Allah tanpa mengalami kematian. Dan tidak ada orang yang menemukan tubuh atau mayatnya, karena ia tidak mengalami kematian secara fisik.

11:5 Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah.


3. Elia

2 Raja-Raja 2: 3-11 mengisahkan terjadinya pengangkatan Nabi Elia yang unik yaitu diangkat ke surga dengan menaiki kereta berapi dengan kuda berapi dalam angin badai. Bahkan para nabi dari Yerikho yang bersama dengan Elisa, saking penasarannya, ingin mencari mayat Elia karena berpikir mungkin Roh TUHAN atau Roh Kudus mengankat Elia dan mungkin melemparkan tubuhnya ke salah satu gunung atau lembah. Namun kita tahu bahwa akhirnya mereka gagal menemukan Elia, padahal sebelumnya mereka sudah diperingatkan Elisa untuk tidak usah susah-susah mencari mayat Elia, karena ia yakin Elia terangkat ke surga bersama tubuh fisiknya.

2:3 Pada waktu itu keluarlah rombongan nabi yang ada di Betel mendapatkan Elisa, lalu berkatalah mereka kepadanya: “Sudahkah engkau tahu, bahwa pada hari ini tuanmu akan diambil dari padamu oleh TUHAN terangkat ke sorga?” Jawabnya: “Aku juga tahu, diamlah!”

2:5 Pada waktu itu mendekatlah rombongan nabi yang ada di Yerikho kepada Elisa serta berkata kepadanya: “Sudahkah engkau tahu, bahwa pada hari ini tuanmu akan diambil dari padamu oleh TUHAN terangkat ke sorga?” Jawabnya: “Aku juga tahu, diamlah!”

2:9. Dan sesudah mereka sampai di seberang, berkatalah Elia kepada Elisa: “Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu, sebelum aku terangkat dari padamu.” Jawab Elisa: “Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu.”

2:10 Berkatalah Elia: “Yang kauminta itu adalah sukar. Tetapi jika engkau dapat melihat aku terangkat dari padamu, akan terjadilah kepadamu seperti yang demikian, dan jika tidak, tidak akan terjadi.”

2:11 Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai.


Sumber : Katolisitas.org, dedewijaya.wordpress.com